proses dekomposasi pembuatan pupuk kompos
id.wikipedia.org

Persiapan dan Pembuatan Pupuk Kompos

Posted on

Membuat pupuk kompos juga butuh persiapan. Lalu, apa saja yang perlu disiapkan dalam pembuatan pupuk kompos agar hasilnya bisa memuaskan?

Persiapan dan Pembuatan Pupuk Kompos – Tidak harus memahami seluruh seluk beluk proses biologi atau kimia yang rumit untuk membuat pupuk kompos. Pupuk yang satu ini bisa dibuat dengan mudah dan murah oleh siapapun yang menginginkannya. Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan pupuk kompos pun relatif mudah ditemukan di sekitar kita dan alat-alat penunjangnya pun cukup sederhana. Untuk bisa menghasilkan pupuk kompos yang berkualitas, syarat yang diperlukan hanyalah kemauan mencoba dengan tekun tahap demi tahapnya dan terus mencoba lagi jika terjadi kegagalan.

Namun, sebelum mengetahui lebih lanjut tahapan pembuatan pupuk kompos, alangkah baiknya bila terlebih dahulu memahami beberapa prinsip dalam pembuatan pupuk kompos. Pada  hakikatnya, pembuatan pupuk kompos atau pengomposan harus dilakukan karena bahan-bahan organik tidak dapat digunakan secara langsung oleh tanaman. Pasalnya, bahan-bahan organik tersebut masih memiliki rasio karbon terhadap nitrogen (C/N) yang tinggi. Sebagai contoh, jerami memiliki rasio C/N 50-70, dedaunan 50-60, sedangkan kayu-kayuan >400. Pengomposan menjadi cara untuk menurunkan rasio C/N bahan organik agar dapat digunakan untuk menunjang pertumbuhan tanaman. (Simanungkalit: 2009)

  1. Proses Pengomposan

Proses pengomposan atau pembuatan pupuk kompos berlangsung setelah bahan-bahan baku kompos dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Tahap aktif adalah tahap di mana suhu tumpukan kompos akan mengalami peningkatan dengan signifikan hingga 50-70 derajat celcius. Ketinggian suhu akan terus bertahan selama kurun waktu tertentu. Pada kondisi ini, mikroba yang bekerja adalah mikroba termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi.

Baca Juga :

Bersamaan dengan itu, terjadi penguraian bahan organik atau dekomposisi yang sangat aktif. Dengan menggunakan oksigen, mikroba-mikroba di dalam kompos menguraikan bahan organik menjadi karbondioksida (CO2), uap air, dan panas. Panas yang dihasilkan oleh proses dekomposisi tersebut akan dapat mematikan benih gulma dan telur hama penyakit. Selain itu, proses ini juga dibarengi dengan peningkatan pH kompos.

proses dekomposasi pembuatan pupuk kompos
id.wikipedia.org

Gambar: Proses umum pengomposan

Setelah sebagian besar bahan organik terurai, pengomposan akan memasuki tahap pematangan. Pada fase ini, suhu mengalami penurunan secara berangsur-angsur. Pematangan kompos ditAndai dengan pembentukan liat humus. Selama proses pematangan, volume maupun biomassa bahan akan mengalami penyusutan. Pengurangan ini dapat mencapai 30-40% dari volume atau bobot awal bahan.(Isroi: tt)

  1. Dua Kondisi Pengomposan

Pengomposan dapat dilakukan pada dua kondisi yaitu dengan oksigen (aerob) dan tanpa oksigen (anaerob). Pengomposan aerob terjadi sebagaimana proses yang telah dijelaskan sebelumnya di mana bakteri pengurai memanfaatkan oksigen untuk melakukan dekomposisi. Pengomposan juga dapat memanfaatkan kondisi anaerob. Namun, proses ini memiliki kekurangan dalam proses pengomposan karena akan menghasilkan bau yang tak sedap. Proses anaerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H2S. (Isroi: tt)

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pengomposan

Dalam proses pengomposan atau pembuatan pupuk kompos, dekomposer memegang peranan yang paling penting. Sebab, organisme-organisme itulah yang akan melakukan pendegradasian terhadap bahan-bahan organik. Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja untuk mendekomposisi limbah padat organik. Namun, apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimal untuk proses pengomposan akan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri. Demi, menciptakan kondisi maksimal tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

  • Rasio C/N




Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30:1 hingga 40:1. Mikroba akan memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 sampai dengan 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.

  • Ukuran Partikel

Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak di antara mikroa dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antarbahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil luas partikel tersebut.

  • Aerasi

Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen (aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh posiritas dan kandungan air bahan (kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghadilkan bau tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.

  • Porositas

Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplai oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.

  • Kelembaban

Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplai oksigen. Mikroorganisme dapat memanfaatkan bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40-60% adalah kisaran optimal untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.

  • Temperatur/Suhu

Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30-60 derajat C menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60 derajat C akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.

  • pH




Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimal untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.

 

  • Kandungan hara

Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan biasanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan. Jenis dan banyaknya unsur hara sangat ditentukan oleh bahan baku.

  • Kandungan-kandungan berbahaya

Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nikel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan. (Isroi: tt)

 

Mulai Membuat Pupuk  Kompos

  1. Pedoman Cara Membuat Kompos

Prinsip dalam pembuatan kompos adalah penggabungan bahan-bahan tertentu demi menghasilkan komposisi yang tepat untuk meningkatkan kesuburan. Dalam menggabungkan elemen-elemen penyusun kompos, terdapat beberapa pedoman yang harus diikutii

  1. Struktur bahan-bahan yang akan dibuat kompos jangan terlalu kasar. Bahan-bahan seperti jerami, bahan-bahan pangkasan, pupuk hijau,sebaiknya dipotong-potong menjadi potongan-potonganyang lebih halus.
  2. Bahan-bahan yang kurangmengandung nitrogen (N) harus dicampur dahulu dengan bahan-bahan yang banyak mengandung N, juga dengan bahan-bahan yang banyak mengandung jasad renik: misalnya pupuk kAndang, humus, dll. Kadang-kadang juga diberi pupuk buatan.


  3. Bahan-bahan untuk kompos ditumpuk berlapis-lapis di atas tanah. Tiap-tiap lapisan setebal 30 cm kira-kira merupakan hasil penumpukan sehari dan luasnya lapisan +2 x 3 cm.Tinggi tumpukan seluruhnya + 1,5 m. Penumpukan seluruhnya hendaknya selesai dalam waktu 10 hari.
  4. Untuk mempercepat proses peruraian pada tiap-tiap lapisan diberikankapur atau abu dapur.
  5. Tumpukan kompos harus cukup basah dan diberi atap untuk melindunginya terhadap panas matahari dan hujan.
  6. Setiapsebulan tumpukan dibongkar untuk dibalik dan ditumpuk kembali. Dengan jalan demikian perubahan di dalam tumpukan dapat merata. Setelah tiga atau empat kali dilakukan pembongkaran, pembalikan, dan penumpukan kembali, akan diperoleh kompos yang telah matang. (Soeroto :1981)

(sajadah.co)

Sumber: Khalimatu Nisa Dkk, 2017, Buku Pintar Membuat Pupuk Kompos dan MOL

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *