pondok pesantren krapyak 5
Sumber foto: https://suarapesantren.net

Sejarah Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

Posted on

Pondok Pesantren Krapyak yang semula hanya terdiri dari bangunan sederhana tempat tinggal santri dan ruang belajar, dalam perkembangannya dilengkapi dengan masjid serta sejumlah sekolah maupun madrasah. Regenerasi sepeninggal KH. M. Munawwir juga semakin memantik berdirinya cabang-cabang dengan pilihan program pendidikan yang variatif.

1. Biografi Singkat KH.M. Munawwir (Pendiri Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta)

M. Munawwir merupakan salah satu ulama termasyhur dari Yogyakarta yang memiliki spesialisasi pada cabang ilmu Al-quran (tahfidzul Al-quran). Ia terkenal tidak saja berkat kepemilikan sanad Al-qurannya yang sampai kepada Muhammad SAW, melainkan juga karena keberhasilannya mencetak ulama-ulama Al-quran yang mumpuni di tanah Jawa. Perjalanan hidup sosok yang kemudian disebut sebagai Mahaguru Al-quran di Tanah Jawa ini dimulai dari latar belakang keluarganya yang memiliki visi keagamaan tinggi. Sejak usia dini ia telah diarahkan untuk melakukan pengembaraan ilmiah kepada sejumlah ulama di Jawa. Puncak pergulatan intelektualnya kemudian ditandai saat ia berguru kepada ulama-ulama di tanah suci Makkah dan Madinah (haramain) selama belasan tahun.’

pondok pesantren krapyak 5
Sumber foto: https://suarapesantren.net

M. Munawwir lahir pada akhir abad 19 dan dibesarkan di dekat pusat Kraton Yogyakarta, tepatnya di bilangan Kauman. Ayahnya, KH. Abdullah Rosyad merupakan salah satu penasihat agama Kraton. Kedekatan keluarga Kiai Munawwir dengan pihak Kraton telah berlangsung semenjak era kakeknya, Kiai Hasan Bashori atau Kiai Hasan Besari yang disebut As’ad (2011:2) sebagai ajudan Pangeran Diponegoro. Kelak kedekatan ini kembali terjalin oleh pernikahan Kiai Munawwir dengan salah seorang keturunan Kraton.

Baca Juga : 8 Ponpes Tahfidz Al-Quran Terbaik Se-Indonesia yang Sudah Teruji Kualitasnya

Hasan Bashori bisa dikatakan sebagai pemicu utama kegigihan Kiai Munawwir dalam menekuni ilmu Al-quran Pasalnya, sang kakek itulah yang pertama kali menurunkan wasiat kepada keturunannya untuk menjadi seorang penghapal Al-quran. Alkisah, Kiai Hasan Besari yang berulang kali gagal menghafalkan Al-quran mendapat ilham bahwa kelak kemampuan itu akan dimiliki oleh keturunannya. Namun, KH. Abdullah Rosyad yang mengikuti jejak ayahnya pun mengalami kegagalan yang sama. Atas dasar itulah sedari muda Kiai Munawwir benar-benar diarahkan untuk menghafalkan Al-quran. KH. Abdullah Rosyad mengajarkan Al-quran kepada Munawwir muda dan mengirimnya ke sejumlah guru di Jawa dan Madura. Dari catatan pengembaraan ini peristiwa yang penting untuk dicatat adalah bahwa di Madura, Munawwir muda yang baru berusia sepuluh tahun telah mampu memukau gurunya, KH. Kholil Bangkalan atas bacaan Al-quran nya yang cemerlang hingga ia dianggap pantas menjadi imam sholat. Setelah belajar kepada beberapa guru di tanah air, Kiai Munawwir melanjutkan perjalanan ke Makkah kemudian Madinah sebagai puncak dari pengembaraan ilmihnya.Madinah menjadi tempat penempaan diri KH. M. Munawwir selama sebelas tahun. Di sana ia berhasil mengkhatamkan hafalan Al-quran berikut menguasai ilmu qiraah sab’ah. Atmosfer kota suci yang kosmopolit juga mempertemukannya dengan guru-guru dari berbagai belahan dunia.

Usai menuntut ilmu di tanah suci,  KH. M. Munawwir kembali Kauman Yogyakarta pada 1909. Keinginan mendirikan pondok pesantren untuk mengajarkan ilmu Al-quran yang menjadi spesialisasinya terbentur kurang memadainya lokasi. Hingga suatu hari datanglah  KH. Said, seorang kiai besar dari Gedongan Cirebon yang menyarankan KH. M. Munawwir untuk berpindah ke luar kota demi mengambangkan pengajian Al-quran. Selain itu kepindahan dari Kauman juga untuk menghindarkan diri dari kewajiban sebo(membungkuk memberi hormat) di hadapan Sultan. (As’ad, 2011:17-8)

8 Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Terbaik Se-Indonesia yang Sudah Teruji Kualitasnya
Sumber foto: brilio.net

Atas prakarsa KH. Said itulah berhasil dibeli sebidang tanah di Dusun Krapyak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta dengan uang amal KH. Ali dari Graksan, Cirebon. Pada tahun 1909 Pondok Pesantren Al-Munawwir yang pada saat itu cukup disebut Pondok Pesantren Krapyak mulai dibangun dan mulai dioperasionalisasikan untuk kegiatan belajar mengajar Al-quran pada 1910.

Baca Juga : 2 Ponpes Tahfidz Quran Anak Terbaik di Indonesia

Dalam hidupnya KH. M. Munawwir memiliki lima orang istri. Mereka adalah Nyai R.A. Mursyidah, Nyai Sukis, Nyai Salimah, Nyai Rumiyah, dan Nyai Khodijah. Dari kelima istri tersebut KH. M. Munawwir memiliki 33 orang anak. Salah seorang putrinya, Nyai Hj. Hasyimah menikah dengan KH. Ali Maksum bin KH. Ma’shum dari Desa Sodhitan, Kecamatan Lasem, Rembang. KH. Ali Maksum yang juga merupakan ulama kenamaan inilah yang pada akhirnya meneruskan pengasuhan dan pengembangan Pondok Pesantren Krapyak sepeninggal KH. M. Munawwir.

2. Kepemilikan Sanad Al-quran K.H. M Munawwir (Pendiri Pondok Pesantren Krapyak) hingga Nabi Muhammad

Berbicara mengenai KH. M. Munawwir otomatis berbicara tentang kepakarannya di bidang ilmu Al-quran. Sebab, keilmuan Al-quran menjadi modal budaya paling penting dari sosok KH. M. Munawwir yang melanggengkan eksistensinya dari masa ke masa. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Keagamaan tahun 2005 yang mendapatkan hasil bahwa kemampuan seorang ulama dalam menghafal Al-quran merupakan puncak intelektual keulamaannya yang dapat meningkatkan status sosial dalam kehidupan keagamaan. (2005: 151)

8 Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Terbaik Se-Indonesia yang Sudah Teruji Kualitasnya 4
Sumber foto: Aktual.com

Menurut riwayat, perkenalan KH. Said, Gedongan, Cirebon, yang memberikan saran agar berpindah ke Dusun Krapyak berawal dari kemasyhuran KH. M. Munawwir sebagai penghapal Al-quran sejak masih berada di tanah suci. Mendengar kemahiran KH. M. Munawwir dalam hafalan Al-quran , muncul simpati dari KH. Said. Setiap ada santrinya yang pergi haji, KH. Said selalu menitipkan salam dan hadiah. Bahkan ia juga pernah mengamanatkan haji orang tuanya yang sudah meninggal kepada KH. M. Munawwir meskipun keduanya belum pernah bertatap muka langsung.

Baca Juga : Kamus Arab Indonesia Terlengkap Al-Munawwir: Sejarah dan Proses Kelahirannya

Di samping itu, keunggulan yang dimiliki KH. M. Munawwir adalah selain berhasil mengkhatamkan hafalan Al-quran 30 Juz, ia juga berhasil menghafal Al-quran dengan qiraah sab’ah (bacaan tujuh). Kesuksesan ini sekaligus mencatatkan KH. M. Munawwir sebagai ulama Jawa pertama yang berhasil menguasai qiraah sab’ah. (Mastuki:2006: 330) Kepakaran dalam bidang Al-quran tersebut terus melekat dalam diri KH. M. Munawwir sekembalinya dari tanah suci dan menjadi magnet bagi para santri yang ingin menimba ilmu darinya.

3. Tradisi Menuntut Ilmu ke Tanah Suci

Tradisi pengembaraan penduduk nusantara menuju Haramain untuk menimba ilmu agama telah berlangsung sejak abad 19. Hal itu ditandai oleh beberapa perkembangan penting dunia yaitu ditemukannya kapal api menjelang abad ke-19 dan dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869. Sementara itu di Indonesia, pemerintah kolonial memberi izin kepada perusahaan kapal KPM untuk mengangkut jamaah haji Indonesia. Belanda juga mencabut resolusi-resolusi tahun 1825, 1831, dan ordonansi tahun 1559 yang melarang umat Islam Indonesia melakukan perjalanan haji ke Makkah. (Dhofier, 2009: 161)

Pada saat bersamaan, kondisi ekonomi penduduk pribumi tengah mengalami penguatan. Akibat dibukanya perkebunan-perkebunan tebu, kopi, dan tembakau yang luas di beberapa daerah, selain pabrik-pabrik gula dengan kebun tebunya yang luas, dengan sendirinya muncul sebuah kelompok santri yang memiliki akumulasi kekayaan semakin bertambah dari masa ke masa. Dalam waktu 20 hingga 30 tahun para santri ini telah mempunyai cukup dana untuk mengirimkan anak-anak mereka belajar ke Timur Tengah. (Wahid, 2001:224)

Baca Juga : Definisi Pesantren, Kiai dan Santri

Data Snouck Hugronje dari Makkah pada tahun 1881 menjelaskan, terdapat tidak kurang dari 5.000 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana. Sedangkan, pada tahun 1887 sebagaimana dilaporkan Bernard Dahm, di 43.000 desa di Indonesia sudah terdaftar sebanyak 48.819 haji serta 21.500 guru dan kiai pimpinan pondok pesantren. Sejak tahun 1890 pula di Indonesia setiap tahun bertambah sekitar 10.000 haji. Perubahan baru terjadi pasca Perang Dunia I dan Perang Dunia II serta bergantinya kekuasaan Syarif Husein di Saudi Arabia ke pemerintahan Ibnu Saud. Pada saat itu, jumlah santri senior dari Indonesia yang belajar ke Masjidil Haram di Makkah mengalami penurunan yang sangat drastis. (Dhofier, 2009: 61-3)

4. Guru dan Sanad Al-quran KH. M Munawwir (Pendiri Pondok Pesantren Krapyak) di Tanah Suci

Tradisi menghapal Al-quran telah bermula sejak periode awal Islam. Setiap Muhammad mendapat wahyu, ia mensosialisasikan Al-quran kepada para sahabatnya dan memerintahkan mereka untuk menulis serta menghafalkannya. Para sahabat sangat senang menerima perintah itu. Mereka menulis dan menghafal wahyu tersebut. Tradisi menulis dan menghafal Al-quran dilanjutkan oleh para tabi’in (generasi setelah Nabi dan sahabat) dan selanjutnya oleh para umat Islam. (Syatibi, 2008: 112)

Faktor guru menjadi salah satu urgensi di balik perjalanan KH. M. Munawwir menuntut ilmu Al-quran ke Haramain. Guru-guru agama, dalam hal ini khususnya guru Al-quran di Makkah dan Madinah mewarisi sanad Al-quran dari Muhammad, Nabi pembawa wahyu Al-quran. Adanya jalur sanad ini membuat ilmu Al-quran dari Haramain dianggap lebih kredibel.

pondok pesantren krapyak 1
Sumber foto: http://www.ayomondok.net

Sanad dalam hal ini adalah jaringan atau silsilah seorang hafiz (penghapal Al-quran) yang diurutkan dari Nabi Muhammad, para sahabat, tabi’in(generasi setelah sahabat), tabi’ tabiin (generasi setelah tabi’in), sampai guru tahfidz kepada ulama tahfidz yang ada. Sanad dalam tahfidz diperlukan dalam rangka menjaga kemurnian atau konsistensi hafalan seseorang dalam jalur bacaan yang benar, karena dapat saja hafalan yang diambil dari berbagai sumber akan menimbulkan perbedaan bacaan. (Syatibi, 2008: 118-119)

M. Munawwir merantau selama 21 tahun di Makkah-Madinah dan berguru kepada beberapa ulama, yaitu Syekh Abdullah Sanqoro, Syekh Sarbini, Syekh Mukri, Syekh Ibrohim Huzaimi, Syekh Mansur, Syekh Abdus Sakur, serta Syekh Mustofa. Di bawah bimbingan  para gurunya inilah KH. M. Munawwir  berhasil menghafalkan Al-quran 30  juz. (As’ad, 2011: 4). Dikisahkan, sebelum memulai menghafalkan Al-quran di tanah haram, KH. M. Munawwir sempat mengirimkan surat kepada kedua orang tuanya untuk meminta izin menghapalkan Al-quran. Empat puluh hari berselang setelah surat itu dilayangkan, belum juga sempat dibalas, surat kedua dari KH. M. Munawwir datang kembali. Isinya menerangkan ungkapan syukurnya bahwa ia telah berhasil mengkhatamkan hafalan Al-quran 30 juz. Dari  kisah ini kemudian disimpulkan bahwa KH. M. Munawwir  menghafalkan Al-quran hanya dalam 40 hari. Hal ini dianggap menjadi sebuah keunggulan atau karomah sosok KH. M. Munawwir yang kerap diceritakan kembali oleh para keturunannya.

Pada dasarnya, banyak ulama Indonesia yang mempelajari Al-quran di Mekah dan sebagian di antara mereka telah hafal Al-quran. Akan tetapi, banyak di antara mereka yang lebih senang mengembangkan ilmunya yang lain seperti tafsir, fikih, nahwu/sharaf, tasawuf karena pada saat itu dipandang lebih dibutuhkan daripada tahfidz. Spesifikasi ilmu di bidang Al-quran menjadikan pembeda (distinction) KH. M. Munawwir dengan ulama-ulama yang lain.

Selain itu, KH. M. Munawwir juga dikenal memiliki laku prihatin (riyadloh) yang tinggi dalam menjaga hafalan Al-quran-nya. Metode menjaga hafalan KH. M. Munawwir yaitu tiga tahun pertama mengkhatamkan Al-quran setiap tujuh hari sekali, tiga tahun berikutnya mengkhatamkan Al-quran setiap tiga hari sekali dan tiga tahun berikutnya mengkhatamkan Al-quran setiap hari. Dalam tiga tahun terakhir itu bahkan dikisahkan mulut KH. M. Munawwir sampai mengeluarkan darah lantaran membaca Al-quran tanpa  henti setiap hari. Kisah mengenai riyadloh ini pun tak pelak  menambah kekeramatan dalam diri KH. M. Munawwir.

Selain menghafalkan seluruh teks Al-quran ia juga menghapalkan qiraah sab’ah, yaitu tujuh variasi bacaan Al-quran di bawah bimbingan seorang guru yaitu Syekh Yusuf Hajar. Setidaknya terdapat tujuh macam bacaan (qiraat) yang bisa digunakan kaum Muslimin untuk membaca Al-quran yang kesahihannya telah disepakati para ulama. Penetapan qiraah sab’ah dilakukan pada masa Khalifah ‘Abbasiyah yang memerintahkan Ibnu Mujahid (324 H) melakukan penertiban. Penertiban ini dilatarbelakangi oleh munculnya variasi bacaan Al-quran yang semakin beragam bahkan tidak terkontrol. Kemudian, kebijakan pemilihan menjadi tujuh macam qiraat diambil berdasarkan pada hadis Nabi Muhammad ketika menjawab perselisihan Umar bin Khattab dengan Hisyam bin Hakim dalam membaca potongan surat Al-Furqon saat melaksanakan shalat. Hadis itu berbunyi: “Demikianlah kitab ini diturunkan, sesungguhnya Al-quran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah yang mudah darinya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) Tujuh qiraah inilah yang kemudian dianggap memiliki kualitas periwayatan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun dalam perkembangannya, dari tujuh imam itu hanya satu imam yang mendominasi seluruh bacaan umat Islam di Indonesia yaitu qiraat ‘Asim riwayat Hafs. (Musthofa: 2011: 222) Oleh karena itulah ilmu qiraah sab’ah menjadi ilmu yang terbilang langka. Ilmu ini juga memiliki tingkat kesulitan yang lebih karena mengharuskan untuk menghafalkan Al-quran  dalam tujuh bacaan yang berbeda. Untuk mempelajarinya pun seseorang disyaratkan untuk hafal seluruh teks Al-quran. Tak pelak, kepemilikan ilmu ini memberikan privilege tersendiri sekaligus menjadi modal budaya paling besar bagi KH. M. Munawwir.

pondok pesantren krapyak 4
Sumber foto: https://kabarkota.com

Apabila ditelisik, di Indonesia, KH. M. Munawwir bukanlah satu-satunya pemilik sanad Al-quran yang tersambung hingga kepada Nabi Muhammad. Menurut penelitian M. Syatibi, ditemukan bahwa jalur sanad awal yang ada dan berkembang di Indonesia merujuk pada lima orang ulama Al-quran yaitu KH. M. Munawwir Krapyak Yogyakarta (1941 M) pada urutan ke 31, KH. Munawwar Sidayu Gresik (1944 M) pada urutan ke 28, KH. Said bin Ismail Madura (1954 M) pada urutan ke 35, KH. M. Mahfudz Termas (1917 M) pada urutan ke 30, dan KH. Dahlan Khalil Jombang pada urutan ke 34. Semua sanad tersebut bertemu pada jalur Abu Yahya Zakaria Al-Anshari dan semuanya berujung pada Imam Hafs dan seterusnya Imam Asim sampai Nabi Muhammad. (Syatibi: 2008:119) Namun dalam perkembangannya, dari keempat ulama pemegang sanad Al-quran tersebut KH. M. Munawwir menjadi ulama yang paling termasyhur karena konsistensinya dalam mengembangkan pendidikan Al-quran di kemudian hari.

5. Mengembangkan Pondok Pesantren Al-quran (Pondok Pesantren Krapyak) di Indonesia

Tradisi tahfidz Al-quran di Indonesia mulai muncul dalam kultur pondok pesantren khususnya setelah ada kontak langsung antara ulama Nusantara dan ulama Timur Tengah. (Khoeron, 2011: 199-202)  Hal  ini didorong oleh keinginan para alumnus lembaga tahfidz baik dari Timur Tengah atau pondok pesantren lokal untuk mencetak generasi quran’i di Indonesia. Motivasi ini sangat masuk akal apabila dikaitkan dengan ajaran teologis Islam. Bahwa Muhammad dalam sabdanya mengatakan, “Khairukum man taallamal qur’an a wa ‘allamahu,” yang berarti, “Sebaik-baik kamu sekalian adalah yang mempelajari Al-quran dan mengajarkannya.” (Syatibi, 2008: 115-6) Anjuran ini kemudian diteruskan oleh para kiai kepada  para santrinya untuk melanjutkan tradisi mengajarkan tahfidzul Al-quran  di lingkungannya. Pesantrenpesantren tahfidz yang didirikan oleh para murid KH. M. Munawwir dan KH. Arwani –santri KH. M. Munawwir yang dianggap paling berhasil, misalnya, merupakan perwujudan amanah keduanya unuk mengembangkan pondok pesantren Al-quran di lingkungan masyarakat di mana dia berada. Meski demikian, “tren” perkembangan pondok pesantren tahfidz di Indonesia justru mulai pesat setelah cabang tahfidz Al-quran dimasukkan ke dalam Musabaqah Tilawatil Al-quran  (MTQ) tahun 1981 sehingga lembaga model ini kemudian berkembang di berbagai wilayah di Indonesia. (Pedoman Musabaqah Tilawatil Al-quran  XX dalam Syatibi, 2008: 113)

Sejak kembali dari tanah suci, KH. M. Munawwir telah menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pendidikan Al-quran. Di kampung halamannya, Kauman, Yogyakarta, ia pertama kalinya menyelenggarakan pengajian Al-quran di sebuah langgar yang kini telah beralih fungsi menjadi gedung Nasyatul Aisyiyah. (As’ad: 2011: 20) Upaya ini mendapat sambutan bagus dan terus berkembang. Namun karena beberapa hal ia memutuskan untuk pindah ke Dusun Krapyak, Desa Panggungharjo, Yogyakarta.

Pondok Pesantren Krapyak menjadi wadah yang didirikan KH. M. Munawwir untuk mentransfer ilmu Al-quran yang dimilikinya kepada masyarakat. Meskipun bukan merupakan pondok pesantren Al-quran  yang pertama, namun Pondok Pesantren Krapyak tetap menjadi pionir dalam kancah studi ilmu Al-quran. Berdiri pada 1910 Pondok Pesantren Krapyak berkembang secara progresif dengan tetap  berfokus pada studi Al-quran .

pondok pesantren krapyak 2
Sumber foto: http://memecomicsantri.blogspot.co.id

Pada dekade awal berdirinya, Pondok Pesantren Krapyak baru didiami oleh enam puluh orang. (As’ad,  2011:23) Jumlah ini terus berkembang hingga pada 2016 telah mencapai 2000-an santri. Di samping itu, Pondok pesantren Krapyak juga turut dibesarkan oleh para alumninya yang sukses mengembangkan pondok pesantren Al-quran di berbagai daerah. Di antaranya adalah KH. Arwani Amin, Kudus; KH. Badawi, Kaliwungu, Semarang; KH. Muntaha, Kalibeber, Wonosobo, KH. Umar, Mangkuyudan, Solo; dan KH. Murtadlo, Buntet, Cirebon. Nama-nama kiai tersebut menjadi bagian bukti nyata kiprah intelektual KH. Munawwir.

Dalam hal pengembangan pondok pesantren Al-quran KH. M. Munawwir lebih maju dibandingkan para kiai pemegang sanad lainnya di Indonesia. Di saat Pondok Pesantren Krapyak mampu berkembang dan melakukan regenerasi dengan baik, pondok pesantren Al-Munawwar Gresik  justru mengalami masa surut. Pada periode 1944-1967 pondok pesantren tersebut tidak bisa diteruskan sebab memasuki generasi ketiga atau cucu putra KH. Daud Al-Munawwar tidak bisa mengelola karena tidak ada yang hapal Al-quran.(Syatibi, 2008: 122-123) Sementara itu KH. M. Mahfudz Termas dalam pengajarannya lebih berfokus pada ilmu bahasa dibanding ilmu Al-quran. Sedangkan pesantren Al-quran asuhan KH. Said bin Ismail Madura dan KH. Dahlan Khalil Jombang gaungnya tidak sebesar Krapyak yang telah berhasil mencetak kader-kader Al-quran di berbagai daerah.

6. Perkembangan Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta

Pondok Pesantren Krapyak yang semula hanya terdiri dari bangunan sederhana tempat tinggal santri dan ruang belajar, dalam perkembangannya dilengkapi dengan masjid serta sejumlah sekolah maupun madrasah. Regenerasi sepeninggal KH. M. Munawwir juga semakin memantik berdirinya cabang-cabang dengan pilihan program pendidikan yang variatif.

Setelah bangunan pondok pesantren selesai dibuat dan mulai ditempati untuk mengajar Al-quran, tahap  selanjutnya KH. M. Munawwir memprakarsai pembangunan masjid dengan dibantu oleh masyarakat sekitar. Pembangunan berjalan terus sampai tahun 1927.Kembali setelah itu pembangunan diteruskan dengan membangun komplek santri dari tahun 1929 sampai 1930. (As’ad, 2011: 19)

Dengan perluasan gedung secara bertahap tersebut, jumlah santri terus berkembang signifikan. Pada tahun 1910-1920 jumlah santri berkembang dari 6 menjadi 60 orang. Pada 1921-1923 jumlah santri dalam kisaran 90 sampai 100 orang, sampai KH. M. Munawwir meninggal dunia, jumlah santri sampai 200 orang. Faktor lain yang memicu bertambahnya santri  secara terus menerus adalah tawaran pilihan program yang semakin beragam. Dalam perjalanannya, selain mengajarkan ilmu hafalan Al-quran, Pondok Pesantren  Krapyak juga mengajarkan berbagai ilmu agama yang diserap melalui pengajian kitab kuning. Ini dimulai  ketika pada tahun 1910 KH M. Munawwir menyuruh santrinya untuk mengajar ilmu fikih kepada santri-santri lain. Hingga pada tahun 1930-1935 pengajian kitab menjadi semakin maju di bawah pengelolaan santri-santri yang ia percaya. (Asad: 2011: 25)

Perkembangan pasca meninggalnya KH. M. Munawwir adalah pengelompokan program-program pendidikan santri ke dalam madrasah-madrasah maupun komplek-komplek pemondokan. Oleh KH. R. Abdul Qodir putra KH M. Munawwir, pendidikan dan pengajaran Al-quran dikelompokkan dalam satu wadah bernama Madrasah Huffadh pada tahun 1955. Pada tahapan selanjutnya, pengajian kitab di Pondok Pesantren Krapyak juga berkembang dengan pesat di bawah asuhan KH. Ali Maksum, menantu  KH. M. Munawwir. Pengajaran kitab kuning ini dilakukan dengan metode klasikal sehingga melahirkan beberapa madrasah. Di antaranya Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah dengan masa pendidikan masing-masing tiga tahun untuk laki-laki yang berdiri tahun 1978 dan untuk perempuan pada tahun 1987 serta Madrasah Tahassus Bahasa Arab dan Syari’ah.

Pada dekade awal 1990-an santri Pondok Pesantren Krapyak telah mengalami pertambahan  signifikan. Madrasah Huffadh yang semula hanya berjulah satu berkembang menjadi Madrasah Huffadh  I dan II yang dikhususkan untuk santri putra yang hendak menghafalkan Al-quran. Kemajuan juga terlihat pada pengajaran kitab kuning dengan tetap berpedoman pada tradisi salaf. Pada era ini pengajian kitab kuning diakomodasi dalam beberapa madrasah. Yaitu Madrasah Salafiyah I, II, III, IV, dan V, perguruan tinggi ilmu salaf Al-Ma’had Al-‘Aly, Majelis Ta’lim dan Majelis Masyayikh. Perkembangan terakhir, untuk menunjang kemampuan IPTEK santri berdampingan dengan pengajaran agama, pada tahun 2004 PP. Al-Munawwir bekerja sama dengan SMK Ma’arif I Kretek Bantul membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan otomotif dan tata busana. Bersamaan dengan perkembangan madrasah dari masa ke masa, komplek pemondokan untuk tempat tinggal santri juga terus mengalami pertumbuhan. Tempat tinggal santri yang pada masa awal berdirinya Pondok Pesantren Krapyak hanya berupa gothakan atau kamar tempat tinggal santri lama kelamaan berkembang menjadi komplek-komplek yang dapat menampung puluhan hingga ratusan santri. Komplek-komplek  di Krapyak yang dinamakan sesuai urutan abjadiyah kini telah mencapai 25 komplek dengan total  2000-an orang santri. (sajadah.co)

Sumber : Skripsi Khalimatu Nisa berjudul Kuasa Simbolik dalam Tradisi Haul (Studi Kasus HaulKH. M. Munawwir di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta) 2016 di Jurusan Politik Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *