tiket kereta api
Sumber foto: http://www.netralnews.com

Jadi Bisa Lamaran Berkat Pesan Tiket Kereta Api di Traveloka Sambil Tiduran

Posted on

Sajadah.co – Seorang mahasiswa rantau sangat membutuhkan transportasi jarak jauh untuk pulang ke kampung halaman dan kembali ke kampus demi mengadu nasib studi. Paling tidak, itulah yang saya rasakan. Bagi saya, keberadaan transportasi publik seperti kereta api sangat membantu untuk pulang dari Yogyakarta, ke tempat kelahiran saya, Mojokerto. Begitupun sebaliknya, untuk kemudian kembali ke Yogyakarta dari Mojokerto.

tiket kereta api
Sumber foto: http://www.netralnews.com

Terhitung sejak aktif kuliah di Yogyakarta pada 2009, saya selalu menggunakan kereta api untuk pulang atau kembali ke Yogyakarta. Rasa-rasanya pergi ke Yogyakarta memang paling romantis ditempuh naik kereta api. Lihat saja Rangga, dalam rangka mencari Cinta ia datang dari New York naik pesawat ke Jakarta lalu dilanjutkan menuju Yogyakarta dengan kereta api. Mengapa ia tak memilih langsung terbang ke Yogyakarta saja? Barangkali tidak ada rute New York – Yogyakarta. Atau barangkali ada alasan tertentu yang lebih romantis atau paling tidak dapat diromatisir. Tapi saya bukanlah Rangga. Sungguh. Saya hanya mahasiswa biasa.

Sejak harga tiket kereta api ekonomi Mojokerto – Yogyakarta dan Yogyakarta – Mojokerto hanya dibanderol Rp. 19.500 hingga mendekati Rp. 100.000 seperti saat ini, saya tetap setia dengan transportasi publik satu ini. Bukan karena kecintaan saya terhadap kereta api, akan tetapi hanya karena kebutuhan semata. Satu lagi, karena trauma naik bus.

Sejak bus yang membawa saya pulang dari Yogyakarta ke Mojokerto untuk pertama kalinya berhasil mengempaskan nasi saya ketika sedang santap sahur di dalam bus, sejak saat itu saya trauma naik bus. Bukan karena benci, hanya trauma biasa. Siapa yang tidak jengkel ketika waktu sudah mendekati imsak dan nasi bungkus untuk santap sahurnya meloncat berceceran dari genggaman tangan? Kata orang tua, nasi yang tidak dihabiskan akan menangis. Begitulah hati saya waktu itu, menangis untuk mewakili tangisan sang nasi yang belum sempat masuk ke perut saya.

Kebiasaan saya naik kereta api itu berlanjut hingga saya hampir menyelesaikan studi S2 saya di Yogyakarta.Bahkan, ketika S2, intensitas saya naik kereta api semakin meningkat. Maklum, kawan-kawan saya banyak yang menikah sehingga saya lebih sering pulang kampung atau pergi ke kota lain.

Pernikahan memang merupakan momen sakral bagi anak turun adam. Oleh karena itu, sebisa mungkin, saya tidak ingin melewatkan momen sakral kawan-kawan saya begitu saja. Sebenarnya, tidak hanya pernikahan, lamaran pun juga acara yang lumayan sakral. Sebab, bagaimana pun, sebermulanya adalah pacaran –boleh juga pacaran syar’i atau taarufan–, lalu lamaran, ujungnya adalah pernikahan. Akhirnya, tentu saja adalah kematian.

Kereta api bukan jodoh saya, meskipun sepertinya saya berjodoh dengan kereta api. Saya naik kereta api tidak hanya ke acara pernikahan kawan-kawan saya saja. Bahkan, ke rumah calon mertua untuk lamaran pun saya naik kereta api.

Tanggal cantik yang dipilih calon mertua saya yang tinggal di Magelang itu adalah hari santri kemarin, tanggal 22 Oktober 2017. Saya dan perempuan yang hendak saya pinang memang lama dibesarkan dalam tradisi pesantren. Mungkin karena itu, calon mertua saya memilih hari santri sebagai hari lamaran kami berdua. Selain alasan teknis dan taktis tentunya, yaitu karena calon mertua saya adalah PNS dan hari santri adalah tanggal merah.

Sebelum acara lamaran itu, orang rumah sudah ribut dan ribet mempersiapkan segala keperluan lamaran, termasuk seserahan yang terdiri dari puluhan kotak seserahan. Hingga mendekati hari H, barulah terpikirkan oleh orang tua saya bahwa mobil rumah cuma ada dua. Sebenarnya sih ada empat. Akan tetapi yang dua lagi adalah mobil angkutan barang.

Memang sempat terbersit untuk membawa tiga mobil dengan satu mobil angkutan barang tersebut. Akan tetapi, bukankah tidak elok apabila calon mempelai pria naik mobil angkutan dan naik di belakang? Mungkin orang-orang akan mengira si calon mempelai pria sedang ikut pawai hari santri dan sedang bertugas di bagian konsumsi. Mengingat seserahan lamaran lebih banyak terdiri dari kue-kue basah. Kalaulah rencana ini dijalankan, saya jamin, seserahan lamaran akan habis di tengah jalan karena menjadi rebutan santri yang sedang pawai dengan perut keroncongan.

Akhirnya, setelah perdebatan yang cukup panjang dan melelahkan, diputuskanlah tetap membawa dua mobil. Mobil pertama membawa ibu, bibi dan adik-adik saya. Sedangkan mobil kedua khusus untuk mengangkut seserahan. Lalu, bagaimana kabar calon mempelai pria? Tidak diajak kah ia dalam acara lamarannya sendiri? Tentu saja ia ikut. Akan tetapi dengan naik kereta api.

tiket kereta api 2
Sumber foto: http://tiketkeretaapi.com

Ya, akhirnya saya bersama ayah, bibi, paman, serta saudara sepupu saya memesan tiket kereta api ke Yogyakarta dan menginap sehari di sana untuk beristirahat sebelum esok harinya lamaran. Selain untuk menunggu dua mobil yang berangkat belakangan. Pesan tiketnya pun di waktu injury time, yakni pada tanggal 20 Oktober 2017, sehari sebelum keberangkatan. Inilah detik-detik penentuan, apakah si calon mempelai pria akan ikut ke acara lamarannya dengan naik kereta api atau tidak ikut? Atau akan memikirkan, meributkan, dan memperdebatkan pilihan lainnya yang belum terpikirkan?

Untungnya, ketika sedang di rumah dan mempersiapkan segala keperluan lamaran, ia sering menonton TV. Tidak sebagaimana biasanya ketika sedang di Yogyakarta yang hanya menonton TV ketika di Warung atau Burjo saja. Untungnya lagi, ia sempat teringat iklan Traveloka yang secara tidak sengaja, beberapa kali ia tonton di rumah.

Ia pun segera mengunduh aplikasi Traveloka dan mencari info lebih lanjut mengenai pemesanan tiket kereta di Traveloka. Ia menemukan bahwa pemesanan tiket kereta api di Traveloka memiliki cukup banyak kelebihan. Di antara kelebihan itu adalah stasiun destinasi yang ditawarkan sangatlah lengkap. Bahkan, untuk destinasi Yogyakarta saja ada Stasiun Lempuyangan, Tugu, Prambanan, Wates, hingga Sentolo.

tiket kereta api 1
Sumber foto: commons.wikimedia.org

Selain itu, metode pembayarannya pun beragam. Mulai dari kartu kredit, transfer via ATM, SMS, dan Internet Banking hingga melalui minimarket. Tentu ini sangat memudahkan bagi mahasiswa pemalas yang biasa menggunakan internet banking. Mahasiswa pemalas ini pun segera memesan tiket kereta api di Treveloka dengan internet banking sambil tiduran di kamar di saat anggota keluarganya kebingungan soal pemesanan tiket kereta api. Maklum, orang desa, generasi tua yang baru mengenal Facebook pula. Akhirnya ia jadi bisa lamaran berkat pesan tiket kereta api di Traveloka sambil tiduran. (sajadah.co)

2 thoughts on “Jadi Bisa Lamaran Berkat Pesan Tiket Kereta Api di Traveloka Sambil Tiduran

  1. ha ha ha … lucu ceritanya! Selamat ya yang udah lamaran .. mudah-mudahan segera syah deh menyusul Mbak Kahiyang dan Mas Bobby hihihi

    1. Terima kasih banyak atas doanya, Mbak Ericka 🙂
      Sayangnya nggak bisa nyusul jadi anak presiden, Mbak 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *