Sumber foto : Borneonews.co.id

Mahfud Ikhwan : Desa, Sepakbola, dan Film India

Posted on

Desa, bagi Mahfud Ikhwan adalah ladang inspirasinya. “Aku memiliki kemewahan untuk menulis tentang desa. Tanpa harus membuatnya terlalu dramatis,”kata alumnus Sastra Indonesia FIB UGM ini. Ia tidak ingin disamakan dengan Ahmad Tohari atau Andrea Hirata yang terlalu bermanis-manis dengan heroisme orang-orang kecil. Ia menulis novel Ulid Tak Ingin Ke Malaysia yang berkisah tentang seorang anak desa yang terpaksa harus pergi ke Malaysia. Novelnya Kambing dan Hujan juga bercerita tentang kehidupan rural orang NU dan Muhammadiyah. Karyanya yang disebut terakhir inilah yang mengantarkannya memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014.

Menurut para juri, karya Mahfud ini berhasil menuturkan kisah cinta anggota dua organisasi besar Islam di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Karya yang dikerjakan hampir selama sepuluh tahun ini secara tersirat berusaha menuturkan konflik laten antara dua organisasi ini. NU memilih jalan tradisional-rural dan Muhammadiyah yang memilih jalan modernis-urban.  Menurut para juri lagi, karya ini sangat teliti dalam kebahasaan. “Variasi dan permainan bahasanyabisa dikatakan unggul. Dari penggunaan bahasa tulis generasi tua pada dasawarsa 1960-an, yang masih menggunakan ejaan Suwandi, hingga bahasa e-mail dan SMS generasi muda saat ini,” ujar Zen Hae, salahsatu juri sayembara ini. Menurut Zen, Mahfud berhasil menyajikan perbedaan pandangan NU dan Muhammadiyah berhasil disampaikan dengan apik tanpa terjebak menjadi mimbar dakwah.

Kambing dan Hujan adalah metafora atas relasi NU dan Muhammadiyah,“kata Mahfud,” mereka tidak bisa bersama.” Menurutnya, NU dan Muhammadiyah mesti mengakui adanya konflik laten di kalangan akar rumputnya. Konflik yang sulit didamaikan. Seperti halnya kambing dan hujan. Kambing tidak suka hujan. Terlalu sulit untuk menemukan kambing yang yang mau terkena air hujan, apalagi suka berhujan-hujan. Terlalu sulit untuk menemukan orang NU yang memiliki hubungan baik dengan orang Muhammadiyah, juga sebaliknya. “Kambing dan hujan mewakili dua hal yang sulit disatukan. Kambing sangat tidak menyukai air. Tapi apakah mereka dapat berjalan bersama. Sesekali mungkin. NU dan Muhammadiyah ya seperti itu. Mereka mungkin bisa saling mendukung,berdampingan, tapi jangan dipaksakan,” tambah pemuda kelahiran Lamongan ini.

“Novel ini berkisah tentang dua generasi. Generasi pertama, adalah generasi sekarang, Mif dan Fauziyah yang jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Generasi kedua, adalah kedua besan,” kisah Mahfud. Mif dan Fauziyah tahu kalau kisah cinta mereka akan mengalami banyak hambatan karena perbedaan latar belakang mereka. Ayah Fauziyah adalah tokoh Muhammadiyah, sementara ayah Mif adalah tokoh NU. Masalahnya menjadi rumit karena kedua besan adalah kawan masa kecil, kawan seperjuangan yang terpisah karena pilihan “jalan perjuangan” yang berbeda.

Konflik ini seringkali dianggap sepi, namun ada. NU dan Muhammadiyah memang banyak ditulis namun belum ada yang menulisnya dalam bentuk fiksi. Ia ingin membngkar stereotype yang tersimpan dalam benak anggota kedua organsiasi besar ini. “Perbedaan itu mungkin kecil, atau dianggap kecil. Namun inilah yang tumbuh menjadi prasangka antara keduanya,” kata Mahfud.

Karya ini ditulis dalam waktu yang relati lama, sepuluh tahun. “Ini kutulis sejak 2004, namun tidak intens. Kambing dan Hujan kutulis secara sporadis. Sesekali mandeg, kutinggal, kemudian kudekati lagi, begitulah,” kata pemuda asal Lamongan ini. Namun ia bersyukur telah merampungkan novelnya. Ia banyak belajar tentang NU dan Muhammadiyah dalam berbagai tinjuan ilmu.



Mahfud mengaku banyak mengambil inspirasi dari Putu Wijaya dan Kuntowijoyo. Putu Wijaya mengajarkan kepadanya tentang kelugasan berbahasa. Kuntowijoyo menunjukkannya cara untuk menyampaikan apa yang akrab dengannya, tentang desa. Desa memang menjadi tema sentral dalam karya-karya Mahfud. Kuntowijoyo lah yang mempengaruhinya untuk tetap menulis tentang desa dengan gagah.

“Sudah hampir separuh umurku aku menetap di kota, tapi sampai saat ini masih merasa orang desa. Meski demikian, kalau kembali ke desa, aku tidak akan benar-benar kembali. Dan tidak menemukan apa yang dulu kukenal. Desaku mungkin berubah, atau yang berubah adalah aku. Akhirnya jadi orang mangkak, manusia ulang alik, nanggung. Kita selalu menjadi orang asing di Jogja, bahkan kalau punya rumah di sini, kita tetap pendatang. Aku adalah orang desa yang tercerabut, dan karena itu punya kemewahan untuk menuliskannya. Tapi pada saat yang sama, aku tidak benar-benar mau menjadi orang kota. Karena tidak benar-benar menyelami, atau resisten mungkin,” jelas Mahfud.

Selain menulis fiksi, Mahfud juga adaah menulis tentang film-film India. Ia mengelola blog dushmanduniyaka.wordpress.com dengan sangat serius. “Menyukai India hampir seperti sebuah, warna hitam pada kulitku. Itu hampir kuterima sebagai takdir. Menuliskan tema yang tidak banyak ditulis oranglain itu asyik. Itu naluriah,” katanya.

“Aku menulis tentang India karena dua alasan. Pertama, cara pandang yang merendahkan terhadap India. Kita tidak pernah memiliki prasangka terhadap film Eropa, Hollywood, Korea, Mandarin. Tapi kalau ketemu India, kita punya prasangka, seperti halnya terhadap lagu Malaisya. Karena sesuatu yang lebih terang, yang ada di atas angin, itu kita kagumi. Kita masih mengalami inferiority complex. India nasibnya sama dengan kita, pernah dijajah, ya kere, itu membuat kita tidak punya respek. Rasa ingin tahu kita mampat oleh prasangka itu,” jelasnya.

Alasan kedua Mahfud adalah karena memang kecenderungan dirinya untuk membela yang lemah dan dientengkan. “Aku tidak menulis Hollywood, karena kupikir, ada secara naluri, aku membela yang lemah, atau yang dientengkan. Kenapa membela? Ya mbuh. Karena mungkin mereka tidak dianggap serius,” katanya. Dushman duniyaka sendiri bermakna “the enemy of the world”, sebagaimana ditegaskan dalam judul blog tersebut : Aku dan film India melawan dunia.



Mahfud menyayangkan tulisan jurnalistik sepakbola yang terlalu mekanik. Tulisan sepakbola hanya tentang prediksi, bursa transfer, profil dan laporan pertandingan. Tidak ada sentuhan akrab dan manusiawi dalam tulisan-tulisan bola di Indonesia. “Tulisan bola di Indonesia terlau kaku, formal, dan dingin. Makanya aku mengambil perspektif seorang fan. Hal ini diperburuk lagi dengan tulisan dalam laman online yang hanya mempertimbangkan unsur kecepatan,”katanya.

Bersama rekannya, Darmanto Simaepa, Mahfud melansir belakanggawang.blogspot.com. Di sinilah ia mencurahkan gairahnya untuk menulis tentang sepakbola dalam perspektif yang lebih manusiawi. Perspektif seorang fans. “Kita hidup dengan sepakbola, kita bersorak ketika tim kita menang. Menangis pula saat tim kita kalah tanding,” ungkapnya.

Kisah-kisah Mahfud, baik dalam tulisan fiksi maupun non-fiksinya, berkisar dalam satu titik pusat : kemanusiaan yang apa adanya. Mahfud ingin menyampaikan pada kita, orang-orang desa adalah memang pejuang tangguh tanpa perlu melodramatik. Kita tak perlu pula segan menonton film India karena negaranya Amitab Bacchan ini juga menghasilkan film-film yang patut dipuji. Ia pun mengingatkan kita, untuk lebih menikmati bola dengan lebih manusiawi. (sajadah.co)

 

 

Oleh : M. Nafi dalam Majalah Kagama

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *