bahan pupuk kompos
pixabay.com

Bahan-bahan yang Dapat Dijadikan Pupuk Kompos yang Harus Anda Ketahui

Posted on

Alam Indonesia yang subur menyediakan banyak sekali bahan-bahan yang dapat dijadikan pupuk kompos. Lalu, apa saja bahan-bahan yang dapat dijadikan pupuk kompos tersebut?

Bahan-bahan yang Dapat Dijadikan Pupuk Kompos – Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah telah menyediakan berbagai macam bahan makanan untuk masyarakatnya. Tak hanya itu, alam Indonesia yang subur juga menyediakan banyak sekali bahan-bahan yang dapat dijadikan pupuk kompos. Lalu, apa saja bahan-bahan yang dapat dijadikan pupuk kompos tersebut? Berikut sajadah.co rangkumkan bahan-bahan yang dapat dijadikan pupuk kompos.

Limbah Tanaman Sebagai Bahan Pupuk Kompos

  1. Jerami padi

Jerami padi merupakan sisa tanaman yang banyak dihasilkan di Indonesia, karena Indonesia merupakan daerah tropis dan menjadikan beras sebagai makanan pokok di sebagian besar wilayah di Indonesia. Hingga saat ini petani padi masih minim memanfaatkan jerami padi menjadi bahan baku kompos, mereka lebih sering membakarnya dan menjadikannya pupuk. Jerami padi merupakan bagian terbanyak yang dihasilkan tanaman padi. Jerami padi terdiri dari batang, daun dan merang.

Semakin bertambahnya penduduk, petani dituntut untuk lebih meningkatkan produktivitas. Satu dari beberapa faktor yang mendukung dalam meningkatkan produktivitas adalah pemupukan.Pemupukan tanaman padi yang menggunakan pupuk kimia secara berkelanjutan menjadikan unsur hara tanah kian menjadi berkurang. Dengan demikian petani perlu menggunakan pupuk organik demi keberlanjutan kesuburan tanah. Para petani dapat menggunakan jerami padi sehabis panen sebagai bahan utama pupuk kompos. Dengan demikian petani dapat meminimalisir limbah tanaman serta dapat memproduksi pupuk secara mandiri. Namun, hingga saat ini petani padi masih minim memanfaatkan jerami padi menjadi bahan baku kompos, mereka lebih sering membakarnya kemudian menjadikannya pupuk. Padahal pembakaran jerami padi yang dilakukan akan menghilangkan unsur C dan S, dan jika dilakukan secara terus menerus akan menimpulkan pencemaran lingkungan.

Baca Juga :

  • Mengenal Lebih Jauh tentang Pupuk Kompos DISINI

  • Mengapa Harus Pupuk Kompos? Apa Manfaat dan Kegunaan Kompos? DISINI

  • Bahan Baku Pupuk Kompos Terlengkap DISINI

Jerami padi merupakan bagian terbanyak yang dihasilkan tanaman padi. Jerami padi terdiri dari batang, daun dan merang. Jerami padi mempunyai C/N 50:70.Jerami padi memiliki dinding sel yang terdiri dari 39.7 % selulosa dalam berat kering, 25,2% hemiselulosa, dan 4,8% lignin (Rexen et al. 1976 dalam panagan. 2003 dalam Mulyadi. 2008: 22). Pada sekam padi mengandung mineral silika (SiO2) sebesar 23.96% (Sardi, 2006 dalam Mulyadi. 2009:22) dan pada bagian jerami mengandung 4-9% silika.

 

Sifat Kimia Sereal (%) Jerami padi (%) Kayu keras (%)
Selulosa

Hemiselulosa

Lignin

Abu

Silika

45-55

26-32

16-21

2-9

2-8

43-49

23-28

12-16

15-20

9-4

57

23

25

1

0.5

Gambar:Komposisi Kimia Sereal dan Jerami Padi serta Kayu Keras
Sumber:(www.Fiberfutures.org dalam Indriyati, 2006).

 

Bahan C-Organik N % P % K % C/N
Jerami Padi 20.02 0.75 0.12 0.69 23.69

Gambar: Kandungan Unsur Hara Kompos yang berasal dari Jerami Padi

Sumber: (Surtinah,2013:20)

bahan pupuk kompos
pixabay.com

Gambar: Jerami padi merupakan salah satu bahan baku pembuatan pupuk kompos

  1. Sampah sayuran




Sampah sayuran dapat diperoleh dari pasar dan perumahan. Sampah pasar atau perumahan, pada awalnya di pisahkan antara yang organik dan anorganik. Sampah anorganik seperti : kertas, alumunium, kaca, dan lain-lain, yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan daur ulang. Sedangkan sampah organik dapat berupa sayuran, buah-buahan, serta sisa makanan, namun belum dikelola lebih lanjut. Padahal sampah sayuran biasanya terdiri dari bahan-bahan yang memiliki kandungan air yang cukup banyak, sehingga memudahkannya cepat membusuk. Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya kwalitas sanitasi, pencemaran lingkungan, serta munculnya bibit penyakit tertentu. Dengan demikian, pengeloaan sampah sayuran memerlukan penanganan lebih lanjut untuk meminimalisir masalah lingkungan sekitar.  Pembuatan pupuk kompos dari sampah sayuran, merupakan satu dari beberapa cara penanggulangan sampah sayuran yang semakin menumpuk. Sampah sayuran banyak mengandung mineral nitrogen (N), fosfor (P),  Kalium (K), dan B12.

 

Bahan N C-Organik P2O5 K2O Rasio C/N
Sampah pasar 1.17 11.46 0.22 1.05 9.79

Gambar: Hasil Uji Laboratorium Kompos Pasar yang dikomposkan selama 45 hari

Sumber: Nur Hayati, 2010 dalam Surtinah, 2013

bahan pupuk kompos 2
mazmuiz.blogspot.co.id

Gambar: Sisa-sisa bahan sayuran yang sudah tidak bisa diolah bisa kita jadikan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos

  1. Tangkai jagung

Jagung merupakan makanan sumber karbohidrat setelah beras. Tanaman jagung juga menjadi makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia. Dari budidaya tanaman jagung, limbah yang dihasilkan adalah berupa jerami jagung dan tongkol jagung. Pengolahan limbah jagung juga masih minim, sehingga jika limbah jagung dapat dijadikan pupuk kompos, maka dapat meningkatkan produktifitas pupuk organik dan mengurangi pupuk yang berbahan kimia. Hasil penelitian Jamilah, Munir, Fatimah (2009) dalam Irsyad (2014) menyatakan bahwa hasil dari budidaya tanaman jagung 83% adalah limbah, dan 17 adalah pipilan jagung kering. Kandungan unsur hara pada pupuk jerami jangung antara lain: 1,2% N; 0,25% P; 1,32% K. Jika limbah jagung dimanfaatkan secara maksimal, selain mengurangi produksi sampah juga dapat menciptakan kemandirian terhadap pupuk kimia.

 

Bahan C-Organik N % P % K % C/N
Jerami Jagung 15.91 0.67 1.05 1.18 23.75

Gambar: Kandungan Unsur Hara Kompos yang berasal dari Jerami Jagung
Sumber:
(Surtinah,2013:20)

bahan pupuk kompos 3
http://kknm.unpad.ac.id

Gambar: Tongkol jagung, atau tangkai tempat butir jagung melekat, juga bisa dijadikan bahan baku pupuk kompos

Kotoran Hewan Sebagai Bahan Pupuk Kompos

Kotoran hewan berasal dari kandang ternak. Kotoran hewan terdiri dari dua bagian, yaitu padat (feses) dan cair (urine). Keduanya dapat dijadikan pupuk, baik pupuk kandang maupun pupuk kompos, namun kebanyakan peternak lebih sering memanfaatkan feses dari pada urine karena lebih praktis.Istilah yang perlu diketahui dalam kotoran hewan adalah istilah pupuk panas dan pupuk dingin. Pupuk panas mudah menguap, karena bahan organik tidak terurai secara sempurna sehingga banyak yang berubah jadi gas. Sedangkan pupuk dingin merupakan pupuk yang penguraiannya sangat lambat sehingga tidak terbentuk panas.

Kandungan kotoran hewan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: jenis hewan, umur, keadaan hewan, jenis makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan serta penyimpanan kotoran hewan tersebut. Selain mengandung unsur hara makro dan mikro, kotoran hewan juga mengandung hormon seperti: creatin, asam indol asetat, dan auxin yang dapat merangsang pertumbuhan akar. Dalam pengomposan, kotoran hewan berperan sebagai jasad penghancur sampah. Jika kesulitan mendapat kotoran ternak dapat diganti pupuk Urea. Di samping itu semua nutrisi yang terkandung dalam kotoran hewan tergantung dengan makanan yang diberikan. Jika makanan ternak mengandung unsur N,P, dan K, maka kotoran ternak pun akan kaya dengan unsur tersebut.


  1. Kotoran Sapi

Kotoran sapi merupakan kotoran yang banyak mengandung air dan lendir. Bagi pupuk padat yang keadaannya demikian bila terpengaruh oleh udara maka cepat akan terjadi pergerakan-pergerakan sehingga keadaanya menjadi keras. Selanjutnya air tanah dan udara akan melapukkan kotoran tersebut menjadi sukar menembus/ merembes ke dalamnya. Dalam keadaan demikian, jasad renik yan bertugas mengubah zat hara dalam kotoran mengalami hambatan, perubahan berlangsung secara berlahan-lahan. Keadaan demikian merupakan tAnda bahwa kotoran sapi termasuk pada pupuk dingin.

Kotoran sapi memiliki kadar N (Nitrogen), P (Phospor), dan K (Kalium) yang tinggi, sehingga dapat mensuplai unsur hara yang dibutuhkan tanah secara maksimal. Seekor sapi mampu menghasilkan kotoran padat dan cair 23, 6 kg/hari dan 9,1 kg/hari (Tauscher et al. sanitasi Iwan,2009). Kotoran sapi yang baru dihasilkan, tidak bisa digunakan langsung pada tanaman, sehingga perlu proses pengomposan terlebih dahulu.

Peni Wahyu Prihandini dan Teguh Purwanto (2007) menyebutkan beberapa alasan kenapa kotoran sapi perlu proses pengomposan : 1) Bila tanah mengandung udara dan air, penguraian bahan organik berlangsung cepat sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman, 2) Penguraian bahan segar hanya sedikit memasok  humus dan unsur hara dalam tanaman, 3) Struktur bahan organik segar sangat kasar  dan dayanya terhadap air rendah, sehingga jika langsung dibenamkan dapat menjadikan struktur tanah menjadi sangat remah, 4) Kotoran sapi tidak selalu ada saat diperlukan, sehingga pengomposan kotoran sapi merupakan suatu cara penyimpanan pupuk hingga pada saat waktu dibutuhkan. Contoh, kotoran sapi sekitar satu kilogram diperoleh sekitar 500 gram bahan kering (50%).

bahan pupuk kompos 4
radarbangka.co.id

Gambar: Kotoran ternak sebagai bahan pembuatan kompos

  1. Kotoran Kambing

Kotoran kambing memiliki struktur yang khas, yaitu berbentuk butiran-butiran, sehingga sedikit sukar memecah fisiknya. Hal ini berpengaruh pada proses deskomposisi dan penyediaan hara. Kotoran kambing terdiri dari 67% bahan padat (faeces) dan 33% bahan cair (urine). Komposisi unsur haranya 0,95% N, 0,35% P205, 1,00% K2O. Kadar N yang lebih tinggi dan kadar air yang lebih rendah dari kotoran sapi menjadikan sehingga jasad renik lebih cepat melakukan perubahan. (Sutejo, 2002:103) Dengan demikian kotoran kambing lebih baik digunakan jika dikomposkan lebih dahulu. Kadar air kotoran kambing relatif lebih rendah dari pada kotoran sapi, dan sedikit lebih tinggi dari pada kotoran ayam. Keadaan demikian merangsang jasad renik melakukan perubahan-perubahan aktif, sehingga perubahan berlangsung sangat cepat. Pada perubahan ini juga terjadi pembentukan panas, sehingga kotoran kambing masuk pada golongan pupuk panas.

 

  1. Kotoran Kuda

Ternak kuda lebih sedikit dari pada ternak lainnya, sehingga kotoran yang dihasilkan juga sedikit. Hal ini menjadikan kotoran kuda terbatas dimanfaatkan oleh warga sekitar perternakan kuda. Kotoran kuda mempunyai rasio C/N yang lebih rendah dari pada kotoran sapi, tergantung jenis makanan yang diberikan. Kotoran kuda mengandung banyak hara Mg (Magnesium). Kotoran kuda terutama bahan cairnya banyak mengandung senyawa-senyawa N yang memungkinkan bakteri-bakteri berkembang dengan aktif. Pupuk panas ini jika dicampur dengan pupuk dingin seperti pupuk sapi, akan mengalami reaksi berlainan. Perubahan padad pupuk kuda akan berlansung lambat, sedangkan pada pupuk sapi berlansung lebih cepat.

 

  1. Kotoran Babi

Babi biasanya diberi makanan yang mudah dicerna, sehingga kurang menghasilkan pupuk. Pupuk yang dapat dikumpulkan hanya berupa pupuk dingin yang mengalami perubahan secara perlahan. Kotoran babi banyak mengandung asam fosfat dan asam belerangnya dibanding pada kotoran tenak lainnya. Berbeda dengan zat kapur dan zat kali yang sangat rendah dalam kotoran babi.



Pemanfaatan kotoran babi berada di wilayah tertentu yang berdekatan dengan tempat perternakan babi. Kotoran babi bersifat lembek, dan dapat bertambah cair bila tercampur dengan urine. Kandungan hara kotoran babi dipengaruhi oleh umur. Di beberapa negara seperti : Thailand, Cina dan beberapa negara Eropa telah memisahkan babi berdasarkan umur. Secara umum kotoran babi cukup mengandung unsur P namun rendah Mg. Contoh, dalam satu kilogram kotoran babi diperoleh 15% bahan kering atau sekitar 150 gram.

 

  1. Kotoran Unggas

Kotoran unggas banyak terdapat pada lahan peternakan, dan sering dijadikan pupuk kandang. Hal ini baik karena unggas adalah pemakan tanaman atau bagian bagian utama tanaman, seperti : gabah, beras, biji-biji buah. Kotoran ayam dan merpati termasuk pupuk yang bernilai tinggi, dibandingkan bebek atau angsa. Kotoran ayam mempunyai N (1,72 %), P (1,82%), dan K (2,18 %)(Susilowati, 2013). Kotoran ayam boiler mempunyai kadar hara P yang lebih tinggi dari pada kotoran ayam lainnya. Kadar hara sangat dipengaruhi oleh jenis konsetrat yang diberikan.

bahan pupuk kompos 5
brianafarm.blogspot.co.id

Gambar: Kotoran ayam sebagai bahan pembuatan pupuk kompos

 

Jenis Ternak Kadar Hara (%) Keterangan
Nitrogen Fosfor Kalium Air
Kuda

-Padat

-Cair

Sapi

-Padat

-Cair

Kambing

-Padat

-Cair

Ayam

-Padat

-Cair

 

0,55

1,40

 

0,40

1,00

 

0,60

1,50

 

1,00

1,00

 

0,30

0,02

 

0,20

0,50

 

0,30

0,13

 

0,80

0,80

 

0,40

1,60

 

0,10

1,50

 

0,17

1,80

 

0,40

0,40

 

75

90

 

85

92

 

60

85

 

55

55

 

Pupuk panas

 

 

Pupuk dingin

 

 

Pupuk panas

 

 

Pupuk dingin

Gambar: Komposisi unsur hara dari beberapa jenis ternak
Sumber:
Lingga, Marsono: 2001:61

 

Sisa Bahan Industri Sebagai Bahan Pupuk Kompos

  1. Industri kayu

Limbah dari indutri perkayuan sebagian besar berupa limbah padat, seperti: serpihan gergaji, potongan kayu kecil-kecil dan serbuk kayu. Hasil penelitian dari Forestry Statistics of  Indonesia 1997/1998 dalam Move Indonesia (2007) menjelaskan bahwa limbah industri kayu gergajian di Indonesia mencapai 2,6 jt m3 pertahun. Adanya limbah kayu yang berlebihan serta belum diolah secara berkelanjutan, pada kenyataannya masih ditumpuk, dibuang di sungai (pencemaran air) atau dibakar (menambah emisi pada lapisan atmosfir). Limbah kayu yang selama ini belum ditangani, menimbulkan berbagai masalah pencemaran lingkungan, sehingga perlu dicari jalan keluarnya.

Penanganan limbah industri kayu, dapat dijadikan kayu bakar untuk potongan kayu. Sedangkan serbuk kayu selain dapat menjadi kayu bakar (setelah menjadi “anglo”), juga dapat dikomposkan. Limbah kayu adalah bahan organik sellulose(sellulose dan hemi selullose), lignin, dan sedikit senyawa karbohidrat. Jika limbah kayu dijadikan kompos dengan dicampur bahan-bahan lain yang biasanya kaya akan kandungan air, seperti dedaunan, pupuk kandang, dan mikroorganisme, maka limbah kayu selain dapat menjadi sumber karbon, juga dapat menjadi media penyerap air.

serbuk gergaji kayu bahan kompos
manfaat.co.id

Gambar:Serpihan kayu gergaji sisa hasil industri sebagai bahan pupuk kompos

 

  1. Pabrik gula

Pabrik gula yang semakin lama mengalami peningkatan produksi, juga mengakibatkan banyaknya limbah yang terbuang. Limbah pabrik gula berupa abu ketel, blotong, bagas (ampas tebu), dan tetes. Selain limbah bagas (untuk pembakaran) dan tetes (bahan MSG, ethanol), pabrik gula kuwalahan mengolah limbah lainya. (Murbandono, 2003:50)



Dengan demikian usaha pengomposan penting dilakukan untuk menanggulangi sisa limbah parik gula tersebut. Proses pengomposan limbah pabrik gula dapat dengan dicampur kotoran ternak. Masing-masing bahan baku tersebut baiknya seimbang takarannya.

PABRIK GULA MINI bahan kompos
cbfmrembang.blogspot.co.id

Gambar: Limbah pabrik gula sebagai bahan pembuatan kompos

  1. Bungkil

Bungkil merupakan sisa atau ampas dari pembuatan minyak seperti: bungkil wijen, bungkil kacang, bungkil kapuk, dan lain-lain. Bungkil mengandung zat hara organik, namun kesukaran menyimpannya sering menjadi masalah, karena fermentasi dan kerusakan oleh serangga. (Sutedjo, 2002:143)

bungkil kopra bahan kompos
globalinterinti.com

Gambar: Bungkil kopra

Bungkil N Organik P Organik K Organik
Kopra

Biji kapuk

Kacang

>3

>4

7

1.1

1.0

0.6

2.0

0.9

0.9

Gambar: Susunan berbagai pupuk bungkil

Sumber: Sutedjo, 2002:143

 

  1. Limbah Pulp dan kertas

Limbah padat dari industri pulp dan kertas memiliki potensi sebagai media tanaman jamur merang (­volvariella volvaceae) dan pupuk tanaman. Penelitian dan uji coba pernah dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Selulosa (BBS) di Bandung. Pupuk organik yang dihasilkan mengandung karbon organik 3,97%, nitrogen 16,5%, fosfor 3,75%, kalium 2,99%, dan unsur mikro lainnya. (Murbandono, 2003:47)

 

  1. Kompos Tinja

Pertama mendengar kata tinja, mungkin sebagian orang akan merasa jijik, namun jika kita dapat memanfaatkannya, sebenarnya kita dapat mendapatkan banyak keuntungan. Di Indonesia masih jarang pemanfaatan tinja, masih sebatas petani Cina di Sumatera yang mengusahakan kebun sayuran.(Sutedjo, 2002: 141).

Sedangkan akhir 1996 limbah tinja pendapatan pokok di Magelang Jawa Tengah, karena telah memanfaatkan limbah tinja dan dapat dijual sebagai kompos. Pengomposan tinja sebenarnya merupakan proses biokimia dan bakteriologis sama seperti pegomposan pada kotoran hewan (Murbandono,2013:47). Tinja juga disebut dengan nightsoil, yaitu kotoran cair dan padat manusia.(Sutedjo,2002:141)

 

Bagian-bagiannya Presentase pada urine Presentase pada kotoran padat Presentase pada bahan campuran
A i

Zat Organik

Zat N

N (mudah larut)

P2O5

K2O

96,03

3,03

0,08

0,08

0,16

0,19

92,03

5,05

0,75

0,42

0,27

0,29

77,02

19,05

1,22

0,37

1,13

 

Gambar:Presentase bagian-bagian/zat-zat yang terkandung dalam nightsoil

Sumber: Sutedjo,2002:142

 

  1. Kompos Cacing / Vermikasi

Kompos cacing atau kascing adalah pupuk yang berasal dari kotoran cacing. Istilah kotoran cacing yang disebut vermics itulah kita mengenal istilah vermikasi. Vermikasi merupakan proses penguraian sampah-sampah  organik yang dilakukan oleh cacing sehingga dihasilkan kotoran cacing (menjadi pupuk). Diketahui bahwa cacing (khususnya Lumbricus rubrelus) bisa mengatasi soal sampah.

Vermikasi yng baik akan mengurangi 50% jumlah sampah dalam setiap harinya. Prinsip vermikasi sama dengan pembuatan kompos, hanya saja dalam vermikasi dibantu oleh cacing agar proses penguraian lebih cepat.

 

  1. Pupuk yang berasal dari hasil ikutan hewan

1. Pupuk bubuk tulang

Mengandung 10% N, 2.1% P (5% P2O5) dan K 1%. Daerah penghasil Bagan Siapi-api. Dapat digunakan sebagai makanan ternak, sering pula diekspor, seperti: hyponex untuk pemupukan tanaman anggrek.

  1. Pupuk bubuk darah

Didapat dari tempat pemotongan ternak, darah yang cair diletakkan dalam tempat pengumpulan yang diberi uap sehingga terjadi kongulasi, bagian yang cair kemudian dibuang. Pupuk ini mengandung 10-12% N, 0.6% P (2%P2O5) dan 0.4-0.6% K. Dapat juga dijadikan makanan ternak.

  1. Pupuk bubuk tulang ikan

Banyak mengandung fosfor, merupakan campuran dari sepertiga pupuk organik dan pertiga pupuk anorganik.

 

  1. Kapur

Kesuburan tanah tergantung dengan keseimbangan pH (potential of hydrogren) yang dimilikinya. pH menentukan keasaman dan kebasaan tanah, serta menentukan suksesnya hasil tanaman yang dibudidayakan. Tanaman memiliki karakteristik tersendiri dengan nilai asam/basa tanah. Kapur dapat digunakan untuk menyeimbangkan pH tanah. Kapur juga dapat membantu memperpaiki kualitas tanah, terlebih untuk tanah di daerah asam.



Kapur yang dapat digunakan adalah kapur pertanian. Kapur yang berasal dari batu kapur yang bahannya tersedia dan tersebar di Indonesia. Batuan kapur ini mengandung senyawa kalsium dan magnesium yang sifatnya mampu menetralkan pengaruh alumunium. Di pasaran dapat dijumpai tiga jenis kapur pertanian, yaitu sebagai berikut (Lingga, Marsono, 2001:113):

  1. Kapur tohor

Kapur tohor merupakan jenis kapur yang pembuatannya melalui pembakaran. Kapur ini dikenal dengan kapur sirih karena biasa dimakan orang bersama sirih. Bahannya berupa batuan kapur gunung dan kulit kerang. Secara ilmiah kapur ini adalah kalsium oksida (CaO).

  1. Kapur tembok

Kapur tembok merupakan jenis kapur hasil pembakaran pada kapur tohor dengan menambahkan air batuan kapur. Kapur inilah yang sering digunakan untuk mengapur tembok. Kapur tembok dikenal sebagai kapur hidroksida dengan rumus kimia Ca(OH)2.

  1. Kapur karbonat
bahan kompos 9
tramaya.indonetwork.co.id

Kapur ini merupakan jenis kapur yang bahannya berasal dari batuan kabur yang bukan melalui proses pembakaran, tetapi langsung digiling. Ada dua macam kapur karbonat yaitu klasit dan dolomit. Kalau bahan bakunya lebih banyak mengandung kalsium karbonat (CaCO3) dan sedikit magnesium karbonat (Mg(HCO3)2)maka disebut klasit. Sementara kalau bahan bakunya banyak mengandung kalsium karbonat dan magnesium karbonat maka disebut dolomit. Kapur dolomit sering digunakan di Indonesia untuk mengapur tanah asam. Kapur ini paling baik dibanding kapur lainnya.

 

(sajadah.co)

Sumber: Khalimatu Nisa Dkk, 2017, Buku Pintar Membuat Pupuk Kompos dan MOL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *