Sumber : Bukalapak.com

Mencari Tanah Kelahiran : Kisah Mengindonesiakan Anak-anak Timor Leste

Posted on

Judul buku : Anak-anak Tim-Tim di Indonesia : Sebuah Cermin Masa Kelam
Penulis : Helene Van Klinken
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal buku : xxiv + 355 halaman
Tahun terbit : Cetakan pertama, Januari 2014

Ada anak-anak Timor Leste yang memang dikirimkan oleh orangtuanya ke Indonesia untuk belajar. Ada pula yang sukarela menyerahkan anak mereka kepada tentara maupun lembaga sosial untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Indonesia. Dan meskipun banyak anak-anak Timor Leste yang harus menjalani kehidupan keras, tidak manusiawi serta tidak mendapatkan pendidikan yang dijanjikan di Indonesia.

Peperangan selalu memakan korban. Mereka yang berperang adalah kaum militer, namun darah dari kaum sipil pun mau tak mau tetap tertumpah. Gambaran tentang kekejaman masa perang dapat kita lekatkan di ingatan, dengan mengingat kejamnya Nazi-Jerman atau luluhlantaknya kota Hiroshima dan Nagasaki oleh bom atom pesawat Amerika. Di negara kita sendiri, kita dengan pedih akan mengingat bagaimana rakyat mesti menderita akibat kerja rodi dan darah yang tertumpah di sepanjang Jalan Raya Pos karena kebengisan Daendels. Kaum sipil lah yang banyak menjadi korban.

Namun, yang tercatat dalam sejarah bangsa-bangsa dan sejarah peperangan adalah kepahlawanan para jendral dan panglima serta ketangguhan para tentara. Rakyat jelata tidak mendapatkan tempat dalam historiografi masa perang. Sejarah perang singkatnya adalah sejarah kemenangan dan kekalahan militer. Helene van Klinken, melalui bukunya Anak-anak Tim-Tim di Indonesia ini hendak menyampaikan cerita masa perang dan kolonialisme dalam perspektif yang non-militer dan non-elite. Ia bercerita tentang anak-anak yang tercerabut dari tanah kelahirannya.

Narasi Helene van Klinken akan berbeda dari narasi kolonialisme yang biasa kita dengar. Saat mengingat kolonialisme biasanya yang kita pikirkan adalah Indonesia yang dijajah oleh Belanda, Jepang, Portugis atau Inggris. Dalam konteks Timor Leste, kita mesti menggeser sudut pandang kita. Indonesia lah yang menjadi pelaku kolonialisme terhadap Timor Lorosae. Kita pun diajak untuk melihat dari perspektif rakyat jelata dan anak-anak, alih-alih perspektif hubungan diplomatik antar negara dan militer.

Baca Juga : (Review Buku) Para Penerjang Badai Kekuasaan

Baca Juga : (Review Buku) Ulid, Gambaran Bersahaja Anak Desa

Helene menuliskan tema ini salahsatunya karena kegelisahannya terhadap literatur mengenai persoalan Timor-Timur di Indonesia. Kebanyakan literatur menggarap tema sejarah para aktor besar dan masalah-masalah bidang politik, keamanan, hubungan internasional, dan hak asasi manusia. Persoalan sosial budaya yang juga terajdi di Timor Leste menjadi terlupakan. Melihat Timor-Timur dari kisah-kisah pemindahan ini akan memberikan kita lensa baru dalam memandang persoalan saat itu. Anak-anak yang menjadi pusat kisah dalam buku ini juga menjadi satu nilai lebih dari perspektif yang disajikan oleh Helene. Ia melakukan penelitiannya pada 2002 sampai 2003 dengan mewawancarai 32 informan, yang terdiri dari orangtua dan sanak saudara dari anak-anak yang dipindahkan ke Indonesia.



Relasi Timor Leste dan Indonesia

Membincangkan pemindahan anak-anak Timor Leste ke Indonesia juga berarti juga merunut sejarah hubungan kedua negara. Memori sejarah ini dimulai sejak tahun 1975 saat tentara Indonesia menginjakkan kaki di Timor Lorosae. Banyak kontroversi terkait ‘serangan’ Indonesia ke Timor Timur ini, tetapi kajian sejarah telah memberikan kita berbagai penjelasan selain alasan integrasi.

Secara resmi, pemerintah Orde Baru pada saat itu beralasan bahwa penduduk Timor Leste menginginkan untuk bergabung dengan Indonesia. Setelah lepas dari penjajahan Portugal pada 1974 di Timor Leste muncul tiga partai dengan aspirasi masing-masing. Partai UDT (Persatuan Demokratis Timor) menginginkan kelanjutan hubungan dengan Portugal, partai FRETILIN menginginkan kemerdekaan penuh, sementara partai Apodeti (Perkumpulan Rakyat Timor Demokratis) menginginkan integrasi dengan Indonesia.

Pemerintah Orde Baru ‘menyambut’ keinginan partai Apodeti dan kelompok yang mendukung integrasi dengan Indonesia. Selain itu, pemerintah juga beralasan akan timbulnya PKI di Timor Leste. Pada 1968 militer Indonesia menumpas ratusan anggota PKI di wilayah Blitar Selatan. Pihak militer mengatakan bahwa mereka memiliki bukti bahwa sisa anggota partai komunis di Blitar ini melarikan diri ke Timor Timur. Selain itu, klaim Orde Baru bahwa partai FRETILIN mengusung ideologi komunisme juga semakin menguatkan alasan militer untuk menginvasi Timor Timur (hal.39). Inilah beberapa alasan yang digunakan sebagai pembenaran pencaplokan wilayah Timor Leste. Invasi ini berhasil dalam kacamata militer, Timor Leste pun menjadi provinsi ke 27 Indonesia selama 24 tahun.

Pada masa 24 tahun itu, ribuan anak-anak Timor Timor dipindahkan ke Indonesia. Alasan pemintahan versi pemerintah Orba adalah misi pemberadaban, sebuah argumen klise dari penguasa kolonial. Anak-anak Timor Leste dipindahkan ke Indonesia agar mereka. Para sejarawan alasan militerlah yang mendasari pemindahan ini, yakni sebagai salahsatu cara untuk mematahkan pemberontakan tentara FRETILIN.

Sebagian anak-anak yang dipindahkan ke Indonesia dijadikan anak angkat oleh warga Indonesia, sebagian lain dibesarkan di lembaga pengasuhan anak. Pada masa kekuasaan Indonesia, menurut catatan Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi di Timor Leste (CAVR) 2006 pada masa antara 1975-1999 sejumlah 4.534 anak-anak Timor Leste telah dipindahkan ke Indonesia (hal.15). Buku yang berasal dari disertasi Helene di University of Queensland ini menguraikan bagaimana angka yang begitu besar itu mesti dipahami dalam kacamata kemanusiaan.

Mengindonesiakan Anak-anak Timor Leste

Sampul buku ini mengilustrasikan dengan sederhana dan tepat retorika yang digunakan oleh pemerintah Orde Baru terhadap anak-anak Timor Leste yang dipindahkan ke Indonesia. Presiden Soeharto dan ibu negara berkumpul sembari tersenyum bersama anak-anak Timor Timur. Anak-anak dicitrakan telah menemukan keluarga mereka di Indonesia. Alasan ini pula lah yang digunakan untuk membujuk, memaksa, atau bahkan menipu orangtua Timor Leste untuk menyerahkan anaknya kepada militer dan orang-orang Indonesia.



Banyak orangtua yang kemudian merasa tertipu oleh muslihat tentara. Mereka dipaksa untuk menandatangani dokumen yang berisi pernyataan tidak mampu untuk menghidupi anak-anak mereka. Para orangtua yang memang sedang mengalami masa sulit akibat konflik yang terus-menerus di Timor Leste pun mau tidak mau menyerahkan anak-anak mereka.

Dalam empat dari lima bab buku ini, Helene membahas secara detail tentang berbagai aktor dan cerita pemindahan anak-anak Timor Leste. Dalam diskusi bedah buku di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM 22 April 2015 lalu, ia menjelaskan bahwa yang pertama kali harus digarisbawahi adalah pemindahan anak-anak Timor-Timur ke Indonesia ini tidak semuanya berdasarkan paksaan. Ada anak-anak Timor Leste yang memang dikirimkan oleh orangtuanya ke Indonesia untuk belajar. Ada pula yang sukarela menyerahkan anak mereka kepada tentara maupun lembaga sosial untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Indonesia. Dan meskipun banyak anak-anak Timor Leste yang harus menjalani kehidupan keras, tidak manusiawi serta tidak mendapatkan pendidikan yang dijanjikan di Indonesia. Ada pula yang mendapatkan keluarga yang baik hati, yang mengasuh mereka sampai menempuh jenjang perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Leonia, adalah salahsatu anak Timor Leste yang beruntung dengan keluarga Indonesianya. Ia diambil menjadi anak angkat tentara yang memperlakukannya dengan sangat baik. Ia disekolahkan dan mendapatkan pendidikan dari orangtua angkatnya. Petrus Kanisius mengalami nasib yang berbeda. Setelah meninggalkan keluarganya di Timor-Timur, Petrus harus berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Meskipun pemerintah Indonesia berjanji semua biaya panti asuhan merupakan tanggungan negara, tetapi nyatanya Petrus harus bekerja bercocok tanam tiap harinya untuk menyambung hidup. Namun, keduanya memiliki keinginan yang sama. Mereka tetap ingin mengetahui dan menemui keluarganya di Timor Timur. Meskipun telah lama tinggal di Indonesia, darah mereka tetaplah darah Timor Leste.

Penelusuran sejarah yang dilakukan oleh buku ini akan membuat kita berefleksi sekali lagi tentang keindonesiaan kita. Kesadaran sebagai bangsa, tidak mesti selalu dengan kisah bangga tentang kepahlawanan. Sejarah bangsa kita juga pernah tercoreng oleh berbagai peristiwa kekerasan. Mengingat sejarah kekerasan serta kesalahan masalalu juga perlu agar kita mau belajar dan menjadi dewasa sebagai sebuah bangsa. Tidak hanya mengingat, kita pun seharusnya berbesar hati untuk meminta maaf kepada anak-anak Timor Leste karena mencerabut mereka dari tanah kelahirannya. (sajadah.co)

 

Oleh : M. Nafi dalam Majalah Kabare Kagama

2 thoughts on “Mencari Tanah Kelahiran : Kisah Mengindonesiakan Anak-anak Timor Leste

  1. Adik saya namanya Reginha diambil komadan kodim Baucau Timor Leste

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *