rukun rukun haji
Sumber foto: https://www.thoughtco.com

Rukun-rukun Haji yang Wajib Anda Ketahui

Posted on

Rukun Haji – Rukun-rukun haji yang harus dilaksanakan orang yang berhaji ada lima yaitu: ihram,[1] thawaf,[2] Sa’i sesudahnya, wuquf di Arafah, dan mencukur rambut sesudahnya menurut satu pendapat. Adapun rukun umrah sama dengan rukun haji kecuali wuquf.[3]

Wajib-wajib haji yang digantikan dengan Dam ada enam yaitu:

Ihram dari miqat. Barang siapa tidak melakukannya dan melewati tempat miqat, maka wajib baginya[4] membayar Dam dengan menyembelih seekor kambing. Begitu juga orang yang tidak melempar jumrah diwajibkan membayar dam. Para ulama sepakat bahwa membayar Dam karena meninggalkan ihram dan jumrah ini hukumnya wajib.

Baca Juga : Syarat-syarat Haji yang Wajib Anda Ketahui

Baca Juga : Larangan-larangan Haji dan Umrah yang Wajib Anda Ketahui

Sedangkan bersabar wuquf di Arafah hingga terbenam matahari, Mabit (bermalam) di Muzdalifah, Mabit di Mina dan thawaf wada’, keempat-empatnya apabila ditinggalkan wajib diganti dengan Dam menurut salah satu pendapat. Adapun pendapat kedua menyatakan membayar Dam dari empat perkara itu hukumnya sunnah.[5]

Cara menunaikan haji dan umrah ada tiga yaitu:

Pertama, Haji Ifrad (menyendirikan). Cara inilah yang paling utama. Yaitu melaksanakan haji terlebih dahulu dan setelah selesai, keluar ke tanah halal kemudian mulai ihram untuk umrah. Tanah halal paling utama untuk memulai ihram umrah adalah Ji’ranah kemudian Tan’im, lalu Hudaibiyah. Orang yang melaksanakan haji ifrad tidak diwajibkan membayar Dam kecuali apabila dia ingin berbuat sunnah (bersedekah).



Kedua, Haji Qiran (bersama-sama). Yaitu menyatukan haji dan umrah.[6] Sehingga dalam bertalbiyah, dia akan mengucapkan labbaikan bi hajjatin wa ‘umratin ma’an (aku memenuhi panggilan-Mu dengan haji dan umrah bersamaan) dan dengannya dia telah berihram. Cukup baginya mengerjakan manasik-manasik haji. Adapun manasik umrah sudah tercakup di dalam haji seperti wudhu sudah masuk ke dalam mandi.[7] Kecuali apabila dia thawaf dan Sa’i sebelum wuquf di Arafah, maka ibadah Sa’inya terhitung sebagian bagian dari haji dan umrah. Adapun thawafnya belum termasuk karena syarat thawaf fardhu  dalam haji harus dilakukan setelah wuquf. Bagi orang yang melaksanakan qiran harus membayar Dam dengan menyembelih seekor kambing.[8] Dam ini tidak berlaku bagi penduduk Makkah karena dia tidak meninggalkan miqatnya sebab miqatnya adalah tanah Makkah itu sendiri.

rukun rukun haji 1
Sumber foto: http://thealchemistallusions.weebly.com

Ketiga, Haji Tamattu’ (bersenang-senang). Yaitu melewati miqat sebagai orang yang berihram untuk umrah lalu berTahallul di Makkah dan bersenang-senang dengan segala larangan hingga tiba waktu haji kemudian dia berihram untuk haji.[9] Tidak boleh melakukan tamattu’ kecuali dengan lima persyaratan.

Pertama, dia bukan termasuk penduduk Masjidil Haram. Yang dianggap sebagai penduduk Masjidil Haram adalah orang yang jarak tempat tinggalnya dari sana belum memadai untuk melakukan qashar shalat.[10]

Kedua, mendahulukan umrah sebelum haji.[11]

Ketiga, umrahnya dilaksanakan pada bulan-bulan haji.[12]

Keempat, tidak kembali ke miqat haji dan tidak pula ke tempat yang berjarak sama dengannya untuk melakukan ihram haji.

Kelima, haji dan umrahnya untuk satu orang.



Apabila ditemukan lima sifat di atas, maka dia telah melakukan tamattu’ dan wajib baginya membayar Dam dengan menyembelih seekor kambing.[13] Jika tidak menemukan, maka dia harus berpuasa tiga hari selama haji sebelum hari raya Kurban baik berturut-turut maupun berjeda-jeda[14] dan berpuasa tujuh hari sepulangnya ke kampung halaman. Jika belum puasa tiga hari sekembalinya ke kampung halaman, maka dia harus berpuasa sepuluh hari —baik berturut-turut maupun berjeda-jeda. Ganti dari Dam qiran dan tamattu’ itu sama. Cara yang paling utama adalah haji ifrad, lalu haji tamattu’ kemudian haji qiran.[15]

Demikianlah rukun-rukun haji yang wajib anda ketahui sebelum anda melaksanakan ibadah haji.

Tulisan mengenai rukun haji ini diambil dari buku yang berjudul Rahasia Haji & Umrah yang diterbitkan oleh Turost Pustaka pada Oktober 2017. Buku ini merupakan terjemah dari kitab Asrorul Hajj karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali

Foornote Rukun Haji

[1] Karena setiap ibadah yang memiliki tahlil (penghalalan), pasti mempunyai ihram (pengharaman).

[2] Maksudnya adalah thawaf ziarah setelah wuquf di Arafah. Pengarang kitab Al-Qut mengatakan bahwa thawaf haji ada tiga. Yang pertama hukumnya fardhu sehingga jika ditinggalkan hajinya batal, yaitu thawaf ziarah. Yang kedua hukumnya sunnah, apabila ditinggalkan harus membayar dam dan hajinya sempurna, yaitu thawaf wada’. Dan ketiga hukumnya mustahab (dianjurkan), jika ditinggalkan tidak apa-apa, yaitu thawaf wurud.

[3] Yakni wuquf di Arafah. Yang membedakan haji dengan umrah adalah wuquf. Haji disebut haji besar dan umrah dikatakan haji kecil karena umrah tidak mencakup semua manasik haji.

[4] Ketika seseorang melewati tempat yang mengharuskannya untuk ihram dalam keadaan belum berihram, maka dia berdosa. Dia harus kembali dan mengulang ihram dari miqat selama tidak ada udzur. Jika ada udzur yang menghalanginya kembali, dia langsung mengambil ihram dan melanjutkan jalannya.

Apabila dia tidak kembali, maka harus membayar dam. Jika kembali, boleh jadi dia kembali dan memulai ihram dari miqat atau kembali setelah ihram. Dalam kondisi pertama, jika dia kembali sebelum jarak jauhnya setara dengan jarak qashar shalat, maka tidak perlu membayar dam. Namun jika dia kembali setelah memasuki Makkah, maka dendam dam belum gugur karena dia telah melakukan larangan, yaitu masuk Makkah dalam keadaan tidak ihram padahal dia bermaksud hendak beribadah haji.  Jika dia kembali setelah berada jauh dari miqat yang jaraknya sama dengan jarak qashar shalat, maka ada dua pendapat. Yang paling kuat adalah dia tidak berkewajiban membayar dam sedangkan menurut pendapat kedua, denda damnya tidak gugur.

Sedangkan Abu Hanifah berpendapat, apabila seseorang baru ihram setelah melewati miqat lalu kembali sebelum menjalankan manasik sambil membaca talbiyah, maka denda dam menjadi gugur. Namun apabila dia kembali tanpa bertalbiyah, dia tetap harus membayar dam.



[5] Sahabat kami mengatakan bahwa apabila meninggalkan salah satu wajib haji, maka harus membayar dam karena meninggalnya namun hajinya tetap sah, baik ditinggalkan dengan sengaja atau lupa. Hanya bedanya, jika mengandung unsur kesengajaan, maka hukumnya berdosa.

Dalam kitab Al-Bada`i’ dikatakan bahwa semua wajib haji jika ditinggalkan karena halangan udzur syar’i, maka tidak masalah. Namun apabila ditinggalkan tanpa ada udzur yang dibenarkan, maka wajib membayar dam. Kecuali dua hal, mencukur rambut dan dua rakaat thawaf. Keduanya termasuk wajib haji dan apabila ditinggalkan tidak wajib membayar dam.

Abu Hanifah dan Imam Ahmad berkata bahwa thawaf wada’ adalah wajib haji. apabila ditinggalkan tanpa udzur syar’i, maka wajib membayar dam. Adapun Imam Malik berpendapat, bahwa thawaf wada’ bukan termasuk wajib haji, hanya sunnah sehingga tidak wajib membayar dam.

[6] Melaksanakan keduanya secara bersamaan.

[7] Abu Hanifah berpendapat, tidak bisa disatukan  sehingga harus melakukan dua thawaf dan dua sa’i di mana salah satunya untuk haji dan satunya lagi untuk umrah.

[8] Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah menyembelih hadyu berupa seekor sapi untuk istri-istrinya yang menjalankan haji qiran. Dan karena denda dam wajib atas orang yang haji tamattu’ berdasarkan nash Al-Qur’an. Manasik orang yang haji tamattu’ lebih banyak daripada haji qiran. Apabila dam diwajibkan atas orang yang haji tamattu’, tentu dam itu jauh lebih diwajibkan bagi orang yang haji qiran.

[9] Memulai haji dari Makkah disebut mutamatti’ (orang yang bersenang-senang) karena menikmeninggal larangan-larangan ihram antara pelaksanaan umrah dan haji atau karena dia punya potensi untuk menikmeninggal kesenangan karena statusnya tahalulnya.

Menurut Abu Hanifah, jika menyembelih hadyu, dia belum selesai tahalul dengan tuntasnya umrah tapi langsung ihram untuk haji. Ketika sudah selesai ihram haji, maka dia telah menuntaskan ibadah umrah dan haji. Jika tidak menyembelih hadyu, maka dia sudah tahalul dengan selesainya umrah.

[10] Allah SWT berfirman, “Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah).”  (Al-Baqarah: 196) Maknanya, penduduk Makkah miqat hajinya adalah Makkah itu sendiri.

[11] Apabila dia haji kemudian umrah, maka tidak ada kewajiban membayar dam karena dam hanya diwajibkan ketika menyatukan umrah di dalam waktu haji dan meninggalkan ihram haji dari miqat.

[12] Seandainya melaksanakan ihram dan menuntaskan manasik lainnya sebelum tiba bulan haji, kemudian melaksanakan haji, maka dia tidak wajib membayar dam, karena tidak menyatukan umrah dan haji pada waktu haji. Serupa dengan haji ifrad karena tidak menyatukan umrah dan haji -tidak ada kewajiban membayar dam-.

Para imam madzhab menuturkan bahwa denda dam karena haji tamattu’ dilihat dari maknanya, tergantung pada dua perkara. Pertama, keuntungan miqat sebagaimana sudah diterangkan dan kedua, berlangsungnya umrah pada bulan-bulan haji. Mereka tidak menyatukan haji dengan umrah pada waktu haji kendati memungkinkan dan justru mencelanya.



[13] Haji tamatu diwajibkan membayar dam seekor kambing apabila memperolehnya. Demikian penafsiran atas firman Allah, “(Wajiblah ia menyembelih) hadyu (kurban) yang mudah didapat.” (Al-Baqarah: 196)

Tipe kambing yang dipakai untuk hadyu sama seperti tipe kambing yang dipakai untuk berkurban. Seekor kambing ini boleh digantikan dengan unta atau sapi untuk tujuh orang. Waktu wajibnya adalah ketika ihram haji. Demikian pendapat Abu Hanifah karena pada saat itu dia menjadi orang yang tamattu’ dengan umrah hingga haji. Sedangkan menurut Imam Malik, belum wajib hingga dia selesai melempar jumrah aqabah sehingga sempurnalah hajinya. Apabila sudah wajib, maka boleh disemeblih dan tidak ditentukan pada satu waktu seperti dam-dam yang dipakai untuk menyempurnakan kekurangan. Hanya saja, waktu yang paling utama untuk menyembelih adalah para hari raya Kurban.

Menurut Imam Malik, Abu Hanifah dan Imam Ahmad, menyembelih hadyu hanya pada waktu hari Raya Kurban.

Pertanyaannya, apakah boleh disembelih sebelum ihram haji dan sesudah tahalul umrah? Ada dua pendapat. Pertama, tidak boleh sebagaimana tidak boleh puasa dalam kondisi ini. Dan kedua, boleh melakukannya. Inilah pendapat yang paling shahih karena menyangkut hak harta yang berkaitan dengan dua perkara, yakni selesainya umrah dan hendak memulai ibadah haji. Apabila mendapati salah satu dari keduanya, maka boleh mengeluarkan dam layaknya zakat dan kafarat.

[14] Jika dia melaksanakan ihram lebih dari tiga hari sebelum hari raya Kurban. Apabila tidak, maka dia wajib berpuasa berturut-turut.

[15] Imam Ar-Rafi’i berpendapat, adapun yang paling afdlal adalah bahwa pendapat Imam Asy-Syafi’i  tidak berbeda-beda dalam mengakhirkan qira’ setelah ifrad dan tamattu’ karena manasik-manasik haji dan umrah lebih sempurna daripada bila dilakukan dengan qiran.

Sedangkan menurut Abu Hanifah, cara qiran lebih utama daripada ifrad dan tamattu’.

 

Semoga tulisan mengenai rukun haji ini bisa bermanfaat dan menjadi bekal bagi yang ingin berhaji untuk mengetahui rukun-rukun haji.

(Sajadah.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *