Blame It on Fidel
Blame It on Fidel

Gejolak Politik di Mata Bocah Cilik

Posted on

Judul               : La faute à Fidel! / Blame It on Fidel

Sutradara       : Julie Gavras

Durasi             : 1h 39m

Rilis                 : November 29, 2006

Pemeran        : Julie Depardieu (Marie de la Mesa); Stefano Accorsi (Fernando de la Mesa); Nina Kervel-Bey (Anna de la Mesa); Benjamin Feuillet (François de la Mesa); Martine Chevallier (Bonne Maman).

 

Gejolak Politik di Mata Bocah Cilik – “Kau salah. Yang memulai perang nuklir itu para burbados komunis, bukan polisi.”

“Komunis itu apa, Anna?”

“Entahlah. Yang kutahu mereka itu berjanggut dan pakaiannya merah-merah.”

“Ah, kupikir kau keliru, Anna. Santa Klaus pun berjanggut. Pakaiannya juga merah.”

Percakapan kedua bocah itu terhenti. Keduanya tetap bersembunyi dari polisi yang mendatangi mobil mereka. Anna, bocah berumur sembilan tahun itu, memang sering menguping pembicaraan kamerad-kamerad komunis ayahnya. Dengan mata bulat membesar, kedua alis terangkat dan wajah bersungut-sungut ia menceritakan para burbados—julukan untuk para aktivis komunis Amerika Latin—kepada Francois, adiknya yang belum mengerti apa-apa. Tentu, Anna pun belum mengerti apa-apa. Yang ia mengerti, para burbados yang menyebalkan itu telah merusak masa kecilnya yang indah.

Paris, 1970, ketika revolusi mulai bangkit di Paris dan negara-negara Amerika Latin. Mulanya kehidupan Anna begitu menyenangkan. Hari-harinya dilalui di rumah yang megah dengan halaman belakang tempat ia biasa bermain dan berlari-larian sepuasnya. Ayah dan Ibunya rutin bekerja, dan meluangkan waktu bermalas-malasan di akhir pekan. Belum lagi selalu ada nanny yang siap melayani segala keperluannya. Sampai pada suatu hari, bibi dan sepupunya bertandang ke rumah mereka. Sejak hari itu, ia mulai sering mendengar kata-kata komunis.

“Bibimu itu komunis, Anna. Kau tak seharusnya membiarkan komunis tinggal di rumahmu,” sang nanny kesayangan mewanti-wanti Anna.

“Apa itu komunis, bibi?” Wajahnya bersungut penasaran, tak begitu tahu apa arti kata asing yang barusan didengarnya itu.

“Oh, mereka begitu mengerikan. Mereka merampas tanah di kampungku. Para lelaki berewokan, pakaiannya merah-merah. Ah, kau betul-betul tak menginginkan mereka di rumahmu.”Wajah mungil itu terlihat takjub, matanya melotot, lantas mengangguk tanda setuju.

Tak butuh berapa lama untuk membuktikan kata-kata si nanny. Beberapa hari kemudian ayahnya pergike Amerika Latin untuk bergabung dengan gerakan proletariat. Si kecil Anna begitu kaget, mendapati dalam bentuk persis seperti gambaran si nanny: bercambang dan berpakaian merah. O, ayah sudah jadi komunis, pikirnya.

Hanya selang beberapa hari dari kepulangan ayahnya, perubahan drastic melanda hidup Anna. Mereka pindah ke apartemen sempit dengan dinding-dinding ruangan bercat merah. Tak ada lagi halaman belakang. Tak ada lagi kamar luas dan ruang keluarga yang hangat. Yang ada justru kamerad-kamerad ayahnya, pria-pria berjanggut yang berkumpul dan berdiskusi tentang gerakan komunis setiap tengah malam, menyesaki ruangan dengan asap rokok dan slogan-slogan partai. Tapi, kegaduhan itu ternyata bukan siksaan terakhir bagi Anna. Yang terburuk adalah ini: sejak hari itu ia tak boleh lagi mengikuti kelas alkitab. Pelajaran yang selama ini sangat ia sukai.



Mulai saat itu, bagi Anna, komunisme adalah perusak hari-hari bahagianya. Dan, seperti yang ia dengar dari si nanny, “Semua ini gara-gara fidel!” Jadilah, bagi bocah kecil nan lugu ini, nama Fidel Castro bukan sebuah ikon revolusi atau revolusi komunis. Fidel, yang ia tahu, adalah penyebab rumah, halaman belakang tempat bermain, dan kelas alkitab kesukaannya berganti apartemen sempit yang dipenuhi sekelompok manusia aneh di mata kecilnya. Fidel, bagi Anna, adalah biangkeladi dari kesialan demi kesialan yang menimpanya.

Julie Gavras memang mengajak kita untuk melihat peristiwa besar melalui kacamata kecil. Kecil dalam arti sesungguhnya. Ia mengajak kita untuk menyaksikan serangkaian peristiwa gejolak politik, revolusi, gerakan proletariat, dan perubahan ideologis dari kacamata seorang bocah kecil berusia sembilan tahun. Sutradara berdarah prancis ini menyajikan perspektif kecil nan lugu namun sering diabaikan. Melalui sosok Anna, ia seakan menyentil para penonton dengan satire yang humoris namun sangat lumrah terjadi pada setiap keluarga yang mengalami dampak dari perubahan yang terjadi secara radikal.

Secara cerdik, Gavras menyentil dua kubu ideology lewat celetukan lugu seorang bocah perempuan. Bagi sebagian golongan kiri, film ini mungkin terasa melemahkan cita-cita ideologis dengan melankolia individual. Misalnya saja, bagaimana harta benda harus dikorbankan demi membiayai pergerakan. Pada titik ini, Orang tua Anna yang mengubah gaya hidup mereka demi perjuangan ideologi yang berimbas pada kesialan-kesialan yang dikutuki Anna adalah contohnya. Di sisi lain, sosok Anna juga bisa dilihat sebagai simbol kemanjaan kelas menengah yang menolak menukar kekayaan privat demi menjalankan prinsip “sama rata sama rasa”.

Akan tetapi, poin sesungguhnya bukan pada ideology itu atau ini. Lewat dialog-dialog yang penuh humor, film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Domitilla Calamai ini menyajikan kenyataan dari setiap perubahan radikal yang terjadi di tengah masyarakat. Bahwa dalam perubahan, anak-anak kerap menjadi korban tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka adalah saksi dari gejolak politik yang ada tanpa tahu apa-apa. (sajadah.co)

 

Oleh : Ibnu Hajjar A dalam Majalah Kagama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *