tips pengomposan
alamtani.com

Beberapa Tips Pengomposan Agar Menghasilkan Pupuk Kompos Berkualitas

Posted on

Meski pembuatan kompos dan MOL terbilang mudah, proses pembuatannya harus diperhatikan secara teliti. Berikut tips pengomposan yang perlu anda ketahui.

Tips Pengomposan – Proses pembuatan kompos dan MOL relatif mudah. Bahan yang sederhana seringkali diabaikan kualitasnya. Kondisi lingkungan dan bahan sangat mempengaruhi proses pengomposan. Oleh karena itu, karakter lingkungan dan bahan harus dipahami, agar proses pengomposan berhasil dilakukan dengan sempurna. Masalah yang muncul tidak sepenuhnya bermula dari alam, namun juga ukuran yang tidak kita taati. Oleh karena itu, kita perlu memahami kendala yang muncul dan tips untuk menanganinya. Berikut adalah gambaran terkait kendala yang sering muncul saat membuat kompos dan MOL. Sebagai bentuk antisipasi, gunakan beberapa tips pengomposan berikut ini untuk mencapai hasil yang optimal.

Tips Pengomposan 1:

Bila dalam proses pengomposan berbau amonia atau masam berarti  pupuk kompos belum sepenuhnya matang,penyebabnya bisa dikarenakan kekurangan unsur Nitrogen (rasio C/N terlalu rendah), atau campuran kompos mengandung banyak air. sehingga Anda perlu menambahkan bahan-bahan berwarna coklat seperti potongan jerami, serbuk gergaji,  potongan kayu,   daun-daun kering atau potongan kertas koran dan karton ke dalam campuran pupuk kompos dan diaduk-aduk.  tujuannya adalah untuk mengurangi kelembaban pada kompos. Tutup kembali bahan-bahan tersebut untuk menjaga pH agar tetap stabil. Pada proses pengomposan pH optimal berkisar antara 6.5 sampai 7.5.  kompos yang sudah matang kondisi pH nya hampir sama dengan pH udara. Ciri-ciri fisik yang terlihat ketika kompos telah matang adalah lewat materi yang dikandungnya sudah menyerupai tanah, warna coklat kehitam-hitaman dan tidak berbau amonia  serta bentuk akhir dari pupuk kompos sudah tidak menyerupai bentuk aslinya karena sudah hancur akibat aktivitas mikroorganisme yang hidup dalam kompos.

Tips Pengomposan 2:

Bila dalam proses pengomposan berbau tengik seperti telur busuk, atau berbau asam, kemungkinannya  kurang udara/ terlalu lembab  atau terlalu basah sehingga yang terjadi proses pembusukan bukan penguraian atau pengomposan. Hal yang perlu Anda lakukan adalah menambahkan bahan-bahan berwarna coklat seperti dedak, daun kering aduk terus hingga bau hilang. Jangan menjemurnya di panas matahari langsung cukup angin-anginkan saja dan di tutup kembali.

Baca Juga :

Tips Pengomposan 3:

Bila dalam proses pengomposan adonan menjadi kering, tambahkan air dan diaduk-aduk. Pemberian air disini tidak perlu terlalu basah cukup lembab-lembab saja agar pupuk kompos matang maskimal. Anda juga harus  pengecekan secara rutin tiap minggunya, untuk lamanya waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan, banyaknya materi perombak, suhu udara.



Dalam kurun waktu kurang lebih 2 bulan pupuk kompos secara rutin diperiksa setiap minggunya untuk pemberian air, dan pengadukan kembali agar proses dekomposisi merata.

Kadar kelembaban yang terkandung dalam pupuk kompos padat berkisar antara 40-60 %. Apabila kelembaban berada di bawah 40 % aktivitas mikroba akan menurun sebab mikroorganisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut dalam air. Apabila kelembaban lebih besar dari 60 %, maka hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatknya aktivitas mikroba akan menurun dan terjadi frementasi anaerobik yang menjadi sumber dari bau tidak sedap (Isroi: tt,  :6).

Tips Pengomposan 4 :

Jika dalam proses pembuatan MOL wadah melembung, maka buka perlahan agar tidak meledak, setelah ukuran botol kembali normal tutup kembali dan buat beberapa  lubang kecil dengan menggunakan jarum sebagai sirkulasi udara.

Tips Pengomposan 5 :

Pada pembuatan pupuk bokashi, Jika Suhu Kompos melebihi 50 derajat C, yang harus Anda lakukan adalah membuka penutup tarpal kemudian mengaduk-aduk adonan agar suhu menjadi normal. Kemudian tutup kembali. Peningkatan suhu ini disebabkan oleh adanya aktivitas mikroorganisme  perombak jika suhu terlalu tinggi maka yang terjadi adalah pembusukan bahan organik bukan penguraian jadi penting untuk mengontrol suhu dari pembuatan pupuk bokashi 5 jam sekali.

Tips Pengomposan 6 :

Catatan penyimpanan untuk kompos Takakura yaitu letakkan di tempat teduh yang terhindar dari panas matahari langsung dan jangan sampai terkena air hujan. Jika pada keranjang takakura terdapat tumbuh belatung maka tutup rapat keranjang agar ulat atau belatung ini tidak bermetabolisme menjadi lalat. Penyebabnya adalah kemungkinan terdapat telur-telur lalat yang masih tersisa pada bahan organik yang kita masukkan kedalam keranjang takakura.

Tips Pengomposan 7:

Bahan kompos harus dijaga kelembabannya, Kadar air yang terkandung di dalamnya harus tetap stabil. Sering terjadi kegagalan dalam pengomposan, diakibatkan oleh kadar air yang terlalu banyak. Sebaliknya, kadar air yang sangat sedikit mengakibatkan bahan kompos menjadi kering, sehingga proses pengomposan akan terhambat.

Kelembaban ini bisa diakibatkan oleh beberapa hal. Pemberian air yang berlebihan menjadi salah satu indikatornya. Sesuai dengan proses pembuatan yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya, jumlah air tidak boleh melebihi stAndar. Selain kadar air, kadang-kadang kita juga luput dalam mengukur kelembaban bahan. Komponen lain yang digunakan sebagai bahan pembuat kompos dan MOL tidak boleh terlalu basah.  Bahan-bahan tersebut juga harus diletakkan di tempat yang aman dari hujan. Hal ini harus dilakukan, jangan sampai air hujan menambah kadar air, sehingga bahan menjadi terlalu basah. Tempat yang aman bukan hanya terhindar dari hujan, tetapi juga ketersediaan udara yang cukup. Pastikan udara di sekitar tempat pengomposan sudah memadai. Kekurangan udara akan mengakibatkan kelembaban.



Aapabila kondisinya terlanjur basah, kita bisa melakukan beberapa hal sebagai solusinya. Siapkan bahan coklat untuk ditambahkan ke dalam bahan yang terlalu basah. Bahan coklat yang sudah dicampurkan harus dibolak-balik. Jangan lupa mengaduk hingga semua bahan merata. Tips ini akan mengurangi kadar air pada bahan pengomposan dan MOL.

Tips Pengomposan 8:

Proses pembuatan kompos dan MOL memang tidak sembarangan. Semua bahan harus sesuai ukuran. Kelebihan dan kekurangan takaran akan menghambat proses pengomposan. Idealnya, proses pengomposan akan menghasilkan panas. Keadaan ini akan menunjang pengolahan bahan menjadi kompos. Apabila pada saat proses pengomposan tidak timbul panas, maka sudah dapat dipastikan telah terjadi kesalahan.

Panas yang timbul pada saat pengomposan harus merata. Semua bidang dan ruang yang digunakan harus muncul panas. Namun, seringkali terjadi panas yang tidak merata, atau sama sekali tidak muncul panas. Hal ini disebabkan oleh ketidaksesuaian ukuran tempat untuk membuat kompos. Selain itu, tumpukan bahan kompos yang digunakan kurang padat. Kondisi ini akan menimbulkan rongga pada ruang yang tidak terisi. Akibatnya, udara mudah sekali masuk, dan tekanan antar bahan kurang kuat. Salah satu penyebab munculnya panas adalah tekanan dari kepadatan bahan dari ruang yang ideal. Wadah yang terlalu kecil, atau tumpukan bahan yang terlalu sedikit menjadi catatan penting untuk diperhatikan, agar kesalahan ini tidak terjadi. Oleh karena itu, ukuran wadah dan tumpukan bahan harus disesuaikan.

Tempat untuk membuat kompos sebaiknya berukuran 1 meter X 1 meter X 1 meter. Jika ukuran tersebut tidak dapat dipenuhi, kita bisa menggunakan ruang, minimal setengah dari ukuran sebenarnya, yaitu 50 cm X 50 cm X 50 cm.  Bahan-bahan yang akan ditumpukkan juga harus sesuai ukuran tempat. Patikan bahan ditumpuk hingga padat hingga tidak terdapat sisa ruang.

Tips Pengomposan 9:

Proses pembuatan kompos harus selalu diamati perkembangannya. Kita harus jeli mengamati setiap perubahan yang terjadi. Apabila terjadi perubahan sesuai dengan yang diharapkan, kita tinggal melakukan langkah berikutnya. Namun, tidak dipungkiri bahwa perubahan yang tidak sesuai dengan harapan juga sering terjadi. Hal ini sering dialami oleh pembuat kompos pemula. Ukuran yang tidak pas dan rasa ragu-ragu untuk mengkolaborasikan bahan mengakibatkan hasil belum maksimal. Namun, segalanya tetap harus dicoba. Semakin sering melakukan pembuatan kompos, akan semakin meminimalisasi kesalahan.

Sesuai dengan petunjuk pembuatan kompos, seharusnya muncul beberapa kali perubahan sebelum akhirnya menjadi kompos yang sempurna. Salah satu perubahan yang terjadi adalah munculnya panas. Bagaimana jika sudah melalui beberapa langkah namun tidak sedikitpun bahan yang kita gunakan tidak menimbulkan panas?

Komponen utama pada proses pengomposan adalah bahan hijau, air, dan udara. Ketiganya harus seimbang, disesuaikan dengan volume wadah. Perubahan bisa terjadi apabila ketiga komponen yang harus dicampurkan memiliki kapasitas seimbang. Apabila salah satunya melampaui atau kurang dari stAndar, maka perubahan tidak akan terjadi.

Apabila sudah diamati dengan saksama dan hasilnya tetap tidak ada perubahan, ada kemungkinan bahan yang dicampurkan mengalami kekurangan tanaman hijau. Selin itu, udara yang masuk terlampau sedikit, sehingga proses pengomposan tidak berlangsung seimbang. Satu hal yang perlu diperhatikan keseimbangannya adalah kelembaban. Kondisi kelembaban sangat berpengaruh.



Sebagai bentuk antisipasi dan solusi dari masalah tersebut, kita dapat menambahkan bahan-bahan hijau. Proses kolaborasi zat yang ada di dalam bahan hijau akan berlangsung semurna jika komponen yang lain juga disesuaikan. Oleh karena itu, cek suhu udara untuk menyesuaikan kebutuhan bahan hijau. Kelembaban akan menyesuaikan dengan kondisi bahan lainnya.

Pastikan bahan hijau yang ditambahkan cukup banyak. Jangan lupa selalu mengaduk campuran bahan yang ditambahkan. Sesekali tambahkan air untuk menyeimbangkan kelembaban kompos.

Tips Pengomposan 10:

Ketika membuat kompos, kita harus selektif memilih bahan-bahan yang akan digunakan. Tidak sembarang bahan bisa dicampurkan. Selain keseimbangan antar komponen bahan, proses pembusukan bahan juga harus dipertimbangkan. Perubahan yang terjadi dalam proses pengomposan adalah panas. Apabila kita menemukan perubahan lain, kita harus waspada dengan bahan yang pernah kita campurkan.

Pembuatan kompos bukan proses penimbunan sampah dan sisa makanan. Apabila dalam proses pembuatan kompos tampak lalat, serangga, dan belatung mengerumuni bahan-bahan yang sudah dicampur, ada kemungkinan kita lupa menyeleksi sampah. Lalat, serangga, dan belatung adalah sekawanan binatang yang suka menghinggapi segala sesuatu yang busuk. Oleh karena itu, kita harus menyeleksi dan melakukan antisipasi yang baik apabila akan mencampurkan sisa makanan.

Adapun bahan-bahan yang menyebabkan lalat, serangga, dan belatung hinggap di sana adalah: sisa daging, ikan, susu, santan, sayuran busuk, terlalu banyak sampah dapur yang tidak terseleksi dan tidak ditutup dengan baik. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Apabila ragu-ragu untuk mencampurkan salah satu komponen bahan-bahan di atas, lebih baik tidak dicampurkan. Kedua, bahan-bahan tersebut bisa dicampurkan tetapi dengan upaya-upaya tambahan, agar tidak terlalu cepat busuk.

Apabila sudah terlanjur busuk dan dihinggapi lalat, kita bisa mencampur bahan-bahan tadi dengan tanah. Ambillah tanah dan tutuplah di atas campuran bahan yang sudah dihinggapi lalat, serangga, atau belatung. Selain tanah, kita bisa memanfaatkan serbuk gergaji dan dedak untuk menutupnya. Jika pun dirasa masih belum puas, kita bisa menutupnya dengan selapis kompos yang sudah jadi (kompos matang).

Tips Pengomposan 11:

Masalah yang telah terpapar pada poin 8 menjadi penyebab dari masalah ini. Tikus, Anjing, Kucing adalah binatang yang memiliki kepekaan pada indera penciuman. Mereka akan bergegas menghampiri bau yang tidak sedap. Apabila dalam campuran bahan pembuatan kompos terdapat sisa daging, ikan, dan makanan busuk, mereka akan dengan sigab mengais tumpukan kompos.



Apabila ada sisa daging atau ikan dalam proses pengomposan, sebaiknya diambil. Jangan mencampurkan bahan-bahan yang mudah busuk dan dihinggapi belatung. Ketika belatung muncul, makan binatang lain akan turut datang, baik hanya sekaar hinggap hingga mengais campuran bahannya. Setelah bahan-bahan yang mudah busuk disingkirkan, aduk kembali adonan bahan tersebut. Sesuaikan komposisi bahan yang sudah berkurang dengan kapasitas wadah. Usahakan tidak ada ruang tersisa, agar binatang tidak bisa masuk. Meski begitu, kita tetap perlu memberi lubang agar udara bisa masuk. Kita cukup membuat lubang dengan ukuran kecil di beberapa titik.

(sajadah.co)

Sumber: Khalimatu Nisa Dkk, 2017, Buku Pintar Membuat Pupuk Kompos dan MOL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *