Sumber Gambar : medium.com

Bahasa

Posted on

Eksistensi bahasa Indonesia di tanah kelahirannya sendiri memasuki tahap krisis, kalah dengan bahasa Internasional

Bahasa – Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Bisa dikatakan, jika salah satu unsur kebudayaan tersebut berubah akan mempengaruhi unsur yang lain. Padahal, kemampuan manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman tentang fenomena sosial yang diungkapkan secara simbolik sangat tergantung pada bahasa. Karena mau tak mau proses pewarisan tersebut dilakukan melalui penggunaan bahasa, entah lisan ataupun tulis.

Bahasa sendiri mempunyai fungsi khusus, selain fungsi umum yang memang sudah lazim dimengerti oleh kebayakan orang, yaitu sebagai alat berkomunikasi. Sayang, pemahaman fungsi bahasa saat ini hanya ditekankan pada fungsi umum, bukan fungsi khusus. Salah satu fungsi khusus bahasa adalah untuk memahami kebudayaan yang dibentuk oleh manusia-manusia jaman dulu. Singkat kata, mempelajari bagaimana kebudayaan yang berwujud bahasa atautidak.

Di era modern ini, pertukaran budaya yang diwujudkan didalam globalisasi menjadi ancaman serius bagi kebudayaan Indonesia. Bagaimana tidak, kebebasan manusia dalam mengakses dan mempelajari kebudayaan luar begitu mudah. Belum lagi, kita tidak mempunyai fondasi kuat untuk menyaring gempuran globaisasi yang begitu deras. Pancasila yang digadang-gadang sebagai alat penyaring  pun hilang terseret arus globalisasi.

Belum lagi dengan dijalankannya sistem ekonomi yang menganut paham kapitalisme. Secara teoritis, paham kapitalisme bukan hanya sistem perekonomian, lebih dari itu kapitalisme berusaha untuk mengubah sistem sosial secara menyeluruh. Bahasa sendiri mempunyai andil penting dalam sistem kapitalisme. Bagaimana tidak, masuknya kapitalisme kedalam sebuah negara, mau tidak mau harus mengubah kebudayaan yang ada. Dalam hal ini, bahasa adalah ujung tombak utama. Penetapan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional menyiratkan fungsi tersebut.



Padahal, kita mengetahui faktor utama penetapan bahasa Inggris menjadi bahasa Internasional tidak lepas dari sepak terjang Imperium Britania. Imperuim Britania yang wilayah kekuasaanya terbentang luas hingga mencakup wilayah Amerika, Asia, bahkan Afrika secara tidak langsung terbengaruh oleh kebudayaan Imperium Britania. Salah satunya adalah bahasa. Apalagi setelah bahasa Inggris menjadi bahasa resmi di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Pertumbuhan pengaruh budaya ekonomi Amerika Serikat dan statusnya sebagai negara adidaya global sejak Perang Dunia II menjadikan Bahasa Inggris menjadi bahasa Internasional. Padahal kita tahu, negara adi daya tersebut merupakan aktor berjalannya praktek kapitalisme.

Setiap sarana pendidikan menjadikan bahasa Inggris sebagai pelajaran wajib, bahkan menjadi salah satu parameter kelulusan peserta didiknya. Tak ayal, eksistensi bahasa Indonesia di tanah kelahirannya sendiri memasuki tahap krisis, kalah dengan bahasa Internasional. Banyak masyrakat terdidik lebih memahami bahasa Inggris yang baik dan benar, dari pada bahasa nenek moyangnya sendiri.

Merujuk dari penjelasan di awal, mengenai fungsi khusus bahasa sebagai alat untuk memahami kebudayaan. Tentunya, untuk memahami kebudayaan yang ada di Indonesia. Bagaimana mungkin  masyarakat mampu mempelajari kebudayaan bangsanya? Sedangkan bahasa yang lahir dari rahim kebudayaan bangsanya tidak dikuasai. Apalagi, kebudayaan cenderung berkembang dari satu tahap ke tahap selanjutnya. Bagaiman mungkin kita mampu berkembang tanpa menengok apa yang telah terbentuk sebelumnya.

Patut dipahami bahwa perubahan sistem sosial yang diinginkan oleh paham kapitalisme menjadikan masyarakat menjadi kehilangan identitas. Hanya menuruti keadaan pasar, keadaan pasar ini yang menyebabkan munculnya tren ataupun gaya hidup yang dianut oleh kabanyakan masyarakat saat ini. Hal ini dianggap wajar karena kemajemukan gaya hidup masyarakat merupakan ciri manusia modern. Setiap bangsa mempunyai identitas masing-masing, dan hal itu yang akan didobrak oleh paham kapitalisme untuk menghancurkan identitas tersebut. Sehingga identitas sebuah bangsa hilang dan diganti dengan kemajemukan yang akan mempermudah jalan masuknya kapitalisme kedalam sebuah bangsa/negara. Dan peran bahasa didalam penghacuran identitas ini sangatlah terasa. Dampaknya bukan hanya bagaimana kita tidak lagi mampu untuk membaca identitas kita (kebudayaan bangsa), namun bagaimana kita mulai tergerak dan tertarik untuk mempelajari kebudayaan asing. Hal ini merupakan impian dari perubahan sistem sosial yang diimpikan oleh kaum kapitalis, bahwa mereka berhasil mengubah kebudayaan bangsa yang dituju agar proses kapitalisasi kedalam sebuah negara berjalan lancar.

Memang, bahasa Indonesia masih kalah secara kualitas dengan bahasa asing lainnya. Sebagaimana kritik sejarawan Swiss, Hbert Luethy yang dikutip oleh Benedict Anderson bahwa, “Sebagai bahasa, bahasa Indonesia suka meminjam istilah asing apa saja dan begitu melimpah, sehingga bahasa ini merupakan bahasa sintesis.” Senada dengan Hbert Luethy, sejarawan Prancis, Jerome Samuel, sebagaiman dikutip oleh P.Ari Subagyo bahwa penambahan puluhan ribu istilah baru secara cepat – terutama demi perannya sebagai bahasa ilmiah – menjadikan bahasa Indonesia “sama dengan bahasa baru.”

Lebih tajam lagi, Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang miskin, belang-bonteng dengan mengambil kata-kata semua bangsa di dunia, hal ini menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang miskin. Kekurangan bahasa Indonesia ini mungkin menjadi titik lemah mudahnya bangsa ini tergerus oleh keleluasaan para kapitalis untuk menggerus identitas bangsa ini, dengan iming-iming bahasa yang lebih unggul dalam segi kekayaan kosa kata. Namun patut dimengerti juga, mau tak mau, bahasa nenek moyang kita ini merupakan salah satu dinding pertahanan untuk melawan penyeragaman kebudayaan yang akan menjadikan kaum kapitalis semakin nyaman.  Bagaimamapun, orang berpikir dalam bahasa sehingga begitu bahasa terkuasai, pikiran orang pasti djuga akan bisa dikendalikan.

Bahasa merupakan sebuah identitas, hal yang membedakan satu bangsa dengan bangsa lain. Karena setiap bangsa mempunyai identitas (kebudayaan) masing-masing. Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai bangsa Indonesia mampu untuk menggunakan dan memahami fungsi bahasa secara khusus, bukan lagi secara umum. Diharapkan dengan pemahaman tersebut, proses pewarisan kebudayaan yang saat ini sedang tersendat-sendat, mampu bangkit dan bangsa ini mampu memahami kebudayaannya sendiri. (sajadah.co)

 

Oleh : Dimas Syibli Muhammad Haikal, Mahasiswa Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya UGM 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *