Kamus arab indonesia arab terlengkap al munawwir
Sumber foto: https://id.wikipedia.org

Kamus Arab Indonesia Terlengkap Al-Munawwir: Sejarah dan Proses Kelahirannya

Posted on

Kamus arab indonesia Al-Munawwir dapat dikatakan sebagai kamus arab indonesia terlengkap hingga saat ini. Kamus yang terdiri dari 1591 halaman ini masih menjadi kamus yang paling banyak digunakan sampai sekarang.

Kamus arab indonesia arab terlengkap al munawwir
Sumber foto: https://id.wikipedia.org

“Warson gawe apa, Cung? Kowe gawe kamus sing tenanan yo. Ora kena gawe kamus mung elek-elekan. Mbok cetak terus kok dol. Kudu sing apik tenan. Ngko nak ana sing ra ngerti takoko aku.” (K.H. Ali Ma’shum) [1]

Kamus Arab Indonesia Terlengkap Al-Munawwir – Ketika membicarakan K.H. Ahmad Warson Munawwir, kita tidak bisa meninggalkan mahakarya penting yang diwariskan sosoknya. Tidak lain dan tidak bukan adalah kamus arab indonesia Al-Munawwir. Kamus ini dikatakan sebagai kamus arab indonesia terlengkap. Klaim tersebut nampaknya cukup terlegitimasi mengingat sejauh ini Kamus Al-Munawwir masih menjadi yang paling banyak digunakan. Dengan bobot 1591 halaman, kamus arab indonesia Edisi Kedua karangan K.H. Ahmad Warson Munawwir itu telah dicetak sebanyak 22 kali sejak diterbitkan pada 1997. Dalam setahun, kamus ini terjual tak kurang dari 20.000 eksemplar.[2]

Di balik kemasyhuran Kamus Arab Indonesia Al-Munawwir, ada kerja keras sosok bersahaja K.H. Ahmad Warson Munawwir yang menyusunnya  kurang lebih 15 tahun.[3] Kamus arab indonesia Al-Munawwir ditulis semenjak K.H. Ahmad Warson Munawwir masih nyantri kepada K.H. Ali Ma’shum. Penyusunan kamus ini juga tak lepas dari bimbingan sang guru. Bisa dikatakan, Kamus arab indonesia Al-Munawwir adalah personifikasi keduanya. Ia adalah perwujudan kristalisasi ilmu bahasa Arab K.H. Ahmad Warson Munawwir yang didapat dari gemblengan seorang “Munjid Berjalan”, K.H. Ali Ma’shum.

Jejak Langkah Penulisan Kamus Al-Munawwir

Sebelum Edisi Kedua yang sekarang beredar ini diterbitkan, kamus arab indonesia Al-Munawwir dicetak pertama kali pada 1976 masih dengan tulisan tangan dan baru sampai dengan huruf dzal.[4] Dengan asumsi bahwa kamus arab indonesia Al-Munawwir selesai ditulis pada 1975, maka bisa diperkirakan penulisannya telah dimulai sejak 1960 ketika almarhum berusia 26 tahun atau bahkan jauh sebelumnya.

Baca Juga : 8 Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Terbaik Se-Indonesia yang Sudah Teruji Kualitasnya

Sebidang gotha’an kecil yang berada di depan ndalem Nyai Hj. Sukis menjadi saksi bisu bagaimana Kamus arab indonesia al-Munawwir secara telaten disusun dalam malam-malam yang hening. Kamar yang baru dialiri listrik pada 1956 dihuni K.H. Ahmad Warson Munawwir seorang diri. Kamar ini sengaja disediakan oleh K.H. Ali Ma’shum agar kader utamanya itu memperoleh ketenangan dalam belajar.

Penyusunan kamus tentu saja membutuhkan derajat kapasitas tertentu, terutama di bidang bahasa. Proses pembentukan kognisi K.H. Ahmad Warson Munawwir telah berlangsung selama dalam waktu yang panjang di bawah asuhan K.H. Ali Ma’shum, hingga pada akhirnya beliau memiliki cukup modal untuk menyusun sebuah kamus. Menurut K.H. Munawwir Abdul Fattah, kesuksesan K.H. Ahmad Warson Munawwir menjadi seorang ‘alim yang akhirnya berhasil menelurkan kamus arab indonesia sekelas Al-Munawwir didorong oleh tiga hal. Pertama, adanya semangat yang tinggi. Hal ini berkenaan dengan kerja keras dan ke-istiqomah-an beliau yang terutama didorong oleh kesadaran sebagai keturunan kiai besar yang memiliki tanggung jawab kepada pondok. Kedua, adanya kesempatan. Yaitu, usia muda dan fasilitas yang cukup, antara lain disediakannya kamar pribadi. Ketiga, ibarat permainan sepak bola, suksesnya K.H. Ahmad Warson Munawwir menjadi “pemain bintang” karena adanya “pelatih” yang mumpuni. Siapa lagi kalau bukan K.H. Ali Ma’shum.

Baca Juga : 2 Pondok Pesantren Tahfidz Quran Anak Terbaik di Indonesia

Tahun 1960 menjadi penanda riwayat Kamus arab indonesia Al-Munawwir dimulai. Penulisan kamus arab indonesia ini dilakukan ketika K.H. Ahmad Warson Munawwir sudah menjadi seorang ustadz di Pondok Pesantren Krapyak. Pagi hingga sore hari beliau banyak menghabiskan waktu untuk mengajar, baik itu di sekolah formal atau bandongan. Terkadang, di siang hari beliau juga disibukkan dengan berbagai kegiatan selain mengajar. Di usia produktifnya ini, K.H. Ahmad Warson Munawwir sudah mulai menerjunkan diri di berbagai organisasi. Antara lain menjadi aktivis di Gerakan Pemuda (GP) Anshor, Gerakan Muda Islam (Gemuis) serta menjadi pemimpin redaksi di Harian Duta Masyarakat. Selain itu, beberapa kegiatan wirausaha pun mulai dirintisnya. Dengan berbagai kesibukan tersebut, malam hari menjadi satu-satunya pilihan waktu pilihan bagi K.H. Ahmad Warson Munawwir untuk menulis. Beliau rela menukar beberapa jam waktu tidurnya demi memperoleh waktu kondusif untuk mewujudkan maha karyanya itu. Nyai Hj. Sukis sang ibu pun turut memberi dukungan pada putranya. Alkisah, beliau tidak pernah absen menyediakan air minum ketika K.H. Ahmad Warson Munawwir menulis.[5]

Kamus arab indonesia arab terlengkap al munawwir kh warson munawwir
Almaghfurlah KH. Achmad Warson Munawwir

Menulis kamus arab indonesia Al-Munawwir menjadi rutinitas malam hari yang beliau lakukan sambil sesekali beristirahat. “Ketika nanti agak blank, beliau keluar mengajak saya,” tutur H. Ma’ruf Masduki. Hal yang sama juga disampaikan oleh kemenakan beliau, Bapak Arifin, putra dari Nyai Jamalah. Sewaktu K.H. Ahmad Warson Munawwir menulis kamus arab indonesia Al-Munawwir, Bapak Arifin pernah memiliki usaha warung di barat pondok. Ketika malam hari, sekitar pukul 21.30 WIB sesekali K.H. Ahmad Warson Munawwir datang ke warung untuk melepas penat. Di warung beliau bercengkrama santai sembari bermain catur atau tenis meja bersama santri-santri senior seperti K.H. Attabik Ali, K.H. Jirjis Ali dan K.H. Hasbulloh almarhum.



Menulis kamus tentu membawa tantangan-tantangan tersendiri. Perbedaan bahasa, membuat sulitnya pencarian padanan kata Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia.  K.H Ahmad Warson Munawwir mengumpulkan mufrodat atau kosa kata dengan bersumber dari al-Qur’an dan hadist.[6] Beliau kemudian menggunakan berbagai kitab dan kamus lain sebagai referensi dalam menyusun kamusnya. Berbagai keterangan dari sejumlah referensi itu lantas beliau tulis intisarinya dalam lembar-lembar kertas. Konon, lembaran kertas tersebut ia kumpulkan dari berbagai macam tempat. Antara lain dari kertas-kertas bekas yang dikumpulkannya dari kantor Harian Duta Masyarakat, hingga kertas rokok tipis yang beliau temukan dari mana saja.[7] Begitulah secara terus menerus beliau menyusun manuskrip dengan tulisan tangan hingga jumlahnya mencapai 3.000 halaman.[8] Sayangnya, manuskrip berharga itu hilang bersamaan ketika dilakukan penataan barang-barang di ndalem beliau pasca gempa Yogyakarta pada 2006. Besar kemungkinan manuskrip itu ikut terbakar bersama benda-benda lainnya.[9]


Pondok Pesantren Tahfidz Quran Anak Al-Munawwir, Komplek Q, Krapyak

Proses penulisan kamus arab indonesia Al-Munawwir yang disusun berdasarkan makna dasar itu, tidak lepas dari pemantauan K.H. Ali Ma’shum. Jika dalam kamus tertulis nama K.H. Ali Ma’shum sebagai salah satu pentashihnya, maka hal tersebut memang benar-benar beliau lakukan secara cermat. Proses pentashihan kamus arab indonesia Al-Munawwir dilakukan dengan metode setoran[10]. Setiap kali K.H. Ahmad Warson Munawwir menyelesaikan beberapa halaman untuk kamus arab indonesianya, beliau membawa naskah tersebut kepada K.H. Ali Ma’shum yang lantas memeriksanya sambil dipijit oleh K.H. Ahmad Warson Munawwir. Begitu seterusnya hingga kamus rampung dikerjakan.

Kontribusi K.H. Ali Ma’shum terhadap kamus arab indonesia karya K.H. Ahmad Warson Munawwir itu tak hanya sampai di situ. Masih menurut kesaksian H. Mushlih Ilyas, K.H. Ali Ma’shum jugalah yang pertama kali membiayai pencetakan kamus arab indonesia Al-Munawwir secara utuh pada 1984. Sebelum dicetak utuh, kamus arab indonesia Al-Munawwir itu juga pernah dicetak hanya sampai huruf dzal pada 1976. Kamus arab indonesia yang dicetak secara swadaya tersebut kemudian didistribusikan secara mandiri dari tangan ke tangan. H. Mushlih Ilyas berperan penting dalam proses panjang penerbitan dan pendistribusian kamus arab indonesia ini.

H. Mushlih Ilyas yang saat itu tengah mengenyam pendidikan tinggi di UIN Sunan Kalijaga, masih tinggal dan nyantri dengan K.H. Ali Ma’shum. Beliau memulai distribusi kamus arab indonesia Al-Munawwir ke pesantren-pesantren. Hampir seluruh wilayah Jawa Timur disisirnya. Mulai dari Pasuruan, Tulungagung, Trenggalek hingga Surabaya. Namun demikian, penjualannya belum dapat dikatakan berhasil. Saat itu harga kamus arab indonesia Al-Munawwir di pasaran masih sebesar Rp. 30.000,- dari harga produksinya Rp. 20.000,. Nilai yang cukup tinggi pada masanya. Di samping itu, kebutuhan akan kamus arab indonesia pun belum sebanyak sekarang. Walhasil, kamus arab indonesia Al-Munawwir belum banyak terjual karena pembelinya masih terbatas pada para kiai.



Namun, H. Mushlih Ilyas tidak menyerah sampai di situ. Suatu saat, beliau memiliki inisiatif untuk menawarkannya ke beberapa penerbit. Hampir semua toko buku penerbit di Ampel, Surabaya, beliau masuki. Sayangnya, tak ada yang menawar harga di atas Rp. 15.000,-. Penawaran tertinggi diberikan oleh penerbit Pustaka Progressif, dengan banderol Rp. 17.500,- Karena harga belum sesuai dengan ekspektasi, penjualan secara eceran pun kembali menjadi pillihan. Proses panjang penerbitan juga pernah mengantarkan naskah kamus arab indonesia Al-Munawwir dicetak di Solo dan Brangkal, Mojokerto, namun keduanya tak jua berhasil memuaskan. Baru setelah itu, dengan negosiasi panjang dan jatuh bangun pengalaman, percetakan diserahkan kepada Pustaka Progresif sejak 1984 hingga hari ini.

Edisi pertama kamus arab indonesia Al-Munawwir pada 1984 masih menggunakan tulisan tangan untuk huruf arabnya. Proses komputerisasi naskah kamus arab indonesia Al-Munawwir dilakukan sejak 1992. Pada masa itu, tugas ini diemban oleh K.H. Habib A. Syakur. “Saya diminta mengetikkan, kemudian diteruskan orang lain dari Mojokerto, saya bagian editing dan memberi usulan-usulan tambahan,” jelasnya. K.H. Habib A. Syakur yang kini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad sekaligus dosen di UIN Sunan Kalijaga ini juga mengungkapkan keunggulan kamus arab indonesia Al-Munawwir. Menurutnya, kamus arab indonesia Al-Munawwir sebagai kamus klasik sangat kaya akan variasi kata sehingga bisa dikatakan terlengkap. Jika pada halaman pendahuluan kamus arab indonesianya itu K.H. Ahmad Warson Munawwir menuliskan harapannya agar kamus arab indonesia Al-Munawwir dapat “membantu mereka yang bermaksud menggali mutiara-mutiara berharga dalam kitab-kitab berbahasa arab”, maka dengan kualitas yang dimilikinya, kini tujuan itu telah tercapai.

Kamus arab indonesia Al-Munawwir kini telah digunakan secara luas tidak saja di dalam negeri tapi juga mancanegara. Kamus arab indonesia Al-Munawwir tersebut digunakan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di Yaman dan Mesir. Bahkan, menurut penuturan seorang wartawan, kamus arab indonesia Al-Munawwir tersebut juga tersimpan di sebuah perpustakaan di Vatikan.[11]

Penjualan Kamus arab indonesia Al-Munawwir yang laris manis di pasaran pernah mendorong salah satu penerbit memberikan tawaran pembelian hak cipta senilai kurang lebih 5 Milyar. Namun, sedari awal niat K.H. Ahmad Warson Munawwir dalam menyusun kamus arab indonesianya bukanlah demi orientasi material melainkan nashrul ilmi.[12]Penyusunan kamus arab indonesia Al-Munawwir yang memakan waktu selama sepuluh tahun dengan penuh ketekunan bukanlah proses yang instan. K.H. Ahmad Warson Munawwir menghendaki pada akhirnya kamus arab indonesia Al-Munawwir yang disusunnya bisa membawa keberkahan secara terus-menerus. Dengan demikian beliau tidak memilih menjual karyanya tersebut melainkan mengizinkannya diterbitkan secara berkala.

Dalam perkembangannya, kamus arab indonesia Al-Munawwir sebagai salah satu kamus terlengkap tidak saja menjadi rujukan bagi para pengguna melainkan juga menginspirasi lahirnya kamus-kamus arab indonesia lainnya. Setidaknya empat lima kamus yang disusun dari pengembangan kamus arab indonesia Al-Munawwir. Antara lain, Kamus Kontemporer karya K.H. Attabik Ali dan Zuhdi Mukhdlor,  Kamus inggris arab indonesia karya K.H. Attabik Ali, Kamus arab indonesia Al-Bisri karya Chatib Bisri, Kamus Al Munawwir indonesia arab karya bersama K.H. Ahmad Warson Munawwir dan A. Fairuz Warson serta Kamus Tullab karya Gus A. Fairuz Warson dan Gus Kholid Rozzaq. Sedangkan, pengembangan Kamus Al-Munawwir lainnya yang sedang dijalankan oleh Gus Kholid Rozzaq dan Gus A. Fairuz Warson antara lain, Khazanah Kamus Al-Munawwir dalam bentuk kamus indonesia arab istilahi, Kamus Al-Munawwir Mini, Kamus Hadist Al-Munawwir serta Kamus arab indonesia Al-Munawwir versi luks dengan tambahan gambar- gambar dan warna penanda.

Keberadaan Kamus arab indonesia Al-Munawwir pada akhirnya menjadi pencerah bagi santri yang mengaji. Meski tidak bisa mengaji bersama sang gurusecara langsung, namun, siapapun yang membaca Kamus arab indonesia Al-Munawwir secara tidak langsung sedang berhadapan dengan penulisnya, K.H. Ahmad Warson Munawwir. (sajadah.co)

Sumber : Khalimatu Nisa dan Fahma Amirotulhaq. 2015. Jejak Sang Pionir Kamus Al-Munawwir : KH. A. Warson Munawwir. Pustaka Komplek Q: Yogyakarta.

 

End Note:

[1] “Warson, kamu sedang membuat apa? Kamu kalau membuuat kamus yang sungguh-sungguh. Jangan tanggung-tanggung. Kamu cetakk terus dijual. Kamu harus membuat dengan bagus. Nanti kalau ada yang tidak tahu, tanyakan padaku.” Kutipan K.H. Ali Ma’shum itu dituturkan K.H. Ali As’ad dalam Majalah Bangkit Edisi 03/TH.III/KHUSUS/2014 hal 12.

[2] Dari Gus Kholid Rozaq. Pada 26 Oktober 2014, dalam rangka harlah, Kopontren Al-Munawwwir mengadakan bedah kamus Al-Munawwir. Berbeda dari lazimnya acara bedah buku yang membedah buku baru, bedah kamus Al-Munawwir justru baru dilakukan 30 puluh tahun setelah penerbitannya yang pertama. Mewakili pihak keluarga dan pembina Kopontren Gus Kholid Rozaq menyamoaikan, salah satu sifat kental K.H. Ahmad Warson Munawwir adalah tawaddu’nya. Beliau tidak terlalu menyukai publikasi. Jika di masa hidupnya beliau dimintai izin untuk mengadakan bedah kamus, pasti jawaban beliau, “Rasah bedah-bedahan, aneh-aneh wae[2],” kenang Gus Kholid.

Selama 30 tahun Al-Munawwir belum mengalami revisi yang berarti. Dalam diskusi bedah kamus yag menghadirkan K.H. Ali As’ad dan K.H. Munawwir Abdul Fattah dikemukakan beberapa agenda penyempurnaan Kamus Al-Munawwir. Antara lain, Sebagai kamus yang mensyaratkan pengetahuan dasar tentang kosakata Bahasa Arab bagi para penggunanya, kamus ini perlu dilengkapi dengan pengantar yang menukik pada petunjuk teknis. Perkembanganzaman juga membuka penyempurnaan kosakata begitu juga peristilahan yang dimuat dalam Al-Munawwir. Perlu dibuat satu tim abadi yang bertugas mengemban penyempurnaan tersebut. Ke depan, Al-Munawwir pun dapat merespon perkembangan teknologi dengan mengembangkan versi virtual.

[3] Dari Bapak M. Yusuf Thoha

[4] Dari K.H. Habib A. Syakur

[5] Dari Bapak. H. Ma’ruf Masduki

[6] Dari Gus Kholid Rozaq

[7] Dari Bapak H. Iskandar

[8] Dari Gus Kholid Rozaq

[9] Dari Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson

[10] Dari H. Muslih Ilyas

[11] Dari Nyai Hj. Husnul Khotimah Warson

[12] Dari K.H. Ali As’ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *