buku Menerjang-Badai-Kekuasaan
buku Menerjang-Badai-Kekuasaan

(Resensi Buku) Para Penerjang Badai Kekuasaan

Posted on

Saya merasa metafora yang diajukan oleh Daniel Dhakidae benar adanya. 15 tokoh dalam buku ini pernah merasakan susahnya menerjang badai kekuasaan negara

Judul buku                 : Menerjang Badai Kekuasaan : Meneropong Tokoh-tokoh dari Sang Demonstran, Soe Hok Gie sampai Putra Sang Fajar, Bung Karno

Penulis                        : Daniel Dhakidae

Penerbit                      : Penerbit Buku Kompas

Tebal buku                 : xiv + 450 halaman

Tahun terbit               : 2015

 

Daniel Dhakidae adalah seorang intelektual Indonesia yang amat tertarik dengan studi tentang kekuasaan. Dua bukunya yang telah terbit, yakni Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003) dan Social Science and Power in Indonesia (2005) khusus menyoroti persoalan relasi kuasa dalam negara. Disertasinya yang bertajuk The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry pun menyoroti fenomena yang sama. Buku Menerjang Badai Kekuasaan ini pun menggarap tema yang sama.

Dalam wawancara dengan sebuah kantor berita, Daniel mengatakan ketertarikannya pada kekuasaan terpantik karena pengalaman masa kecilnya di Flores. Mengutip Daniel, “tidak ada guru yang tidak memukul dan tidak ada murid yang pernah dipukul”(indonesiasatu.co). Pengalaman itu yang kemudian membawanya untuk meneliti studi kekuasaan dalam konteks yang lebih makro—negara, cendekiawan, dan aktor-aktor politik. Buku ini merupakan catatan yang hampir sama personalnya dengan pengalaman masa kecil itu. Pemilihan tokoh-tokoh dalam buku ini, misalnya, adalah karena ketertarikan personal Daniel atas ketegaran mereka dalam menghadapi kuasa.

Buku ini memilih judul yang lumayan bertenaga, Menerjang Badai Kekuasaan, seolah ingin mengatakan bahwa mereka yang tertulis di sini adalah para penentang kekuasaan. Namun juga sebagaimana badai, kekuasaan juga mengombang-ambingkan kehidupan mereka. Bahkan “kuasa menjadi momen yang mengubah trajektori kehidupan” mereka (hal. xi). Daniel membikin tiga kategori 15 tokoh yang ia tulis : (a) powerfulness of the powerless, (b) power of the outcast, dan (c) powerlessness of the powerful.

Kategori yang pertama adalah mereka yang sama sekali tidak mengecap kuasa dalam kontestasi kekuasaan negara. Daniel menulis 5 orang, yakni Soe Hok Gie, Poncke Princen, Rusli, Toety Aziz dan Pramoedya Ananta Toer. Kelima orang ini tidak pernah berada dalam pusat kekuasaan, tetapi jejak mereka meninggalkan pengaruh yang besar bagi generasi sesudahnya. Karya Gie dan Pramoedya masih bergema sampai saat ini. Mereka berdua pun masih menjadi ikon perlawan terhadap kuasa negara.

Soekarno, Hatta, dan Gus Dur adalah contoh dari kategori ketiga yaitu powerlessness of the powerful. Tiga tokoh ini pernah menduduki posisi paling penting dalam republik ini, mereka secara politik bisa dibilang sangat berkuasa pada masanya. Tetapi, angin politik pun tidak selalu sejalan dengan kehendak mereka. Gus Dur diturunkan oleh MPR dari jabatan presiden, karena tuduhan yang dibuat-buat. Presiden yang idealis, sekaligus pejuang hak minoritas ini dipaksa turun oleh kekuatan politik yang tidak menghendakinya. Tindakannya dianggap terlalu menentang kemapanan politik pada saat itu.


Baca Juga : (Review Buku) Ulid, Gambaran Bersahaja Anak Desa

Baca Juga : (Review Buku) Mencari Tanah Kelahiran : Kisah Mengindonesiakan Anak-Anak Timor Leste

Bagian paling panjang dari buku ini adalah tentang sang putra fajar, Soekarno. Boleh dibilang, Soekarno adalah presiden Indonesia yang paling banyak ditulis dan juga menulis. Tulisan-tulisan di masa mudanya –seperti Di Bawah Bendera Revolusi I, Indonesia Menggugat, Sarinah—masih dibaca sampai sekarang. Soekarno menolak untuk menjadi seorang insinyur, alih-alih ia memilih aktivisme politik. Bagi Daniel, masa-mas Soekarno terutama saat ia diasingkan ke Ende, Flores adalah titik balik dari kehidupan politik Soekarno. Daniel Dhakidae berusaha menilik Soekarno dalam kacamata masa pengasingannya ini.

Sebelum Soekarno dibuang ke Ende, ia mengalami tekanan politik yang amat keras dari Belanda. Pada 1933, Soekarno dipenjarakan oleh Belanda karena pidato-pidatonya dianggap ekstrem dan keras. Ia ditahan, diinterogasi, dan diteror sampai ia merasa sangat putus asa. “Aku berjanji untuk selanjutnya mengundurkan diri dari kehidupan politik, dan menjadi warga yang tenang untuk mengurus keluarga dengan menjalankan praktik arstiek dan keinsinyuran,” begitu tulis Soekarno pada 30 Agustus 1933 (hal.377). Seorang Soekarno pun pernah mengalami kenangan pahit dengan kekuasaan. Di Ende lah, menurut Daniel, Soekarno memulihkan dirinya.

Bung Hatta pun pernah pula dihantam oleh kekuasaan. Soekarno di masa-masa akhir kepemimpinannya, menyingkirkan Hatta dari politik. Saat Orde Baru pun beliau tidak mendapatkan tempat. Begitu pula tokoh cendekiawan Sam Ratulangi. Sam Ratulangi adalah doktor lulusan luar negeri Indonesia pertama di bidang fisika dan matematika. Dia menguasai hampir lima bahasa. Ia kembali ke Indonesia untuk mengajar di sekolah Belanda, namun akhirnya harus keluar karena para petinggi Belanda tidak terima ada pribumi mengajar anak-anak Belanda. Karena dituduh Belanda sebagai antek Jepang ia pun dibuang ke Serui, Papua.

Para penerjang badai kuasa ini pun tidak hanya berasal dari mereka yang memang menduduki kursi politik. Rusli pelukis dari Yogyakarta menolak penghargaan kesenian dari pemerintah karena baginya itu merupakan intervensi terhadap karyanya. Ia yang pernah belajar di Kala Bhawana Shantiketan University  of Rabindranath Tagore di India berprinsip bagi pelukis kebebasan dan totalitas adalah segalanya. Ia tidak memandang lukisan sebagai barang dagangan, tetapi sebagai karya. Ilham baginya tak punya arti sama sekali. Apalagi penghargaan dari pemegang kuasa negara. Toety Azis, Pemred Surabaya Post, baginya jurnalisme adalah segalanya. Ia menggeluti dunia itu sampai ia berusia 70 tahun lebih. Baginya, de journalistiek vermoordt je, maar ze vermoordt je goddelijk. Jurnalisme akan membunuhmu tapi ia akan membunuhmu dengan keanggunan ilahi (hal.131). Ia menolak perintah Orde Baru bagi para pimpinan redaksi surat kabar  untuk menjadi anggota dengan Golkar.

Jikalau dua bagian dari buku ini membahas tokoh-tokoh “baik” dalam sejarah, bab power of the outcast memotret mereka yang terbuang dari catatan sejarah. Merekalah para kriminal, social bandit, atau meminjam frasa Foucault obscure personage. Mereka adalah tokoh-tokoh gelap yang sedemikian rupa sehingga tidak ada apapun yang bisa mengantarkan mereka pada kemasyhuran dan kehebatan (hal.213).



Taufik (Muksin Tamnge), Kusni Kasdut (Ignatius Waluyo), Hengky Tupanwael, adalah para obscure personage, tokoh-tokoh gelap. Tetapi menurut Daniel, sebagaimana Robin Hood, mereka adalah  Laronum omnium humanissimus, perampok yang paling manusiawi dari semua perampok (hal.217). Pun latarbelakang mereka memasuki dunia gelap patut ditelusuri pula. Taufik gagal mengikuti pelatihan olahraga di Belgrado, Yugoslavia karena tidak mampu membayar seorang pejabat Kementerian Luar negeri. Ia harusnya berada di “dunia terang” sebagai seorang atlet kebanggan bangsa, jikalau tidak ada oknum negara yang korup.

Kusni Kasdut pun mulanya adalah seorang tentara republik. Ia masuk ke berbagai laskar tentara rakyat, mulai dari anggota Pejuang Surabaya, Badan Keamanan Rakyat (BKR), tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kebijakan restrukturisasi tentara angkatan bersenjata dalam Kabinet Hatta (1950), membuat Kusni terpental dari posisinya sebagai tentara. Karena tak memiliki latar belakang resmi. Ia berkali-kali dijatuhi hukuman mati, namun selalu bisa meloloskan diri dan kemudian ditangkap lagi oleh polisi. Pada 1950, ia merampok dan membunuh seorang saudagar Arab, Ali Bajened. Yang paling fenomenal mungkin adalah aksinya pada 1963 saat merampok berlian Museum Pusat. Mengutip laporan majalah Tempo (hal. 228), “sebagai ‘seorang rantai’, narapidana, Kusni sudah 9 kali berusaha lari dari penjara dan tempat tahanan polisi. Hanya tiga kali ia gagal.” Kusni Kasdut akhirnya ditembak mati pada Februari 1980.

Dalam pengantar buku, Daniel sebetulnya memberikan kerangka untuk membaca fenomena kekuasaan dan tokoh-tokoh yang ia tuliskan. Ia mengajukan hipotesis, merujuk pada Stuart Mill, bahwa untuk memahami tokoh manapun dalam sejarah seseorang mesti mempertimbangkan 3 hal. Biografi, sejarah, dan struktur sosial. Setiap tokoh yang dituliskan dalam buku ini dikerangkai dalam tiga konteks tersebut. Yang mungkin terasa agak kurang adalah alasan atas pemilihan tokoh-tokoh ini. dalam epilog buku ini, Daniel menyebutkan bahwa tulisan-tulisan ini adalah kumpulan karyanya di berbagai kesempatan. Sehingga, tampak sekali keberimbangan porsi tulisan sangat tidak berimbang –ada yang ditulis sangat panjang, ada pula yang ditulis sangat pendek. Ada tokoh yang ditulis dengan analisis yang mendalam (Soekarno, Gie), ada pula yang ditulis dengan sangat ringkas dan terkesan permukaan saja (Rohimah, Gus Dur, dan Poncke Princen).

Serampung membaca buku ini, saya merasa metafora yang diajukan oleh Daniel Dhakidae –kekuasaan adalah bak badai—benar adanya. 15 tokoh yang diceritakan dalam buku ini, sama-sama pernah merasakan bagaimana susahnya menerjang badai bernama kekuasaan negara. Mulai pengasingan, tindak kekerasaan, sampai kehidupan yang terpaksa mesti beralih ke lorong-lorong gelap kejahatan. Namun, mereka punya kualitas yang sama. Mereka berani menerjang badai kekuasaan itu bagaimana pun akhirnya. (sajadah.co)

 

Oleh M Nafi dalam Majalah Kagama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *