larangan larangan haji dan umrah 1
Sumber foto: https://qz.com

Larangan-larangan Haji dan Umrah yang Wajib Anda Ketahui

Posted on

Larangan Haji dan Umroh – Dalam menjalankan ibadah haji dan umrah, ada syarat dan rukun yang harus kita laksanakan agar haji dan umrah kita menjadi sah. Namun, ada juga larangan-larangan haji dan umrah yang wajib kita hindari agar tidak membatalkan ibadah haji dan umrah kita. Apa saja larangan-larangan haji dan umrah tersebut?

Larangan-larangan haji dan umrah ada enam yaitu:

Pertama, memakai kemeja, celana, muzah (sepatu kulit) dan surban. Seyogyanya memakai kain sarung, selendang dan dua sandal. Kalau tidak menemukan sandal, boleh memakai kasut. Kalao tidak menemukan kain sarung, boleh memakai celana.[1] Tidak masalah memakai minthaqah[2] (semacam ikat pinggang) dan bernaung pada kendaraan. Tidak seyogyanya menutup kepalanya karena ihram laki-laki berada di kepala.[3]

Baca Juga : Rukun-rukun Haji yang Wajib Anda Ketahui

Baca Juga : Syarat-syarat Haji yang Wajib Anda Ketahui

Bagi perempuan, boleh memakai pakaian berjahit tanpa menutupi wajahnya dengan sesuatu yang bersentuhan langsung dengannya karena ihram perempuan terletak di wajahnya.[4]

Kedua, memakai wewangian. Hendaklah menghindari segala sesuatu yang berbau wangi menurut penalaran akal. Jika seseorang memakai minyak wangi atau mengenakan pakaian yang dilarang tadi, maka wajib baginya membayar Dam dengan menyembelih seekor kambing.[5]

larangan larangan haji dan umrah
Sumber foto: https://financialtribune.com

Ketiga, mencukur rambut[6] dan memotong kuku. Bila dilakukan harus membayar fidyah berupa Dam seekor kambing. Tidak masalah memakai celak,[7] masuk ke pemandian umum, mengeluarkan darah, berbekam dan menyisir rambut.



Keempat, bersetubuh. Ini merusak haji apabila dilakukan sebelum Tahallul pertama dan Dam yang harus dibayar adalah seekor unta betina atau sapi atau tujuh ekor kambing. Jika dilakukan setelah Tahallul pertama, maka wajib menyembelih seekor unta betina dan hajinya tidak rusak.[8]

Kelima, melakukan hal-hal yang menjadi pembuka hubungan badan dengan wanita seperti ciuman dan bersentuhan yang membatalkan wudhu. Hal ini diharamkan[9] dan harus membayar Dam seekor kambing.[10] Begitu juga halnya dengan tindakan masturbasi. Diharamkan pula menikah dan menikahkan. Namun tidak ada kewajiban membayar Dam karena secara otomeninggals akad pernikahan itu tidak sah.[11]

Keenam, membunuh binatang buruan darat.[12] Maksud saya adalah hewan yang bisa dimakan atau hewan yang lahir dari perkawinan silang antara binatang halal dan binatang haram. Apabila melakukannya, maka wajib menggantinya dengan binatang ternak yang serupa dengan memperhatikan lebih-kurang bentuknya. Adapun berburu binatang laut dihalalkan dan tidak ada tanggungan membayar dam.[13]

Demikianlah larangan-larangan haji dan umrah yang wajib anda ketahui sebelum anda melaksanakan ibadah haji.

Tulisan mengenai larangan haji dan umrah ini diambil dari buku yang berjudul Rahasia Haji & Umrah yang diterbitkan oleh Turost Pustaka pada Oktober 2017. Buku ini merupakan terjemah dari kitab Asrorul Hajj karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali



Footnote Larangan Haji dan Umrah:

[1] Berdasarkan hadits Ibnu Umar dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi pernah ditanya tentang pakaian yang harus dipakai ketika ihram, lalu beliau bersabda, “Jangan memakai baju dan celana, surban, mantel penutup kepala, muzah kecuali orang yang tidak mendapati dua sandal, maka hendaklah dia memakai muzah dan memotong bagian atasnya di bawah mata kaki.”

[2] Yang diikatkan pada perut. Begitu juga dengan hamyan karena keperluan nafkah  dan lainnya.

[3] HR. Imam Asy-Syafi’i dan Al-Baihaqi dari hadits Ibrahim bin Abu Hurrah dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas,  “Apabila seseorang jatuh dari kendaraannya (meninggal), maka janganlah kalian menutupi kepalanya karena kelak pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah.”

[4] Karena wajah bagi wanita seperti kepala bagi pria. Hal itu ditunjukkan oleh letak ihram pria pada kepalanya dan letak ihram wanita pada wajahnya. Landasan dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari hadits Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’, “Janganlah perempuan memakai niqab (cadar) dan jangan memakai kaos tangan.”

[5] Pembahasan tentang poin ini berkaitan dengan urusan fidyah pada tiga perkara: minyak wangi, memakainya dan sengaja melakukannya.

Adapun minyak wangi, maka yang dihitung sebagai larangan ihram adalah apabila sebagian besar niatnya adalah memakainya untuk wewangian dan dijadikan bahan membuat minyak wangi seperti minyak misik, kayu gaharu, ambar dan kamper.

Kemudian tumbuh-tumbuhan yang wangi bermacam-maca. Di antaranya dicari untuk obat dan dibuat minyak wangi seperti mawar meskipun dipakai untuk pewarna dan obat. Ada pula yang dicari untuk dimakan dan dipakai obat pada umumnya seperti tidak ada sangkut pautnya dengan fidyah seperti cengkeh, mayang dan jenis-jenis biji yang wangi.

Adapula yang dipakai untuk wewangian namun tidak dibuat minyak wangi seperti tanaman narcisus  dan sejenisnya. Dalam hal ini ada dua pendapat.

[6] Maksudnya mencukur rambut sebelum waktu tahalul adalah perkara terlarang. Allah SWT berfirman, “Janganlah kalian mencukur rambut kalian.”

Dan Allah mewajibkan fidyah atas orang yang terkena udzur dan mencukur rambut ketika berfirman, “Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah.” (Al-Baqarah: 196) Apabila orang yang terkena udzur diwajibkan membayar fidyah, maka bagi terhadap selainnya, jauh lebih diwajibkan. Tidak ada perbedaan antara mencukur rambut kepala dan bulu badan. Adapun rambut kepala menurut nashnya adalah menghilangkannya. Sedangkan selain rambut kepala, lebih banyak dibersihkan dan bersenang-senang ketika menghilangkannya.



[7] Selama tidak mengandung unsur wewangian.Menurut Abu Hanifah, boleh memakai celak secara mutlak. Pendapat ini dinukil dari Al-Muzni. Sedangkan dikutip dari kitab Al-Imla`, hukumnya makruh secara mutlak. Pihak yang moderat mengambil jalan tengah dengan berpendapat bahwa jika tidak mengandung unsur berhias diri, maka tidak dimakruhkan memakai celak, namun jika bermaksud untuk berhias diri maka hukumnya makruh kecuali karena keperluan mengobati mata perih dan lainnya.

[8] Allah SWT berfirman, “Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (Al-Baqarah: 197) Rafats ditafsirkan dengan bersetubuh. Perbuatan ini merusak haji sebagaimana diriwayatkan dari Umar, Ali, Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan para sahabat lainnya, juga disepakati oleh para ulama sepeninggal mereka bahwa haji hanya bisa rusak dengan bersetubuh.

[9] Apabila dilakukan sebelum tahalul pertama. Apabila terjadi setelah tahalul pertama, para ulama berbeda pendapat.

[10] Apabila menyentuh sedikit dari kulit wanita secara sengaja. Diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Abbas bahwa keduanya mewajibkan dam seekor kambing apabila mencium wanita. Perkataan Ali diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari jalur Jabir Al-Ja’fi dan statusnya lemah, dari Abu Ja’far, dari Ali dan tidak didapatinya. Sedangkan perkataan Ibnu Abbas disebutkan oleh Al-Baihaqi namun tidak menjabarkan sanadnya. Apabila menciumnya dalam keadaan lupa, maka semua menyepakati bahwa tidak ada kewajiban membayar dam.

[11] Tidak sah  apabila orang ihram menikah dan menikahkan. Begitu juga tidak sah menikahi perempuan ihram.

[12] Berdasarkan firman Allah, “Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram.” (Al-Ma`idah: 96) Pengharaman ini tidak hanya berlaku ketika ihram tapi juga memiliki sebab lain yaitu dilakukannya di tanah haram. Karena bertemua dua sebab dalam perkara yang menuntut keharamannya, para sahabat kami berkata, “Yang dimaksud dengan jinayat ihram adalah perbuatan yang dilarang karena dilakukan ketika ihram di tanah haram.”

[13] Berdasarkan firman Allah, “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut.” (Al-Ma`idah: 96) Menurut sahabat kami, binatang buruan laut adalah binatang yang hanya hidup di laut. Adapun binatang yang bisa hidup di darat dan di laut hukumnya sama seperti binatang yang hidup di darat.

Semoga tulisan mengenai larangan-larangan haji dan umrah ini bisa bermanfaat dan menjadi bekal bagi yang ingin berhaji untuk mengetahui larangan-larangan haji dan umrah.

(Sajadah.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *