teror
Sumber foto: qureta.com

Menggurat Titik untuk Teror

Posted on

Mendaras lembar demi lembar buku Teror ini seperti tercampakkan dalam pusaran dunia penuh corak muram. Teror yang hadir ada di mana-mana, kekerasan yang memanjang dalam lintasan sejarah, dan kebencian yang diumbar tanpa malu. Membaca 22 tulisan Agus Rois ini, seolah menyadarkan kita : manusia bisa menjadi kelewat bengis terhadap sesamanya.

Judul buku       : Teror, Catatan Filsafat dan Politik Tentang Firman dan Iman

Penulis             : Agus Rois

Tebal buku      : xiv + 214 halaman

Tahun terbit     : Cetakan pertama, Maret 2016

Penerbit           : Makar

teror
Sumber foto: qureta.com

Kita tentu ingat bagaimana atas nama kemurnian ras dan sentimen agama orang-orang Yahudi digiring di kamp Auscwitch. Ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan orang mati dalam kamar gas beracun. Karena janji atas tanah suci Jerussalem, penduduk Palestina dibantai di Deir Yassin pada 1948. Setelah itu pula, 700 ribu orang Palestina dipaksa dari tanah kelahiran mereka. Di Kambojoa, junta militer Khmer membantai 25 ribu biksu di Wat Thmey yang dianggap menjadi perintang bagi komunisme. Dan berapa banyak rakyat Indonesia yang terbunuh pada 1965? Berapa banyak lagi masyarakat Tionghoa yang terkena amuk pada geger politik 1998? Berapa banyak pula darah yang tertumpah pada di Poso dan Ambon?

Baca Juga : (Resensi Buku O Eka Kurniawan) Perkara Menjadi Manusia

Setelah masa ideologi-ideologi besar dunia tumbang, agama kemudian menjadi tertuduh utama. Peristiwa 9/11 menjadi pancang bagi dunia modern untuk melihat bahwa agama Islam adalah agama kekerasan. Kata teroris, bagaimanapun tidak adilnya, lalu dikaitkan dengan Islam. Pendulum sejarah pun kembali menuju masa primitif. Lex talionis, mata ganti mata, gigi ganti gigi. Peluru mesti dibalas denga peluru. Agama kembali digunakan untuk membenarkan laku teror. Barat dan Islam kembali menjadi dua kutub yang seakan tidak hendak berdamai.

Dunia menjadi medan perang kembali. Mereka yang disebut teroris oleh Barat, dan menyebut diri mereka sendiri para pejuang Islam, meledakkan bom di mana-mana. Di lorong-lorong kota Baghdad, di kawasan sipil Syria, di tempat-tempat ramai di Eropa. Atas nama perang melawan teror, negara-negara Barat pun melakukan pembantaian serupa. Bom-bom dijatuhkan demi menghantam orang-orang Islam fundamentalis-militan. Sementara kita juga tahu, bahwa ribuan penduduk sipil pun menjadi korban.

Baca Juga : Ulid, Gambaran Bersahaja Anak Desa

Bercak-bercak hitam kemanusiaan itu dideret dalam halaman-halaman buku  ini. Dengan gambaran detail, dengan data-data pelbagai sumber, dengan kesaksian para korban. Sebabnya selalu sama, klaim kebenaran tunggal dan penolakan atas ‘kebenaran’ lain. Bisa jadi karena agama, negara-bangsa, atau ideologi besar. Jika kebenaran dipegang begitu teguh, sampai-sampai tidak menyisakan ruang terhadap ‘mereka yang lain’ maka yang terjadi adalah kekerasan.

Rois membenturkan degil-degil kemanusiaan ini dengan kitab suci dan kebijaksanaan para nabi. Manusia, terutama karena mencari janji-janji surga, menjadi sangat egosentrik. “Mungkin surga adalah hal yang penting, tapi harus dipertanyakan terlebih dahulu untuk apa dan siapa?”(hal.30). Apa yang nampak dari kemanusiaan kemudian seringkali hanyalah pengingkaran terhadap liyan. Mereka yang berbeda, karena di keabadian nanti hanya memiliki cadangan tempat di neraka, hidup mereka tidaklah berharga. Apakah benar itu pesan dari agama-agama di dunia?

Agama Yang Ramah, Agama Yang Rawan

Kaum muslim di manapun saya yakin hafal sabda Tuhan, “Kami tidak mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Begitu pula hadits Nabi, “Mereka, manusia yang memiliki rasa welas-asih akan dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih.” Ayat-ayat Al Qur’an dan hadits yang mengajak manusia untuk saling merahmati, jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Ungkapan Yesus dalam Perjanjian Baru, ‘berikan pipimu yang lain, jika pipimu yang satu telah ditampar. Kasihilah sesamau seperti dirimu sendiri’ tentu ada di tiap benak orang Kristiani.

Namun yang menjadi persoalan tiap doktrin agama adalah tafsir tentang keabadian. Surga dan neraka. Meyakini adanya waktu setelah kematian memang salahsatu pilar keimanan. Bagi mereka yang teraniaya, miskin, tertindas di dunia tanpa mampu melakukan perlawananan, janji kehidupan lain adalah harapan. Penguasa yang lalim tanpa bisa diadili, pembunuh-pembunuh berdarah dingin yang lepas dari hukum dunia, orang-orang korup tak bisa lewat dari pengadilan Tuhan di hari kemudian. Keadilan agak tegak di depan Tuhan kelak. Itu salahsatu tafsir.

Tafsir yang lain, sebagaimana dibeber Agus Rois dalam buku ini, doktrin keabadian itu membuat manusia tidak menghargai hidup. Mereka tidak takut mati, karena jikalau mereka nyawa mereka hilang buat mereka kelak ada bidadari dan surga dengan sungai madu. Menjadi martir bom bunuh diri menjadi gampang dinalar. Toh balasan pahalanya begitu menggiurkan. Nyawa mereka menjadi tak begitu berarti. Yang menjadi persoalan adalah doktrin ini pula yang membuat para pelaku teror meremehkan hak hidup oranglain. Darah-darah yang mereka tumpahkan dalam apa yang mereka sebut ‘jihad’ atau perang suci hanya pelicin jalan mereka kelak menuju surga. Sebab, tentu para jihadis ini juga berlari ke medan jihad dengan ayat-ayat perang yang mereka cuplik dari kitab suci pula.

Imbas dari tafsir yang terakhir ini dapat kita lihat dengan gamblang. Baru satu setengah dekade abad 21 ini, kita telah menyaksikan betapa teror atas nama agama diumbar. Bacalah buku ini, dan anda akan tahu detail-detail, gambaran yang menggiriskan dari peristiwa-peristiwa teror ini. Rois dengan tekun mencatat kejadian demi kejadian dengan kengerian-kengeriannya. Namun ia tidak berhenti di situ saja. Setiap kali ia menulis tentang kekejian karena manusia, setiap kali pula ia mengguratkan pesan-pesan tentang rahmat. Seolah ia hendak mengingatkan kita bahwa apapun yang ada di kolong langit memang biangnya paradoks.

Agama bisa menjadi inspirasi kekejaman, bisa pula menjadi inspirasi kerahiman. Dalam lembar-lembar buku ini, Rois berusaha menggedor nalar kita. Agama memang benar dari Tuhan, tapi tafsirannya adalah hak manusia. Penafsiran manusiawi inilah yang membuat agama menjadi paradoks yang mesti kita selesaikan. Jika pilihannya adalah perang dan kedamaian, apakah yang akan kita pilih? Jika pilihannya adalah ayat-ayat penuh wasangka dan anjuran perang, sementara di ujung lain ada ayat-ayat yang menganjurkan cinta—di manakah kaki kita mesti berpijak?

Saya sepakat dengan Rois. Daripada menggenggam ayat-ayat perang, lebih baik menghayati ayat-ayat maaf dan cinta kasih. Agar tidak ada lagi darah yang tertumpah sia-sia, dengan alasan yang mengada-ada. Kekerasan mestinya diakhiri. Manusia mesti mengguratkan titik bagi teror. (M. Nafi)

Sumber : Majalah Kagama Edisi Agustus 2016

(sajadah.co)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *