syarat haji
Sumber foto: https://www.thesun.co.uk

Syarat-syarat Haji yang Wajib Anda Ketahui

Posted on

Syarat Haji – Mengenai syarat haji,[1] ada dua syarat sah haji: waktu dan Islam.[2] Adalah sah, haji seorang anak kecil dan dia bisa menjalankan ihram sendiri apabila sudah tamyiz. Jika masih kecil, maka yang menjalankan ihramnya adalah walinya sendiri. Dia atau walinya, selanjutnya, melakukan apa yang harus dilakukan selama beribadah haji seperti thawaf, Sa’i dan rukun-rukun lainnya.[3]

Sedangkan waktu pelaksanaan haji adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah dan 9 hari di bulan Dzulhijjah, sampai terbit fajar hari raya Kurban.

Barang siapa melaksanakan ihram dengan niatan haji selain pada masa-masa ini, maka ibadahnya menjadi umrah.[4] Sepanjang tahun adalah waktu pelaksanaan umrah. Namun orang yang sedangkan beribadah haji pada hari-hari menetap di Mina, tidak seyogyanya ia mengerjakan ihram umrah. Karena mustahil baginya beribadah umrah setelah melaksanakan ihram karena posisinya saat itu sedang melaksanakan manasik haji di Mina.[5]

Baca Juga : Rukun-rukun Haji yang Wajib Anda Ketahui

Baca Juga : Larangan-larangan Haji dan Umrah yang Wajib Anda Ketahui

Adapun syarat-syarat terhitungnya haji sebagai haji Islam (haji fardhu) adalah lima: Islam, merdeka, baligh, berakal dan waktu.[6]

Apabila anak kecil atau hamba sahaya melaksanakan ihram, lantas yang pertama menginjak baligh dan yang kedua dimerdekakan ketika berada di Arafah atau Muzdalifah lalu kembali ke Arafah sebelum terbit fajar, maka yang dilakukannya itu sudah mencukupinya untuk disebut haji Islam. Karena haji adalah wuquf di Arafah.[7] Tidak ada kewajiban Dam atas keduanya selain menyembelih seekor kambing. Semua persyaratan ini juga diberlakukan bagi terhitungnya umrah sebagai ibadah fardhu Islam kecuali waktu.



Adapun syarat terhitungnya haji sebagai haji sunnah dari orang yang berstatus merdeka dan baligh adalah setelah bebas tanggungannya dari haji Islam.[8] Yang didahulukan adalah haji Islam, kemudian haji qadha’ bagi orang yang merusak ibadah hajinya ketika wuquf, lalu haji nadzar, lalu haji badal, lalu haji sunnah. Urutan inilah yang berhak dilaksanakan dan seperti itulah yang terjadi kendati seseorang meniatkan kebalikannya.

syarat haji 1
Sumber foto: https://www.vox.com

Sedangkan syarat yang mewajibkan haji ada lima: baligh, Islam, berakal, merdeka dan mampu.[9]

Barang siapa yang sudah berkewajiban haji fardhu, maka wajib pula baginya melaksanakan umrah fardhu.[10] Seseorang yang hendak memasuki Makkah untuk berziarah atau keperluan dagang dan dirinya bukan seorang penjual kayu bakar, maka diwajibkan baginya melaksanakan ihram, menurut satu pendapat, kemudian berTahallul dengan amalan umrah atau haji.[11]

Syarat haji adalah mampu. Mampu dalam hal ini ada dua jenis yaitu:

Yang pertama, mampu secara langsung. Memiliki beberapa sebab sebagai berikut.

Adapun sebab dalam dirinya, adalah sehat jasmani rohani. Sedangkan sebab dalam jalan, adalah lancar dan aman[12] tanpa dihadang laut yang berbahaya dan musuh yang menekan. Lalu sebab dalam hartanya, dia membawa bekal selama kepergian dan kepulangannya baik bersama keluarga atau tidak karena meninggalkan kampung halaman sangatlah berat dan dia juga harus meninggalkan nafkah untuk orang-orang yang harus dia nafkahi selama masa ibadahnya. Di samping itu, dia juga harus mempunyai apa yang bisa dipakai untuk melunasi hutang-hutangnya[13] dan sanggup mempunyai kendaraan atau menyewanya beserta tempat pembawanya atau beserta hewan yang tempat pembawanya diletakkan di atasnya jika memang melekat pada hewan tersebut.

Yang kedua, kemampuan orang yang lumpuh[14] dengan hartanya. Yaitu dengan membiayai orang untuk melaksanakan haji dengan mengatasnamakan dirinya setelah dia selesai menunaikan haji Islamnya. Dia cukup membiayai keberangkatannya dengan kendaraan hewannya.[15] Seorang anak ketika menyerahkan ketaatannya kepada orang tuanya yang sakit parah, maka oleh sebab itu ayahnya terhitung sebagai orang yang mampu berhaji. Seandainya dia menawarkan hartanya, maka ayahnya belum terbilang orang yang mampu. Karena berbakti dengan fisik dalam ibadah haji merupakan kemuliaan bagi anak sedangkan bila diberi harta, maka menjadi karunia bagi ayah.



Barang siapa sudah mampu, maka diwajibkan atasnya ibadah haji. Dia boleh mengakhirkannya.[16] Namun sebenarnya terdapat bahaya di balik penundaan itu. Jika gampang melaksankan haji walau di ujung hayatnya, maka gugurlah kewajiban hajinya.  Namun apabila terlanjur meninggal sebelum sempat beribadah haji, maka dia menghadap Allah sebagai orang yang mendurhakai-Nya karena meninggalkannya dan dirinya harus dihajikan dari harta warisannya,[17] kendati ia tidak mewasiatkannya, persis seperti urusan utang piutangnya. Jika dia sudah mampu pada suatu tahun namun tidak berangkat bersama jamaah dan hartanya keburu habis pada tahun itu sebelum keberangkatan para jamaah, lalu dia meninggal, maka dia menghadap Allah tanpa menanggung kewajiban haji.

Barang siapa keburu meninggal dunia dan belum berhaji padahal mudah baginya untuk melakukannya, maka urusannya amat berat di sisi Allah. Sahabat Umar pernah berkata, “Sungguh aku bercita-cita mengeluarkan kebijakan di setiap kota untuk menarik pajak jizyah atas setiap orang yang sudah mampu berhaji namun tidak melaksanakannya.”[18]

Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Ibrahim An-Nakhai, Mujahid dan Thawus, “Seandainya aku mengetahui orang kaya raya  yang sudah diwajibkan beribadah haji kemudian meninggal sebelum melaksanakannya, aku tidak akan mensholatinya.”[19]

Salah seorang dari mereka mempunyai tetangga yang bergelimang harta kemudian meninggal namun belum menjalankan ibadah haji, akhirnya dia tidak mensholatinya.[20]

Ibnu Abbas pernah mengatakan, “Seseorang yang meninggal dan belum membayar zakat[21] dan belum beribadah haji, niscaya meminta untuk dikembalikan ke dunia.” Lalu dia membaca ayat,

“Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia, agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (Al-Mukminun: 99-100) Menurutnya, maksud ayat tersebut adalah haji.



Demikianlah syarat-syarat haji yang wajib anda ketahui sebelum anda melaksanakan ibadah haji.

Tulisan mengenai syarat haji ini diambil dari buku yang berjudul Rahasia Haji & Umrah yang diterbitkan oleh Turost Pustaka pada Oktober 2017. Buku ini merupakan terjemah dari kitab Asrorul Hajj karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali

Footnote Syarat Haji:

[1] Ada orang yang sudah wajib haji dan ada pula yang belum. Bagi yang belum wajib haji, ada orang yang haji wajibnya gugur setelah dia haji pada masa dia belum wajib dan ada pula yang haji wajibnya tidak gugur kendati dia sudah haji. Bagi orang haji wajibnya tidak gugur , ada orang yang sah pelaksanaan hajinya dan ada pula yang tidak sah. Orang yang tidak sah pelaksanaan hajinya, adakal

[2] Tidak sah haji yang dilakuakn orang kafir, sama seperti puasa, shalat dan ibadah lainnya. Ada satu syarat tambahan agar haji menjadi sah, yaitu tamyis. Tidak sah apabila orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz melaksanakan haji seperti ibadah-ibadah lainnya.

[3] Berbeda dengan Abu Hanifah yang tidak memperbolehkannya. Tidak syaratkan harus merdeka. Sebaliknya, sah apabila seorang budak menyelenggarakan hajinya sendiri seperti ibadah lainnya.

Dalam kitab Al-Mabsut karangan sahabat kami, dikatakan bahwa seumpama anak kecil yang sudah berakal ihram sendiri atau diihramkan ayahnya, maka dia sudah menjadi muhrim.  Hendaknya dia melepas baju dan pakaian dan menggantinya dengan sarung dan selendang.

[4] Menurut Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, melaksanakan ihram dengan niat haji terselenggara pada selain bulan haji, hanya saja hukumnya makruh.

[5] Seperti mabit di Mina. Imam Malik berkata, “Salah satu hak manasik itu adalah dilakukan hanya pada masa tahalul (di luar masa ihram). Setelah berlalu nafar awal, dia boleh ihram karena gugurnya sisa melempar jumrah yang belum dilakukannya.”

[6] Dalil yang turut memperhitungkan merdeka dan baligh sebagai syarat haji wajib adalah riwayat hadits yang mengisahkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja anak kecil yang melaksanakan haji kemudian baligh, maka dia tetap wajib haji sekali lagi. Dan siapa saja hamba sahaya yang melaksanakan haji kemudian merdeka, maka dia juga wajib haji sekali lagi.”

Artinya, haji adalah ibadah seumur hidup yang kewajibannya tidak berulang. Jatuhnya haji wajib pada kondisi yang sempurna. Adapun waktu merupakan syarat bagi keabsahan haji secara mutlak sekaligus syarat terselenggaranya haji wajib.

[7] HR. Ahmad, imam empat, Al-Hakim dan Baihaqi dari hadits Abdur Rahman bin Ya’mar,  “Haji adalah wuquf di Arafah. Barang siapa datang sebelum terbit fajar di malam jama’ (Muzdalifah), maka sesungguhnya dia telah mendapatkan haji.”

[8] Dalam redaksi lain tertulis “Maka haji sunnah itu setelah bebas tanggungannya dari haji Islam. Barang siapa memiliki tanggungan haji Islam, maka haji wajib ini harus didahulukan.”

Artinya, orang yang berkewajiban melaksanakan haji Islam, tidak boleh melakukan haji yang lain. Begitu juga dengan orang yang memiliki kewajiban haji nadzar atau haji qadha’. Imam Malik dan Abu Hanifah mengatakan bahwa boleh melaksanakan haji sunnah sebelum menunaikan haji fardhunya.  Begitu juga boleh bagi orang yang memiliki kewajiban haji untuk berhaji bagi orang lain.” Hadits yang diriwayatkan dari Ahmad menjelaskan pandangan madzhab Syafi’i. Pegangan dalil pengikut madzhab Syafi’i adalah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW mendengar seseorang berkata, “Aku memenuhi panggilanmu mengganikan Syibramah.” Nabi bertanya, “Siapa Syibramah?” Dia menjawab, “saudaraku atau kerabat dekatku.” Nabi bertanya lagi, “Apakah kamu sudah menghajikan dirimu sendiri?” Dia menjawab, “Tidak.” Lalu Nabi bersabda, “Hajikan dirimu kemudian baru hajikan Syibramah.”



Hadits di atas menerangkan bahwa adalah keniscayaan untuk mendahulukan kewajiban haji atas dirinya sendiri sebelum haji badal menggantikan orang lain. Haji fardhu harus diutamakan sebelum haji lainnya. Begitu juga dengan umrah, apabila wajib, maka hukumnya sama seperti haji wajib.

[9] Haji tidak wajib atas orang kafir, anak kecil, orang gila, hamba sahaya dan orang yang tidak mampu.

[10] Ada dua pendapat ulama tentang terhitungnya umrah sebagai salah satu kewajiban Islam. Yang paling shahih adalah apa yang dianut oleh Imam Ahmad bahwa umrah itu termasuk kewajiban Islam. diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya umrah seperti temannya dalam Al-Qur’an, ‘Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.’”

Rasulullah SAW bersabda, “Haji dan umrah merupakan dua kewajiban.”

Sedangkan pendapat kedua dianut oleh Abu Hanifah bahwa umrah hukumnya sunnah berdasarkan riwayat yang menyatakan bahwa Nabi pernah ditanya apakah umrah itu wajib, beliau menjawab, “Tidak wajib, umrah yang kamu lakukan adalah kebaikan untukmu.”

[11] Imam An-Nawawi berkata, “Barang siapa bermaksud mendatangi Makkah bukan untuk ibadah, maka disunnahkan untuk tetap berihram dengan niat haji atau umrah. Dalam satu pendapat, diwajibkan tidak masuk berulang-ulang seperti tukang kayu dan pemburu.”

Dalam syarahnya atas kitab Shahih Muslim, dia mengatakan bahwa apabila memasuki Makkah atau tanah haramnya karena suatu keperluan, maka jangan mengulanginya untuk berniaga, berkunjung atau yang lainnya. Ulama berbeda pendapat tentang kewajiban ihram dengan haji atau umrah. Ada dua pendapat Imam Syafi’i dan yang paling shahih hukum ihram itu sunnah. Adapun pendapat kedua menyatakan wajib dengan syarat tidak memasuki Makkah untuk berperang dan karena takut terjadinya perang.

[12] Aman di sini meliputi tiga hal yaitu: nyawa, kehormatan dan harta benda.

[13] Pengarang kitab ini menyiratkan bahwa perbekalan adalah sisa dari hutang yang telah dilunasi. Jika hutangnya harus kontan, maka harus segera dilunasi dan hajinya bisa ditunda. Adapun jika hutangnya berangsur-angur, maka apabila uangnya dipakai haji, maka hutangnya akan ditangguhkan lagi dan dia tidak mendapati harta yang bisa dia pakai untuk melunasi hutangnya, lalu keinginan melunasinya jadi hilang dan teap menjadi tanggungannya.

[14] Kata ma’dhub adalah orang sakit parah yang sudah tidak bisa bergerak lagi.

[15] Dengan syarat hartanya di luar harta yang dipakai untuk menafkahi keluarga selama mengupahi orang untuk menghajikannya dan tidak terhitung setelah selesai hajinya orang yang diupahinya hingga kepulangannya.

[16] Sebagaimana diperbolehkan mengakhirkan shalat hingga akhir waktu. Begitu juga mengakhirkan haji hingga akhir hayat. Pendapat ini dianut oleh Muhammad bin Al-Hasan. Imam Malik, Imam Ahmad dan Al-Muzni mengatakan bahwa haji harus langsung dilaksanakan apabila sudah mampu. Pendapat ini dianut oleh Abu Yusuf. Inilah riwayat yang paling shahih dari dua riwayat yang berasal dari Abu Hanifah.

[17] Kewajiban haji tidak hilang meskipun dia telah meninggal. Dia wajib dihajikan dari harta warisannya.

[18] Seperti yang diriwayatkan oleh pengarang kitab Al-Qut , Sa’id bin Manshur dan Al-Baihaqi dari beberapa jalur riwayat. Redaksi dari Sa’id berbunyi, “Sungguh aku bercita-cita mengirim urusan ke kota-kota ini supaya melihat setiap orang yang sudah berkewajiban haji namun tidak menunaikannya lalu menarik pajak jizyah darinya.”

Sedangkan redaksi Al-Baihaqi berbunyi, “Sesungguhnya Umar berkata, “Hendaklah memilih meninggal sebagai orang Yahudi atau Nasrani  (diucapkannya sampai sampai tiga kali) prang yang meninggal tapi belum haji padahal sudah mampu dan sanggup melakukannya.” HR. Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Waki’ dari Syu’bah dari Al-Hakam, dari Adi bin Adi dari ayahnya, bahwa Umar bin Al-Khathab berkata, “Barang siapa meninggal dalam keadaan kaya tapi tidak haji, silakan dia memilih meninggal sebagai orang Yahudi atau Nasrani.”

[19] Pengarang kitab Al-Qut meriwayatkan dan Abu bakar bin Abu Syaibah dalam Mushannaf-nya mengatakan, “Telah menyampaikan kepada kami Waki’ bin Syaibah dari Abu Al-Ma’la dari Sa’id bin Jubair bahwa dia berkata, “Andaikan aku punya tetangga kaya raya kemudian meninggal namun belum menunaikan haji, maka aku tidak mau menshalatinya.”

[20] Jarir bin Abdul Hamid meriwayatkan dari Manshur dari Ibrahim, “Al-Aswad berkata kepada salah seorang kaya raya dari mereka, ‘Seumpama kamu meninggal dan belum haji, aku tidak mau menshalatimu.’”

[21] Tidak menyerahkan harta zakat yang diwajibkan kepadanya.

Semoga tulisan mengenai syarat haji ini bisa bermanfaat dan menjadi bekal bagi yang ingin berhaji untuk mengetahui syarat-syarat haji.

(Sajadah.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *