angkringan
Sumber foto: http://www.bukausahayuk.com

Angkringan dari Masa ke Masa

Posted on

Angkringan dan Yogyakarta, barangkali, seperti Menara Eiffel dan Paris. Keduanya seakan tak bisa dipisahkan sebagai identitas yang saling melekat. “Belum ke Jogja kalau belum mencoba makan di Angkringan,” begitu kata orang-orang. Pedagang warung satu ini pun seakan senantiasa menjamur dan tidak pernah habis. Di sudut-sudut kota Yogyakarta hingga di desa-desa, pedagang warung satu ini selalu saja bisa dijumpai dengan mudah.

angkringan
Sumber foto: http://www.bukausahayuk.com

Berdasarkan catatan, angkringan di Yogyakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten, bernama Mbah Pairo. Alkisah, sekitar tahun 1950-an, karena tidak memiliki lahan pertanian untuk menyambung hidup di desa, Mbah Pairo mengadu nasib ke Yogyakarta. Berbekal bakul yang digendong, ia membawa dagangannya mengitari jalan-jalan di Yogyakarta. Lambat laun, pembelinya pun bertambah. Mbah Pairo yang semula berdagang keliling akhirnya menetap di satu tempat. Kesuksesan Mbah Pairo pun mengundang ketertarikan masyarakat untuk berjualan seperti dirinya. Pedagang warung satu ini pun menjamur. Hingga saat ini kita dapat menjumpai warung satu ini di hampir setiap sudut Yogyakarta. Di daerah lain, warung makan satu ini juga dikenal dengan nama warung Hik.

Baca Juga : Blue Lagoon van Jogja: Oase di Tepi Kebisingan Kota

Hingga saat ini, belum ada catatan rinci tentang berapa jumlah pedagang angkringan di Yogyakarta. Namun, melihat pertumbuhan warung satu ini yang tak kunjung surut, bisa dibilang usaha ini cukup menjanjikan. Pada sebuah penelitian yang diadakan pada tahun 2012 saja, penghasilan pedagang tempat makan satu ini bisa dibilang cukup stabil. Pendapatan rata-rata pedagang warung satu ini dalam sebulan berkisar antara Rp 600.000 hingga Rp 3.450.000.

Selain itu, modal yang dibutuhkan untuk membuka usaha angkringan juga tidak terlalu besar.  Menurut Aris Marfai (2005), Dengan harga gerobak berkisar Rp 750.000,00 sampai dengan Rp 1.000.000,00 dan ditambah modal peralatan lainnya yang bisa mencapai Rp. 100.000,00 sampai dengan Rp 200.000,00 serta modal awal untuk kulakan makanan sebesar Rp 250.000,00 sampai dengan Rp 300.000,00 seseorang sudah bisa mendirikan warung satu ini.

Baca Juga : Kedung Pengilon Yogyakarta, Wisata Alam Nan Asri

Bagi sebagian warga, makan di warung satu ini juga seakan menjadi rutinitas sosial. Budaya “ngangkring”  kerap diasosiasikan dengan aktivitas berkumpul dan membicarakan berbagai hal.

Tak ayal, di antara sekian banyak angkringan di Yogyakarta, hanya terdapat beberapa tempat saja yang “legendaries” serta menjadi tempat makan dan bercengkerama favorit bagi warga Yogyakarta maupun wisatawan. Jogjanesia kali ini akan menyajikan beberapa Angkringan yang “nge-Hits” di Yogyakarta.

  • Angkringan KR

Namanya ini diambil dari nama lokasinya. Angkringan ini terletak di depan kantor Koran Kedaulatan Rakyat (KR) yang menjadi bacaan utama bagi warga Yogyakarta. Tak seperti tempat lainnya yang menyediakan beberapa macam menu, angkringan KR menjajakan lebih dari 20 jenis makanan, mulai dari nasi kucing dengan beragam lauk seperti sambal teri, oseng tempe, oseng ati, oseng jamur, mercon jamur, sambal tomat, hingga beraneka sate dan makanan ringan lainnya.

  • Angkringan Lek Man

Angkringan ini dikenal dengan sajian menu andalannya yang legendaries: Kopi Joss. Ya, di di sini, anda bisa mendapatan kopi eksotis khas Yogyakarta itu. Secangkir kopi jawa yang disajikan dengan arang yang masih merah menyala. Menu makanannya pun tak kalah dengan tempat lainnya, yaitu nasi kucing berisi oseng teme dan sambal teri juga, aneka gorengan dan sate.

  • Angkringan Wijilan

Meskipun lebih dikenal sebagai pusat jajanan Gudeg di Yogyakarta, daerah wijilan juga memiliki angkringan yang tak pernah sepi dari pengunjung. Pemilik warung, Kang Harjo, bahkan harus membuat warungnya ini menjadi dua lantai agar bisa menampung para pengunjungnya.



  • Angkringan Kelebengan

Angkringan ini bisa dibilang menjadi favorit mahasiswa. Letaknya bisa dibilang sangat strategis, yakni di depan lapangan Klebengan, Bulaksumur. Lokasi ini berdekatan dengan kampus UGM dan UNY, serta tak begitu jauh dari kampus Sanatha Dharma. Menu khas tempat makan satu ini adalah gorengan dan sate yang dibakar dengan dilumuri kecap manis. Tapi, yang membuat ia digandrungi mahasiswa tentu karena harganya yang relatif sangat murah, bahkan bisa dibilang salah satu tempat makan termurah di Yogyakarta.

Bagaimana? Anda sudah pernah ke Yogyakarta dan menjajal warung satu ini? Tentu tidak lengkap rasanya apabila anda ke Yogyakarta dan belum menyempatkan ke warung yang ada di setiap sudut kota Yogyakarta ini.

(Ibnu Hajjar A)

Sumber : Majalah Kagama Edisi Agustus 2016

(sajadah.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *