museum gunung api merapi
museum gunung api merapi

Belajar dari Merapi di Museum Gunung Api

Posted on

Museum Gunung Api Merapi terletak di Jl. Kaliurang Km.22, Banteng, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta dengan luas lahan 3,5 hektare

Museum Gunung Api Merapi – Apa hikmah yang bisa dipetik dari sebuah bencana? Tentu, anda bebas memilih jawabannya. Namun, di balik isak tangis dan penderitaan, selalu ada pelajaran yang dapat diupayakan. Kesadaran itulah kiranya yang melatarbelakangi pendirian Museum Gunung Api Merapi.Terletak di Jl. Kaliurang Km.22, Banteng, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Museum yang menempati lahan seluas 3,5 hektare ini dilengkapi dengan taman, area parkir, dan plasa.

Berdiri di kaki Gunung Merapi, bangunan 2 lantai ini menjaga warisan bersejarah, menyimpan rekam jejak salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia. Pemandangan Gunung Merapi seakan menyambut pengunjung yang hendak memasuki gerbang museum. Arsitektur bangunannya pun artistik, berbentuk trapesium dengan salah satu sisi puncaknya mengerucut membentuk segitiga. Tak heran jika museum yang diresmikan pada 2010 ini menjadi salah satu tempat wisata menarik di daerah Hargobinangun, Sleman.

Baca juga : Kedung Pengilon Yogyakarta, Wisata Alam Nan Asri

Memasuki bangunan Museum Gunung Api Merapi, sebuah replika sebaran awan panas dari tiga peristiwa letusan Gunung Merapi seakan menghentikan langkah para pengunjung. Tiruan suara gemuruh letusan, sebaran awan panas dan aliran lava pijar pun seperti ingin membawa pengunjung kembali ke tengah-tengah suasana mencekam, merasakan dahsatnya peristiwa alam.

Para pengunjung pun disajikan berbagai informasi mengenai tipe letusan gunung api, jenis bebatuan dari Gunung Merapi sejak tahun 1930, hingga koleksi benda-benda sisa letusan tahun 2006.Dari sekian banyak koleksi benda yang ada, salah satu yang menarik adalah batu bom (volcanic bomb). Sepintas, penampakannya terlihat seperti batu biasa. dengan bentuk yang tak beraturan. Ini adalah rupa lain lava pijar dengan suhu 700 – 1.200⁰C yang terlempar ke udara ketika letusan terjadi, lantas mengalami proses pendinginan cepat sebelum sampai ke permukaan bumi.

Tak ketinggalan, koleksi foto-foto Gunung Merapi dari zaman ke zaman. Berbagai pajangan tersebut ditujukan untuk mengedukasi para pengunjung, tak terkecuali anak-anak. Bagi mereka, disediakan panel-panel ilustrasi dengan gambar kartun yang menarik perhatian.

Di lantai dua museum, kita bisa menjelajah lorong peraga simulasi. Dari layar LCD maupun alat peraga, para pengunjung diajak menyaksikan simulasi terjadinya tsunami dan peraga simulasi gempa.

Museum Gunung Api Merapi ini juga memiliki teater mini. Sejenak, pengunjuk dapat melemaskan kaki yang lelah setelah menjelajah tiap sudut mueseum. Sembari melepas penat, pengunjung akan disuguhi sebuah film pendek berdurasi 24 menit. Film berjudul “Mahaguru Merapi” ini mengisahkan bagaimana alam selalu memiliki dua sisi yang berbeda.

Merapi, dalam kondisi normal, adalah sumber penghidupan warga di sekitarnya, pemberi kesuburan dan kehidupan bagi berbagai makhluk di sekitarnya. Di saat yang lain, ia juga menjadi ancaman bagi kehidupan di sekitarnya. Letusannya dapat melululantakkan segalanya tanpa sisa, untuk kemudian kembali menyuburkan tanah dan menyajikan tata ekosistem yang baru. Sejalan dengan semboyannya, ‘Museum Gunungapi Merapi, Merapi Jendela Bumi’, museum ini seakan membuka mata para pengunjung, memberikan perspektif baru dari setiap peristiwa alam. (sajadah.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *