Kontes Blog Cinta Mata Uang Rupiah
Sumber foto: www.sajadah.co

Sumpah Rupiah

Posted on

Kontes Blog Cinta Rupiah

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tanggal 28 Oktober 2017 kemarin, kita baru saja memperingati hari sumpah pemuda. Sumpah para pemuda yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pergerakan nasional. Sumpah tersebut dikumandangkan para pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928, 17 tahun sebelum kemerdekaan.

Tidak ada yang menyangkal bahwa Sumpah Pemuda adalah salah satu tonggak penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Uniknya, bahasa dimasukkan oleh para pemuda dalam sumpahnya karena merasa bahwa bahasa merupakan elemen penting bagi sebuah nation state. Mereka menggangap bahasa terlalu penting untuk disepelekan karena turut membentuk identitas kebangsaan. Bahkan menyamai tanah air dan bangsa.

Namun, kadang, saya terbersit pikiran nakal di benak saya. Kenapa rupiah yang menjadi mata uang resmi Indonesia? Akan tetapi, segera saya sadar bahwa saat itu Indonesia belum memiliki mata uang resmi. Maklum, ketika sumpah pemuda dikumandangkan, Indonesia masih terjajah.

Awalnya, Indonesia menggunakan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) yang diresmikan pada 30 Oktober 1946 dan digunakan antara tahun 1945 hingga 1949. Mata uang rupiah baru diresmikan pada tanggal 2 Novemberl 1949. Namun, saat itu pun, Irian Barat dan Kepulauan Riau belum menggunakan rupiah yang resmi, masih menggunakan variasi rupiah. Penggunaan variasi rupiah di Kepuluan Riau baru dihapuskan pada tahun 1964. Sedangkan di Papua, penghapusan ini baru bisa terlaksana pada tahun 1974.

Membayangkan Rupiah

Benedict Anderson dalam buku yang berjudul  Komunitas-komunitas Terbayang mengatakan bahwa bangsa tidak lain adalah komunitas yang dibayangkan. Meski tidak saling kenal, penduduk bangsa Indonesia dapat membayangkan bahwa mereka memiliki saudara setanah air di seluruh penjuru Indonesia. Mereka memiliki kesetiakawanan dan rasa persaudaraan yang begitu kuat yang bahkan membuat mereka rela mengorbankan nyawa untuk melindungi komunitas yang mereka bayangkan, yang tidak lain adalah bangsa Indonesia.



Nasionalisme Indonesia, menurut Anderson juga disokong oleh kapitalisme media yang sedang berkembang pada awal abad ke-20. Gagasan-gagasan tentang kemerdekaan tersebar melalui media yang ada pada waktu itu. Sedangkan, bahasa melayu yang menjadi embrio bahasa Indonesia menjadi sarana perekat yang menghubungkan para anak negeri untuk dapat membayangkan saudara-saudaranya yang memiliki nasib yang sama di bumi nusantara. Tanpa media yang ada saat itu, hampir mustahil gagasan-gagasan cemerlang para founding father untuk kemerdekaan bangsa Indonesia dapat tersebar luas.

Oleh karena itu, wajar apabila di kemudian hari, bahasa Indonesia menjadi salah satu elemen penting yang dimasukkan para pemuda dalam sumpahnya. Sebab, berkat perangkat komunikasi satu ini, putra-putri bangsa dari Sabang hingga Merauke dapat membayangkan saudara sebangsanya yang senasib seperjuangan. Bahasa dibayangkan dan disetarakan oleh mereka dengan bangsa dan tanah air sebagai elemen penting pembentuk nasionalisme.

Seandainya, sekali lagi seadainya sumpah pemuda dikumandangkan setelah Indonesia merdeka dan memiliki rupiah sebagai mata uang nasional, barangkali rupiah akan dimasukkan oleh para pemuda sebagaimana tanah air, bangsa dan bahasa. Sebab, mata uang yang digunakan tentu dapat membangkitkan pembayangan para anak negeri ini bahwa mereka juga memiliki saudara senasib yang menggunakan mata uang yang sama.

Apalagi, di tengah kehidupan yang serba uang, yang bahkan untuk ke toilet pun kadang harus membayar, uang adalah elemen penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain bahasa, mata uang rupiah juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari warga negera Indonesia. Bahkan, sejak diresmikan, dapat dikatakan bahwa mata uang rupiah lebih unggul ketimbang bahasa Indonesia.

Penggunaan mata uang rupiah lebih banyak dan lebih merata di Indonesia dibandingkan bahasa Indonesia. Sebab, tidak semua warga Negara Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian mereka. Akan tetapi, mereka pasti menggunakan mata uang rupiah sebagai alat tukar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Oleh karena itu, mata uang rupiah juga turut membentuk identitas kebangsaan kita.

Seandainya sumpah pemuda hendak direvisi atau ditambahi, barangkali bunyinya akan menjadi seperti ini:

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung dan menggunakan mata uang persatuan, mata uang rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *