proses pengomposan
deni275.wordpress.com

Memahami Tahapan Proses Pengomposan

Posted on

Pengomposan tidak serta merta bisa langsung jadi. Ia butuh proses. Apa saja sih sebenarnya tahapan proses dalam pengomposan? Berikut penjelasannya.

Proses Pengomposan – Setelah melakukan proses pengomposan dengan metode yang dianggap paling sesuai, perlu dipahami pula bagaimana proses pengomposan berlangsung hingga akhirnya dapat dinyatakan siap untuk dipanen. Menurut Sutanto (2002:40-45), proses dekomposisi bahan organik dapat dipilah menjadi tiga tahap yaitu sebagai berikut.

  • Tahap dekomposisi dan sanitasi

Pada tahap ini kondisi bahan organik berada di level pra-matang atau tengah dalam proses dekomposisi intensif. Selama tahap awal ini dihasilkan suhu yang cukup tinggi dalam  waktu relatif pendek dan bahan organik yang mudah terdekomposisi akan diubah menjadi senyawa lain. Produk yang dihasilkan pada tahap ini adalah kompos segar dengan status pematangan kategori II.

  • Tahap konversi

Di tahap konversi terjadi proses pematangan utama kompos. Selama tahap pematangan utama dan pasca pematangan, bahan yang agak sulit terdekomposisi menjadi terurai dan terbentuk ikatan komplek lempeng-humus. Proses ini membawa outputberupa kompos segar dengan status pematangan kategori III.

Baca Juga :

  • Tahap sintetik

Tahap sintetik merupakan fase pasca-pematangan yang menghasilkan kompos matang dengan status pematangan pada kategori IV dan V.

Kategorisasi pematangan dalam strata I, II, III, dan IV tergantung pada pada kecepatan dekomposisi. Sebelum lebih jauh membahas mengenai tahap-tahap pengomposan, perlu dipahami terlebih dahulu bagaimana perbedaan antara kompos segar dan kompos matang. Masih menurut Sutanto (2002:41), kompos segar dan kompos matang dapat dibedakan melalui sebelas indikator sebagai berikut.

  • Kompos segar
  1. Nitrogen dalam bentuk ion amonium
  2. Sulfur sebagian bentuk ion sulfit
  3. Diperlukan oksigen jumlah tinggi
  4. Konsentrasi hara tinggi
  5. Hara tidak tersedia untuk tanaman
  6. Konsentrasi vitamin dan antibiotik rendah
  7. Konsentrasi bakteri tanah dan fungi tinggi yang mendekomposisi bahan organik
  8. Persentase senyawa organik yang tidak termineralisasi tinggi
  9. Kapasitas pengikatan air rendah
  10. Tidak ada komplek lempung-humus
  11. Tidak kompatibel dengan tanaman
  • Kompos Matang
  1. Nitrogen dalam bentuk ion nitrat
  2. Sulfur dalam bentuk ion sulfat
  3. Diperlukan oksigen jumlah rendah
  4. Konsentrasi hara rendah
  5. Hara sebagian tersedia untuk tanaman
  6. Konsentrasi vitamin dan antibiotik tinggi
  7. Konsentrasi bateri tanah dan fungi lebih tinggi yang terbentuk dari peruraian senyawa yang mudah terdekomposisi
  8. Aras mineralisasi 50%
  9. Kapasitas pengikatan air tinggi
  10. Terbentuk komplek lempeng-humus
  11. Kompatibel dengan tanaman
  • Pra-Pematangan (Tahap Dekomposisi dan Sanitasi)




Fase pra-pematangan ditandai dengan kenaikan suhu timbunan kompos pada temperatur >40°C atau idealnya 60°-70° C derajat. Suhu yang tinggi akan memicu kinerja bakteri termofilik untuk melakukan penguraian. Namun, suhu yang terlalu tinggi atau > 70°C aktivitas mikrobia akan terhambat sehingga proses dekomposisi senyawa organik juga akan terhambat. Kalau hal itu yang terjadi maka harus diambil tindakan seperti mencampur bahan kompos atau membuat sirkulasi udara yang lebih baik untuk mencegah kenaikan suhu yang berlebihan. Panjangnya waktu yang diperlukan untuk tahap pra-pematangan ditandai oleh beberapa hal, antara lain:

  • Komposisi bahan berkenaan dengan homogenitas, ukuran partikel bahan, dan komposisi;
  • Kandungan air bahan yang akan dikomposkan;
  • Kondisi sirkulasi udara;
  • Pengaruh iklim.

Proses pengomposan pada tahap ini memerlukan waktu selama empat sampai enam minggu. Pembalikan dianjurkan setiap 14 hari. Pada tahap dekomposisi sering timbul bau busuk dan rembesan air karena terjadi emisi udara. Pembalikan harus segera dilakukan terutama apabila hembusan angin terlalu kecil. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindarkan penyebaran bau busuk. Selama proses dekomposisi awal, terjadi kehilangan masa kompos sebesar 35%-45% berat basah dan 50% berat volume.

  • Tahap Pematangan Utama (Tahap Konversi)

Pada fase ini, komponen yang sulit terdekomposisi pada tahap sebelumnya dapat teruraikan. Tahap ini hanya membutuhkan sedikit pasukan oksigen daripada tahap sebelumnya. Kenaikan  suhuyang terjadi dalam waktu singkat setelah memasuki tahap konversi akan mengalami penurunan hingga 40-30derajat C karena perbaikan proses dekomposisi  melalui pencampuran.

Kondisi cuaca akan sangat berpengaruh terhadap proses pengomposan di tahap ini. Hujan yang turun secara tidak terduga akan mengganggu proses dekomposisi karena dalam tahap ini bahan kompos kemungkinan menyerap air yang cukup banyak. Curahan air hujan juga dikhawatirkan tidak dapat diuapkan sehingga menimbulkan genangan pada bahan yang sudah matang. Agar tidak terjadi genangan, maka timbunan kompos harus diberi atap pelindung. Di wilayah dengan terik matahari yang kuat, atap pelindung juga dibutuhkan untuk menghindari evaporasi yang berlebihan. Bahan plastik kurang baik digunakan untuk penutup karena bahan plastik secara langsung kontak dengan bagian atas kompos. Bahan yang bersifat semi permeabel  dapat digunakan untuk mencegah hujan membasahi timbunan kompos tetapi juga jangan sampai mengganggu aliran udara.

  • Pasca Pematangan (Proses Sintetik)

Selama fase pasca pematangan terbentuk komplek lempeng-humus. Hal ini berarti bahwa makin matang kompos maka kandungan hara komposyang tersedia untuk tanaman turun dan dikarakterisasikan dengna perbaikan sifat  fisik tanah. Pasca pematangan dicirikan suhu yang lebih rendah daripada tahap dekomposisi utama. Setelah kenaikansuhu yang terjadi dalam waktu singkat pada proses konversi, suhu turun dan akhirnya mencapai suhu udara ambien. Selama proses pendinginan, populasiorganisme dan cacing tanah membantu mencampur komponen mineral dan organik.



Pada tahap ini rembesan air tidak terjadi seperti yang terjadi pada tahap pematangan. Akan tetapi, bahaya terjadinya genangan akibat hujan masih mungkin terjadi selama tahap ini berlangsung dan kompos harus ditutup dengan atap. Selain bahaya yang muncul akibat kondisi anaerob, timbunan yang tergenang sukar untuk diayakdan bahan kompos sukar disimpan dan dikemas dalam kantong.

(sajadah.co)

Sumber: Khalimatu Nisa Dkk, 2017, Buku Pintar Membuat Pupuk Kompos dan MOL

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *