aliran syiah ulama syiah irak muqtada al-sadr
Ulama Syiah Irak Muqtada Al-Sadr. Sumber foto: www.voaindonesia.com

Aliran-aliran Syiah dan Ajaran-ajarannya

Posted on

Aliran-aliran Syiah dan Ajaran-ajarannya – Syi’ah secara kebahasaan berarti pengikut, pendukung, pembela, pencinta, yang kesemuanya mengarah kepada makna dukungan kepada idea tau individu dan kelompok tertentu (Shihab. 2014: 60). Asy-Syahrastany (dalam Siradj, 1998: 45) menegaskan bahwa Syi’ah adalah mereka yang mengikuti Ali secara khusus dengan menempatkan “kepemimpinan” (imamah) dan “kekhalifahan” (khilafah) secara tekstual dan wasiat tidak terlepas dari keturunan Ali. Sedangkan Maghniyah (1962: 14) mendefinisikan Syi’ah sebagai kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw. telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah (pengganti) beliau dengan menunjuk Ali kw. Sejalan dengan Maghniyah, Jurjani (1991: 142) mendefinisikan Syi’ah sebagai mereka yang mengikuti Sayyidina Ali ra. dan percaya bahwa beliau adalah Imam setelah Rasul saw. dan percaya bahwa imamah tidak keluar dari beliau dan keturunannya.

Syaikh Abdul Halim, dengan merujuk al-Ghitha’ (dalam Shihab, 2014: 54) berpendapat bahwa perbedaan utama antara aliran Syiah dan kelompok-kelompok Islam yang lain adalah dalam masalah imamah (kepemimpinan spiritual para imam). Ini adalah perbedaan prinsipil, sedang perbedaan lainnya hanya sepintas dan tidak prinsipil.

Para penulis sejarah banyak berbeda pendapat tentang sejarah awal kemunculan aliran Syiah. Pertama, Al-Ghitha’ (1958: 87) berpendapat bahwa aliran Syiah sudah muncul sejak Rasulullah saw. masih hidup. Kedua, Al-Laitsi (1978: 25) menganggap bahwa aliran Syiah baru muncul setelah wafatnya Rasulullah saw. Ketiga, Al-Nadim (1988: 223). Ia berpendapat bahwa aliran Syiah baru muncul pada masa khalifah Utsman ra. Keempat, Al-Baghdadi (dalam Siradj, 1998: 45). Ia memiliki pendapat bahwa aliran Syiah baru muncul pasaca-arbitrase dan terbunuhnya Ali kw. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa aliran Syiah baru lahir usai terbunuhnya Husain ibn Ali di Padang Karbala (dalam Al-Laitsi, 1978: 25-26).

Sedangkan, menurut Siradj (1998: 45-46) munculnya Syi’ah secara etimologi ada semenjak Nabi Muhammad saw. masih hidup. Pada masa itu banyak sahabat yang simpati pada Ali. Kelompok ini semakin nampak setelah Ali tidak mau bai’at terhadap Abu Bakar. Terlebih pada saat tidak stabilnya kondisi politik yang melanda akhir masa jabatan Utsman, Ali benar-benar menjadi idola mereka sebagai khalifah. Kelompok ini turut serta membela Ali di medan pertempuran Perang Jamal dan Shiffin. Baru setelah Ali wafat, mereka menjadi gerakan oposisi melawan Mu’awiyah. Meskipun saat itu hanya sebatas gerakan bawah tanah dan sporadis.

aliran syiah Ayatollah Ali Khomeini
Ayatollah Ali Khomeini. Sumber foto: http://jateng.tribunnews.com

Puncak perkembangan tasyayu’ (mencinta, membela, mengikuti serta mendukung Ali) adalah saat pembantaian Husain beserta keluarganya di Padang Karbala. Saat itu, Syi’ah benar-benar menjadi partai oposisi. Akhirnya, Syi’ah mendapat legitimasi menjadi suatu mazhab dalam islam pada masa Imam Ja’far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain, Imam ke-6 Syi’ah (A-Nasyar, 1977: 59-60).



Syaikh Abdul Halim Mahmud memberikan alasan kenapa Syi’ah masuk ke dalam kelompok partai politik ialah karena kenyataan yang menunjukkan bahwa Zaid bin ‘Ali yang merupakan Imam Syi’ah Zaidiyah, berguru dalam persoalan ushul (prinsip-prinsip ajaran agama) pada tokoh pendiri aliran Mu’tazilah, yakni Washil bin ‘Atha’. Dengan begitu, Syi’ah Zaidiyah adalah Syi’ah dari segi partai politik dan Mu’tazilah dalam segi kelompok keagamaan (dalam Shihab, 2014: 53-55).

Aliran Syiah sendiri, sebenarnya terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang hampir tidak terhitung jumlahnya. Akan tetapi, menurut al-Baghdadi (dalam Shihab, 2014: 69-70), secara umum aliran Syiah terbagi menjadi empat kelompok yang masing-masing dari keempatnya terbagi lagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Dari empat kelompok itu, menurut al-Baghdadi, hanya dua yang masuk dalam golongan umat Islam, yakni Syiah Zaidiyah dan Imamiyah. Sedang yang menurutnya tidak termasuk dalam Islam ialah Syiah Ghulat (ekstrimis) dan Syiah Ismailiyah dan cabang-cabangnya.

1. Aliran Syiah Pertama : Syiah Zaidiyah

Zaidiyah adalah kelompok Syi’ah pengikut Zaid bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib ra. Zaid dilahirkan pada 80 H dan terbunuh pada 122 H. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat taat beribadah, berpengetahuan luas sekaligus revolusioner. Sifatnya ialah konsekuensi logis dari keadaan saat ia dilahirkan, di mana kondisi saat itu dipenuhi oleh ketidakadilan rezim Bani Umayah (Shihab, 2014: 78).

Usai tragedi Karbala, menurut Shihab (2014: 79-81) terbunuhnya Husain, putra Ali beserta keluarganya menyebabkan Syi’ah terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang memilih bertindak revolusioner dan melakukan terhadap pemimpin yang zalim, ada juga yang berdiam diri menyerahkan semua persoalan kepada Allah semata. Sikap yang pertama menjadi landasan utama berdirinya Syi’ah Zaidiyah, melakukan perlawanan terhadap penguasa yang aniaya. Akan tetapi, Syi’ah Zaidiyah menetapkan bahwa imamah dapat diemban oleh siapa pun yang memiliki garis keturunan sampai dengan Fathimah, putrid Rasulullah, baik dari keturunan Hasan maupun Husain, selama yang bersangkutan memiliki kemampuan keilmuan, adil, dan berani mengangkat senjata melawan kezaliman. Syarat keberanian mengangkat senjata melawan kezaliman inilah yang membedakannya dengan kelompok Syi’ah yang lain.

Meskipun berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sahabat Nabi yang termulia, bahkan melebihi Abu Bakar, Umar, dan Utsman, akan tetapi mereka tetap mengakui ketiganya sebagai khalifah yang sah dan enggan menyalahkan, mencaci, apalagi mengutuk, maka dari itu mereka disebut ar-Rafidhah. Sedangkan dalam menetapkan hukum, mereka menggunakan al-Qur’an, Sunnah dan nalar. Mereka tidak membatasi penerimaan hadits dari keluarga Nabi semata, namun mengandalkan juga riwayat-riwayat dari sahabat-sahabat Nabi yang lain (Shubhi, 1984: 65).



Syi’ah Zaidiyah ini dinilai paling dekat dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Muhammad ‘Imarah (dalam Shihab, 2014: 82-83) dengan menukil dari buku Nashruddin ath-Thusy yang berjudul Takhish Muhassal Afkar al-Mutaqaddimin wa al-Mutaakhkhirin, menyatakan bahwa Syi’ah Zaidiyah menganut paham Mu’tazilah dalam bidang prinsip ajaran agama (akidah). Sedangkan dalam hukum, mereka sejalan dengan pandangan Mazhab Abu Hanifah dan sedikit Mazhab Syafi’i. Beberapa pakar menyatakan bahwa Syi’ah Zaidiyah terpecah menjadi beberapa kelompok kecil lagi. Ada yang berpendapat terpecah hingga belasan, ada juga yang membatasinya hanya tiga, yakni al-Jarudiyah, as-Sulaimaniyah, dan ash-Shalihiyah.

aliran syiah ulama syiah irak muqtada al-sadr
Ulama Syiah Irak Muqtada Al-Sadr. Sumber foto: www.voaindonesia.com

2. Aliran Syiah Kedua : Syiah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah)

Syi’ah Imamiyah disebut juga Itsna ‘Asyariyah atau Imamiyah atau Ja’fariyah. Mereka adalah kelompok Syi’ah yang percaya akan adanya dua belas imam yang kesemuanya merupakan keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah, putrid Rasul saw. Kelompok ini merupakan mayoritas penduduk Iran, Irak, serta di beberapa daerah di Suriah, Kuwait, Bahrain, India, Saudi Arabia dan beberapa daerah bekas Uni Soviet. Kelompok inilah yang menjadi mayoritas di antara kelompok Syi’ah lainnya (Shihab, 2014: 83).

3. Aliran Syiah Ketiga: Syiah Ghulat.

Menurut Shihab (2014: 70), kelompok Syi’ah Ghulat atau ekstrimis hampir dapat dikatakan sudah punah. Kalaupun belum punah, maka kemungkinan besar pengikutnya amat sedikit dan tidak lagi memiliki peranan atau pengaruh yang besar. Kelompok ini terbagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, As-Sabaiyah. Menurut Asy-Syahrastany (dalam Shihab, 2014: 71-73) mereka adalah pengikut-pengikut Abdullah bin Saba’. Dialah yang mempopulerkan keyakinan bahwa Sayyidina Ali ra. memiliki tetesan ketuhanan yang menjelma melalui awan, sedang guntur adalah suaranya dan kilat ialah senyumnya. Ia –Ali—diyakini akan turun kembali untuk menegakkan keadilan dengan sempurna. Kedua, al-Khaththabiyah. Kelompok ini menganut aliran Abu al-Khaththab al-Asady yang menyatakan bahwa Imam Ja’far as-Shadiq dan leluhurnya adalah Tuhan. Padahal, Imam Ja’far sendiri mengingkari bahkan mengutuknya. Karena sikan Imam Ja’far yang begitu keras itu, Abu al-Khaththab mengangkat dirinya sendiri sebagai imam. Ia mengatakan bahwa para Nabi ialah Tuhan dan Imam Ja’far beserta leluhurnya ialah Tuhan pula. Al-Khaththabiyah sendiri terbagi menjadi beberapa kelompok. Sebagian diantaranya ada yang mengakui bahwa dunia itu kekal, tidak akan binasa, surga adalah kenikmatan duniawi, dan bahkan ada yang tidak mewajibkan shalat dan membolehkan minuman keras.


4. Aliran Syiah Keempat: Syiah al-Ghurabiyah

Cabang dari kelompok ini, antara lain, percaya bahwa sebenarnya Allah mengutus Jibril kepada Ali bin Abi Thalib tetapi akan tetapi keliru bahkan berkhianat sehingga menyampaikan wahyu pada Nabi. Oleh karena itulah mereka mengutuk malaikat Jibril.  Keempat, al-Qaramithah. Kelompok ini ditujukan untuk pengikut Hamdan Ibn al-Asy’ast yang dikenal dengan gelar Qirmith (si Pendek). Menurut Shihab (2014: 72) keyakinan mereka sangat sesat dan ekstrem. Antara lain, mereka menyatakan bahwa Sayyidina Ali adalah Tuhan, bahwa setiap teks mempunyai makna lahir dan batin, dan yang terpenting ialah makna batinnya. Mereka menganjurkan kebebasan seks serta kepemilikan wanita dan harta secara bersama dengan dalih mempererat hubungan kasih sayang. Mereka juga membatalkan kewajiban shalat dan puasa. Inilah yang menjadikan kelompok induk mereka, Syi’ah Ismailiyah, mengutuk mereka. Kelompok ini pernah berkuasa di Bahrain dan Yaman, bahkan mereka sempat menyerbu Mekkah di bawah pimpinan Abu Thaher al-Qurmuthy pada 930 H. Saat itu mereka mengaiaya jamaah haji karena menganggap bahwa haji adalah sisa-sisa praktik Jahiliah, thawaf dan menghormati/mencium Hajar al-Aswad adalah syirik, dan karena itu mereka sempat merampas Hajar al-Aswad. Cabang dari Syi’ah Ghulat sendiri sebenarnya masih banyak lagi dan bisa mencapai puluhan dengan aneka cabang dan pecahannya. Diantaranya ialah al-Manshuriyah, an-Nuhaiziyah, al-Kayyaliyah, al-Kaisaniyah dlsb.

5. Aliran Syiah Kelima: Syiah Ismailiyah

Kelompok Syi’ah ini tersebar dalam kelompok minoritas di berbagai negara seperti Afghanistan, India, Pakistan, Suriah, Yaman, beberapa negara Barat seper Inggris dan Amerika Utara. Syi’ah Ismailiyah meyakini bahwa Ismail, putra ja’far ash-Shadiq ialah imam yang menggantikan ayahnya. Syi’ah Ismailiyah disebut juga Syi’ah Sabi’ah (Syi’ah Tujuh) karena percaya tujuh orang imam sejak Sayyidina Ali ra. dan berakhir pada Muhammad, putra Ismail bin Ja’far ash-Shadiq. Mereka juga disebut al-Bathiniyah karena percaya bahwa al-Qur’an dan Sunnah punya makna lahir dan batin. Makna lahir ialah kulit, sedang intinya adalah makna batin. Kelompok ini pernah berkuasa di Mesir, bahkan mendirikan Dar al-Hikmah dan al-Azhar (Shihab, 2014: 73-75).



Namun, kelompok ini pun akhirnya terpecah, terutama setelah kematian al-Hakim. Kini, kelompok yang masih setia pada al-Hakim (411 H/1021 M) menetap di Lebanon. Kelompok ini percaya bahwa al-Hakim bin Amrillah adalah Tuhan. Menurut mereka, hakikat ketuhanannya tidak dapat dijangkau nalar dan indra. Setelah kematian al-Muntashir (487 H/1094 M)  perpecahan Ismailiyah semakin parah. Ada yang mendukung putra pertama al-Muntashir, Nizar dan ada pula yang mendukung adik lelaki Nizar, al-Musta’ly. Pendukung Nizar (Syi’ah Ismailiyah Nizary banyak bermukim di Iran dan beberapa bagian di Suriah. Sedangkan pendukung al-Musta’ly (Syi’ah Ismailiyah Musta’ly bermukim di Mesir, Yaman, dan beberapa wilayah India. Hingga kini, penganut Syi’ah Ismailiyah Musta’ly banyak bermukim di Gujarat, Maharashtra, serta di sekian kota besar di India dan Pakistan.

Jadi ketika membicarakan Syiah, jangan main pukul rata dengan tuduhan bahwa Syiah itu sesat, bukan islam dan lain sebagainya. Sebab, aliran Syiah sendiri terbagi menjadi beberapa kelompok seperti yang disebutkan di atas.

 

Semoga bermanfaat

 

(Sajadah.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *