o eka kurniawan
sumber foto : ekakurniawan.com

(Resensi Buku O Eka Kurniawan ) Perkara Menjadi Manusia

Posted on

Lewat karya ini, Eka Kurniawan seakan hendak mengajak pembaca merenungkan kembali makna menjadi manusia, dengan mendengarkan sura-suara yang keluar dari para monyet, anjing, kaleng sarden.

o eka kurniawan
sumber foto : ekakurniawan.com

Judul : O

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Pertama, 2016

Halaman : 470 halaman

Resensi Buku O Eka Kurniawan – Syahdan, ada dua masa ketika hewan dan benda-benda bisa berbicara. Pertama, masa ketika tangan, kaki dan benda-benda memberikan kesaksiannya. Manusia-manusia pendosa, pada masa ini, bakal diadili dengan kesaksian anggota tubuhnya, juga segala benda-benda di bawah kolong langit yang menyaksikan perbuatannya. Pada masa yang lain–dan anak-anak dengan masa kecil yang bahagia mengetahuinya–kancil, buaya dan manusia pernah saling beradu akal, berbantah-bantahan satu sama lain.

Cerita pertama itu kita dengar dari pemuka agama. Di surau-surau selepas maghrib, atau dari siaran radio di malam jumat, anak-anak mendengarkan kabar itu dengan mulut setengah menganga. Sementara cerita kedua, tentang kancil yang bermusuhan dengan buaya lalu berbantah-bantahan dengan petani yang dicuri timunnya, atau kerbau yang berteman dengan burung jalak, kita dengar dari dongeng-dongeng para orang tua mengantarkan anaknya ke dunia mimpi.

Dunia fabel yang dibangun dalam cerita-cerita di masa kecil itu dihadirkan kembali dalam bentuk yang sama sekali berbeda oleh Eka Kurniawan. Lewat karya terbarunya, “O”, setiap benda menuturkan kisahnya. Pembaca seakan terdampar ke sebuah dunia dimana ketakmungkinan dijembatani oleh imajinasi, kemusykilan bertarung dengan harapan, iman dan kekonyolan sulit dibedakan.

Segala kesan itu sudah mencuat bahkan ketika pembaca baru melihat blurb novel ini: “Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan Kaisar Dangdut.” Lewat karya ini, Eka Kurniawan mengajak pembaca untuk mengikuti perjalanan O, seekor monyet yang berjuang untuk bisa menjadi manusia demi bersatu kembali dengan Entang Kosasih, monyet pujaan hatinya yang sudah terlebih dahulu berubah menjadi manusia.

O percaya dengan cara meniru tingkah laku manusia suatu saat ia akan benar-benar berubah manjadi manusia. Berbekal kepercayaan itu ia terus mengikuti Betalumur, dan tak pernah mau lari dari sang pawang topeng monyet itu meskipun ia harus mendapat siksaan tiap hari. Harapan O cuma satu: pada suatu pagi ia akan tebangun sebagai sesosok manusia, lalu menemui Entang Kosasih yang kini sudah menjadi kaisar dangdut lantas hidup bahagia selamanya. Impian itu sering diceritakannya kepada si kirik, anjing kecil yang selalu menahan tawa agar tak menyinggung perasaan sahabatnya. Bagi si Kirik, apa yang diyakini O tak lebih dari kekonyolan.



Tapi O tak sendirian. Sembari mengikuti perjalanan O, pembaca diajak menelusuri kisah dari tokoh-tokoh lain. Ada Betalumur, si pawang yang selalu mengosongkan uang hasil pertunjukan dari kaleng sarden untuk membeli bir oplosan. Pada malam-malam setelah pulang dari pertunjukan, Ia akan menumpahkan bir oplosan ke dalam ember, menenggaknya sampai tandas sambil menyanyikan lagu-lagu Tomy J Pisa dan menjadi pria paling sedih di kota itu. Juga tokoh-tokoh lain: seorang pria yang menamai anjing-anjing betina miliknya dengan nama perempuan pertama yang membuatnya jatuh hati; Polisi yang jatuh cinta kepada seorang pelacur dan tak sengaja melepaskan peluru dari pistolnya menembus perut pelacur yang berisi calon anaknya; juga sepasang pemulung yang tabah menghadapi ganasnya kota jakarta. Lewat mozaik-mozaik cerita itu Eka seakan ingin menyampaikan, “Cinta dan ketololan sering kali hanya masalah bagaimana seorang melihatnya.” (hal. 216)

Narasi yang dibangun Eka Kurniawan dalam novel ini tak jauh berbeda dengan karya sebelumnya. Dalam “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas”, gaya bertutur Eka Kurniawan sangat memanjakan imaji visual pembaca. Kisah demi kisah disampaikan seperti serpihan mozaik yang saling melengkapi dan membantuk narasi yang utuh. Plot yang tak ajeg mungkin akan melelahkan pembaca yang belum begitu terbiasa dengan gaya penulisan Eka Kurniawan. Sudut pandang yang sering bertukar dengan dinamis pun menuntut pembaca untuk mengikuti novel ini dengan konsentrasi yang stabil.

Seperti yang kita temui dalam novel-novel Eka Kurniawan sebelumnya, tokoh-tokoh yang menghuni novel “O” tak jauh-jauh dari kaum pinggiran. Perjalanan O dan tokoh-tokoh lain bergulir di dalam dunia yang dihuni kaum marjinal: sekumpulan monyet liar di pinggiran kota Jakarta, gang-gang kumuh yang dihuni pelacur, gedung kosong yang terlantar dan dihuni pemulung. Semuanya dituturkan dengan jujur dan pepat akan pemaknaan. Lewat karya ini, Eka Kurniawan seakan hendak mengajak pembaca merenungkan kembali makna menjadi manusia, dengan mendengarkan sura-suara yang keluar dari para monyet, anjing, kaleng sarden. (Ibnu Hajjar. A)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *