panduan lengkap budidaya tanaman pare
Sumber foto: https://www.healthbenefitstimes.com/bitter-gourd/

Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Pare

Posted on

Bagaimanakah cara membudidayakan tanaman pare yang benar? Berikut panduan lengkap budidaya tanaman pare yang benar agar bisa menghasilkan pare yang berkualitas

Pare hanya dikenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di jawa barat, tanaman ini disebut paria. Tanaman ini termasuk tanman tahunan yang merambat atau menjalar dengan perantaraan alat pilin (seperti spiral). Batangnya panjang dan kecil jika dibiarkan cabangnya banyak. Daunnya agak lebar dan menjari. Buahnya berwarna hijau dan ada juga yang berwarna putih. Jika sudah tua warnanya merah kekuning-kuningan (orange). Pada kulit buah terdapat bintil-bintil seperti jerawat yang besar-besar. Besar dan panjang buah pare ini tergantung jenisnya. Ada yang bisa mencapai 60 cm untuk jenis pare belut.

Manfaat Buah Pare

Pada umumya buah paren dimanfaatkan orang sebagai bahan pendamping makan nasi. Rasanya pahit sehingga dapat merangsang selera makan. Selain itu, pare juga dapat memperlancar pencernaan, menyembukan penyakit demam dan malaria. Daunnya dapat menurunkan demam pada balita dengan cara dibalutkan dengan bantuan air. Buah pare dapat dimakan dengan dibuat sambel goreng, rending,sebagai lalapan dengan direbus dahulu, dan dapat pula dipakai sebagai campuran baso tahu. Buah pare dapat menambah kesehatan tumbuh karena banyak mengandung vitamin A, vitamin B, dan vitamin C. Banyak orang yang menyukai buah pare ini.

panduan lengkap budidaya tanaman pare 1
Sumber foto: https://www.herbal-supplement-resource.com/bitter-melon.html

Lingkungan yang Cocok untuk Budidaya Tanaman Pare

Pada umumnya tanaman pare sangat cocok ditanam di dataran rendah, tetapi tanaman pare ini juga dapat tumbuh di ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Akan tetapi, jika tanaman pare ditanam di dataran tinggi, biasanya akan berbuah kecil-kecil dan kurang normal sehingga hasilnya dapat dikatakan kurang baik. Meskipun tanaman pare tidak memerlukan perawatan khusus, akan tetapi ada syarat-syarat yang harus diperhatikan agar tanaman pare dapat tumbuh dengan baik. Syarat syarat itu adalah sebagai berikut:

  1. Tanahnya gembur banyak mengandung humus (daun-daun yang sudah lapuk).
  2. Derajat keasaman tanah (pH) antara -6. Untuk mengetahuan derajat keasamana tanah ini, kita dapat menanyakan ke dinas-dinas pertanian setempat.

Sedangkan, waktu yang baik untuk bertanam tanaman pare adalah pada awal musim hujan yakni ketika bulan September atau oktober. Bisa juga pada awal musim kemarau yakni pada bulan maret atau april. Hal itu dikarenakan pare tidak cocok dengan tanah tanah yang digenangi air. Sebab tanaman pare tidak banyak membutuhkan sinar matahari. Oleh karena itu, tanaman pare dapat ditanam di lahan-lahan pekarangan.

Jenis-jenis Pare

Setidak-tidaknya, ada tiga jenis tanaman pare yang sudah dikenal luas oleh masyarakat kita dan banyak ditanam oleh para petani kita.

Pertama, pare putih. Pare ini memiliki buah yang bulat panjang, besar serta berwarna putih. Pada permukaan kulitnya terdapat bintil-bintil seperti jerawat yang besar. Jenis pare inilah yang banyak ditanam oleh para petani kita dalam skala banyak dan banyak digemari oleh orang-orang Indonesia karena rasanya yang tidak terlalu pahit.



Kedua, pare hijau. Tanaman pare jenis ini memiliki buah yang berbentuk lonjong, berukuran kecil, berwatna hijau dengan bintil-bintil yang agak halus. Rasanya pun lumayan pahit. Budidaya tanaman pare jenis ini banyak dilakukan di pekarangan rumah karena daunnya berguna untuk menyembuhkan penyakit demam dan panas pada balita. Caranya, cukup balurkan daun pare ini ke balita yang sedang menderita demam atau panas.

Ketiga, pare belut. Pare jenis ini memiliki buah yang berbentuk bulat dan panjangnya dapat mencapai 60 cm. warnanya hijau tua dan tidak memiliki bintil-bintil. Rasanya pun tidak terlalu pahit. Budidaya tanaman pare jenis ini sering dilakukan dalam skala yang luas terutama di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

panduan lengkap budidaya tanaman pare 2
Sumber foto: https://www.amazon.com

Dari ketiga jenis pare ini, budidaya tanaman pare dalam skala  besar yang sangat dianjurkan adalah budidaya tanaman pare berjenis pare putih. Sebab, buah dari tanaman pare jenis ini banyak disukai oleh masyarakat Indonesia dan terbilang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pare jenis lainnya.

Persyaratan yang Diperlukan dalam Budidaya Tanaman Pare

Benih

Bentuk biji atau benih pare hampir sama dengan timun. Hanya saja, biji atau benih pare ini bentuknya agak lebih besar dan kulitnya lebih keras dan bergerigi. Warna dari biji pare biasanya putih dan memiliki bentuk bulat hampir bersegi serta tidak memiliki kelancipan sama sekali. Untuk keperluan satu hektar tanah, diperlukan benih pare setidaknya 10.000 benih dengan menggunakan jarak tanam antar baris sekitar 100 cm dan dalam baris sekitar 200 cm. benih yang baik memiliki warna putih, berbentuk besar dan seragam, tidak mengandung cacat dan penyakit serta tidak rusak bolong-bolong. Benih pare yang baik biasanya ditempatkan dalam bentuk kemasan. Kemasan benih pare ini biasanya berupa kantong kertas yang memiliki label. Biasanya, satu kemasan berisikan kurang lebih 30 benih pare. Benih pare ini dapat anda beli di toko-toko pertanian.

Pupuk kandang

Jumlah pupuk kandang untuk luas tanah satu hektar adalah sebanyak 10 ton atau bisa juga diberikan sekitar 1-2 kg untuk setiap lubang tanam. Apabila diukur dengan jumlah karung, setidaknya memerlukan sekitar 350 karung pupuk kandang. Pupuk kandang yang biasa diberikan adalah hasil sampingan usaha ternak hewan seperti kotoran ayam, sapi, kambing, atau kerbau. Pupuk kandang yang paling baik sebenarnya adalah kotoran ayam karena ayam bukan termasuk bintang pemakan rumput.

Kotoran ternak yang memakan rumput biasanya banyak mengandung benih rumput dan oleh karena itu, apabila dipupukkan, akan banyak rumput yang tumbuh, terutama rumput teki yang sangat sulit untuk diberantas. Pupuk kandang sangat perlu untuk dimatangkan lebih dahulu. Proses pematangan ini adalah dengan cara memisahkan kotoran dari kandangnya selama satu bulan kemudian dikeringkan hingga menyerupai tanah.



Abu Dapur atau Sekam

Abu dapur atau arang sekam sangat baik untuk digunakan dalam membantu menggemburkan tanah. Caranya adalah dengan diaduk dan dicampur dengan pupuk kandang. Untuk satu hektar tanah, diperlukan setidaknya kurang lebih 5 ton arang sekam atau  abu. Atau bisa juga dengan cara memberinya 1 kg untuk setiap lubang tanaman.

Pupuk Kimia

Untuk penanaman seluas satu hektar diperlukan pupuk kimia seperti urea sebanyak 50 kg, TSP sebanyak 100 kg, dan KCL sebanyak 100 kg dengan perbandingan 1 : 2 : 2 untuk dicampurkan dan diberi sebanyak 15 gram garam (1,5 sendok makan) untuk setiap tanman. Untuk pupuk NPK dapat diberikan sebanyak 15 gram (1,5 sendok makan) per tanaman. Oleh karena itu, jika menggunakan pupuk NPK, setidaknya diperlukan sekitar 250 kg NPK untuk setiap hektar tanah.

Insektisida (Racun Hama)

Bibit atau benih yang baru tumbuh setelah ditanam di lahan, biasanya sering diserang hama-hama yang ada dalam tanah seperti ulat tanah, anjing tanah, dan hama lainnya. Pencegahannya dapat dilakukan dengan mencampur pupuk kandang dengan insektisida furadan, insektisida yang berbentuk butiran-butiran halus yang berwarna biru tua. Untuk penanaman satu hektar diperlukan furadan sebanyak kurang lebih 10 hingga 25 kg atau satu sendok teh untuk setiap lubang tanam.

Tanaman pare ini sendiri sering diserang hama lalat buah. Hama tersebut menyerang pada waktu tanaman pare berbuah masih muda. Bagian buah pare yang diserang akan menguning dan buahnya akan menjadi busuk. Serangan hama ini perlu dicegah dengan insektisida seperti curacron, bayrusil atau insektisida lainnya. Untuk satu hektar budidaya tanaman pare, setidaknya diperlukan kurang lebih 5 liter insektisida.

Fungisida (Racun Penyakit)

Fungisida ini dapat menggunakan tepung. Gunanya adalah untuk mencegah penyakit dalam tanaman pare nantinya. Fungisida yang biasa digunakan untuk mencegah serangan penyakit tanaman pare antara lain adalah dithane dan antacol. Untuk satu hektar budidaya tanaman pare diperlukan fungisida sekitar 5 kg.

Bambu atau Cabang-cabang Pohon Keras

Untuk pembuatan para-para tempat menopang tanaman, perlu dipersiapkan bambu atau cabang-cabang dari pohon keras yang lurus dan kuat untuk menopang tanaman pare selama pertumbuhannya sampai berproduksi. Bahan yang baik adalah bambu yang sudah tua. Dengan itu, tanaman pare tidak akan ambruk dan bekasnya dapat digunakan lagi untuk ajir penanaman tanaman lainnya yang merambat. Untuk budidaya tanaman pare seluas satu hektar diperlukan setidaknya kurang lebih 600 batang bambu dengan panjang 6 m serta berdiameter 5 – 8 cm.

Bahan Pengikat (Tali)

Bahan tali ini dapat terbuat dari apa saja. Bisa dari kawat, tali bambu, tali rafia, atau bahan lainnya yang dapat digunakan untuk tali pengikat para-para agar bisa tegak dan kokoh, serta tidak ambruk apabila diterpa angin kencang. Tali yang kuat untuk mengikat para-para adalah kawat. Sayangnya, harganya agak mahal.

Kantong Plastik atau Polybag

Bahan ini digunakan apabila penanaman dilakukan persemaian dahulu yakni tidak menanam bijinya secara langsung di lahan penanaman. Kantong plastik (polybag) yang digunakan biasanya yang berukuran lebar 7 – 10 cm dan panjang 10 – 12 cm. Untu penghematan biaya tempat persemaian ini, anda bisa membuatnya dari bahan daun pisan dengan bantuan lidi yang ditajamkan atau alat hekter. Untuk persemaian seluas satu hektar diperlukan kantong plastik sebanyak kurang lebih 10.000 buah.

Alat-alat yang Perlu Disiapkan dalam Budidaya Tanaman Pare

Sekop Kecil

Alat ini dipersiapkan apabila penanaman dilakukan dengan cara membuat persemaian terlebih dahulu. Fungsinya adalah untuk penyediaan sarana penyemaian (campuran tanah dan pupuk kandang halus) ke dalam polybag (kantong plastik). Jika sekop tidak ada, anda bisa menggunakan tangan secara langsung

Sabit

Alat ini dipersiapkan untuk melakukan pembersihan rumput sebelum pengolahan tanah atau dalam pembukaan lahan baru. Sabit juga dperlukan untuk penyaiangan rumput-rumpu t pada pematang atau guludan. Jumlah sabitnya tentu saja tergantung jumlah tenaga kerja yang nantinya akan diperbantukan.

Golok

Alat ini dipersiapkan untuk pembuatan para-para, pemotongan akar besar dalam pembukaan lahan batu dan banyak lagi kegunaan lainnya.

Cungkil (Kored)

Alat ini bentuknya hampir seperti cangkul hanya saja ukurannya lebih kecil. Alat ini dipergunakan dalam penyiangan, pendangiran, dan banyak lagi.



Tang atau Kakatua

Alat ini dipersiapkan apabila bahan pengikat para-para menggunakan tali dari kawat. Dengan penggunaan alat tang ini, pengiaktan akan lebih kuat sehingga para-para akan lebih kokoh.

Garpu

Alat garpu ini digunakan untuk mengolah tanah-tanah keras dan banyak batunya. Banyaknya alat jenis ini sangat tergantung dari jenis lahan serta jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan.

Cangkul

Alat ini digunakan untuk melakukan pengolahan tanah jika tidak ada alat mesin traktor. Pengolahan tanah seperti membalikkan tanah (bajak), menggemburkan tanah (garu atau rotary), membuat bedeng, dan membuat saluran pengairan atau parit, akan lebih banyak menggunakan alat ini untuk pengganti traktor. Untuk pengolahan tanah seluas satu hektar perlu dipersiapkan cangkul sebanyak kurang lebih 20 buah.

Linggis

Alat ini perlu disiapkan untuk menggali batu-batu yang besar. Dengan alat ini batu-batu besar dapat dibongkat dan dipindahkan. Biasanya, linggis banyak berperan dalam pembukaan lahan-lahan baru yang berbatu dan banyak akar pepohonan besar. Alat ini juga dipakai untuk membuat lubang lubang di tiang para-para.

Garpu Cangkul

Garpu cangkul biasanya digunakan untuk meratakan bedeng, membuat batu-batuan, rumput-rumput yang berduri yang sudah dibabat, menaikkan rumput-rumput ke gerpbak sampah, menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah dan mendangir tanaman.

Sekop Besar

Alat ini digunakan untuk mencampur pupuk kandang, menaikkan pupuk kandang atau pupuk tanah. Alat ini berbentuk segi empat. Ada juga yang bagian ujungnya agak lonjong.

Gembor

Alat ini biasanya digunakan untuk penyiraman penyemaian dan penyiraman setelah penenaman budidaya tanaman pare apabila tidak turun hujan. Dengan menggunakan alat ini, penyiraman dapat diberikan secara halus berbentuk percikan sehingga tanah di sekitar tanaman pare tidak terbawa erosi akibat air penyiraman. Selain itu, dengan alat ini, penyiraman juga lebih merata.

Handi Sprayer (Penyemprot)

Alat ini digunakan untuk penyemprotan hama dan penyakit atau untuk memberikan pupuk daun dengan cara disemprotkan. Alat ini ada yang berukuran besar yakni berisi sekitar kurang lebih 14 liter yang disebut hand sprayer knapsack dan ada juga yang berukuran kecol yang biasanya digunakan dalam pemeliharan penyemaian. Ukuran yang kecil ini hanya dapat menambung setengah hingga 1 liter.

Kereta Dorong

Alat ini dapat digunakan secara sederhana dengan menggunakan seng atau kayu tripleks dan kerangkan kayu atau pipa besi ledeng atau junion. Alat ini dirancang dengan bantuan baut atau paku atau dilas. Rodanya dapat memanfaatkan bekas-bekas ban sepeda kecil. Asnya harus terbuat dari pipa besi. Alat ini digunakan untuk pengangkutan bahan pupuk untuk budidaya tanaman pare, hasil panenan budidaya tanaman pare serta bahan lainnya.

Langkah Kerja dalam Budidaya Tanaman Pare

Setelah kita mengenal dan mengetahui manfaatnya, di mana daerah ketinggian tempat yang akan kita buat untuk budidaya tanaman pare, berapa derajat keasaman (pH) tanahnya, setelah itu, pilihlah jenis pare yang hendak anda budidayakan. Lebih baik, dalam budidaya tanaman pare, pilihlah jenis tanaman pare yang banyak diminati masyarakat dan laku di pasaran. Setelah itu, tentukan berapa luas lahan yang akan anda tanami tanaman pare. Lalu, silahkan anda menentukan perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk budidaya tanaman pare. Setelah itu, anda bisa menentukan waktu penanaman tanaman pare dan menyiapkan bahan bahan serta alat-alat yang dibutuhkan dalam budidaya tanama pare anda nantinya.

panduan lengkap budidaya tanaman pare 3
Sumber foto: http://www.gslsupplements.com

Langkah-langkah kerja budidaya tanaman pare selanjutnya adalah sebagai berikut:


  1. Lakukan pembabatan apabila masih banyak rumput di lahan budidaya tanaman pare anda.
  2. Ukurlah lahan yang akan anda budidayakan. Berapa luasnya. Dengan begitu, anda daat memperkirakan sarana produksi dan tenaga kerja yang perlu anda siapkan dalam budidaya tanaman pare anda nantinya.
  3. Persiapkan lahan dengan melakukan: 1) pengolahan lahan (dibajak atau dicangkul) 2) penggemburan tanah dengan cangkul, 3) penentuan lebar dengan dan jarak tanam dengan cara membuat lubang tanam, 4) memasukkan pupuk kandang dan furadan pada setiap lubang tanam dan diaduk dengan tanah
  4. Buatlah naungan penyemaian da siapkan polybag. Saringlah pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1: 1. Masukkan ke dalam polybad lalu simpan di dalam naungan tadi. Masukkan biji atau benih tanaman pare anda pada media di dalam polybag.
  5. Masukkan benih tanaman pare anda ke lubang tanam, lalu tutup tipis-tipis dengan tanah kurang lebih 1 hingga 2 cm. Apabila dilakukan penyemaian seperti di atas, tanamkan bibit dari penyemaian tadi dengan cara membuat lubang sedalam dan sebesar polybad lalu masukkan bibit dan tutup sebatas pangkal batang atau akar bibit.
  6. Lakukan pemeliharaan tanaman seperti penyiraman, memupuk, menyiang, meyemprot hama dan penyakit, membuat para-para, memangkas, mendangir atau membumbun, membuat saluran pengairan dan membungkus buah pare.
  7. Lakukan kunjungan ke pasar (tengkulak, pasar induk, pasar swalayan atau super market) untuk melakukan penawaran.
  8. Lakukan pemanenan buah pare anda dari hasil budidaya tanaman pare anda.
  9. Penjualan hasil budidaya tanaman pare.

Semoga Bermanfaat

(sajadah.co)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *