ulid
ulid

Ulid, Gambaran Bersahaja Anak Desa

Posted on

Judul Buku      : Ulid Tak Ingin Ke Malaysia

Penulis             : Mahfud Ikhwan

Tebal buku       : 400 halaman

Penerbit           : Jogja Bangkit Publisher

Tahun terbit     : Cetakan 1, Agustus 2009

 

“Cerita Ulid, sebagaimana diduga sang guru, bukan sesuatu yang luar biasa. Ini cerita lama anak Indonesia, meski memang sedikit berbeda.” (hal. 326)

 

Ulid adalah pemuda desa yang biasa-biasa saja. Sedikit keistimewaannya adalah kegemaran membaca buku dan perbendaharaan cerita yang amat banyak gara-gara getol mendengarkan sandiwara radio. Selebihnya, ia juga mengalami apa yang dialami oleh anak-anak di desanya. Mengemari panen bengkang serta ingin menjadi pembuat gamping handal seperti orangtua mereka.

Lerok pun, seperti kebanyakan nasib desa-desa di Nusantara, juga mengalami fenomena keterdesakan khas modernitas. Lerok mulanya adalah sebuah desa penghasil gamping dan bengkoang yang tersohor mutunya. Namun, desa ini pun mesti mengalami gempuran pusaran pasar kapitalistik. Bengkoang Lerok tak lagi laris dan berharga, karena serbuan bengkoang dari daerah-daerah lain di pasaran. Gampingnya pun tak lagi mampu bersaing dengan munculnya semen putih dari kota. Di sinilah mula cita-cita orang Lerok untuk berhijrah mengadu nasib ke Malaysia.

Ulid adalah seorang terlalu bersungguh-sungguh dengan pikirannya. Ia menggenggam buah pikirnya sendiri sampai menjadi sebuah prinsip. Ia misalnya pernah berusaha minggat saat usia TK kena marah sang ibu karena hobi mendengarkan sandiwara radio. Namun, usaha ini mentah karena ia merasa lapar saat malam menjelang yang membuatnya berakhir di rumah juga. Yang agak serius, pada saat SMA, ia menemui guru idolanya untuk berbincang tentang cita-cita setelah SMA. Setelah obrolan panjang dan nasihat dari sang guru, ia pun memutuskan untuk menjadi seorang pemulia tanaman. Sebuah cita-cita yang sejalan dengan kesukaannya pada tanaman bengkoang.

Novel ini terdiri dari lima bagian, fragmen-fragmen perkembangan kehidupan Ulid. Ulid Asyik Bermain, Ulid Terlalu Banyak Bermain, Ulid Masih Ingin Bermain, Ulid Tak Lagi Bermain, Ulid Tak Main-main. Bagian-bagian itu seolah ingin melukiskan perkembangan dari si Ulid kecil sampai si Ulid dewasa yang akhirnya memutuskan untuk merantau ke Malaysia. Ada sedikit campuran kisah cinta sang tokoh dalam karya ini, antara Ulid dan Juwairiyah. Namun, ini tidak ditempatkan sebagai pusat narasi, serta digarap dengan tanpa mengebu-gebu. Membaca Ulid Tak Ingin Ke Malaysia (selanjutnya disingkat, UTIM) berarti berusaha memeriksa ulang pandangan atas desa. UTIM berkisah tentang sebuah desa di lereng pegunungan penghasil gamping dan bengkoang bernama Lerok. Tentu saja kisah seorang Muhammad Maulid, atau Ulid, dengan kecamuk pikirannya semenjak bocah sampai menjadi lelaki dewasa.

Kekuatan karya ini, di antaranya adalah, kemampuan penulis untuk memakai ungkapan bahasa khas kultur desa. Perumpamaan-perumpamaan seperti sepenanakan nasi, sepenghisapan batang rokok dan lainnya akan sering pembaca dapati. Selain itu, metafora hasil kembara bacaan si Ulid pun muncul di mana-mana, misalnya “seperti pendekar yang membuang pusakanya karena lelah dengan dunia persilatan”, “pendekar yang mendapatkan senjata pusaka setelah melanglangbuana.” Selain itu, tentu saja detail kisah yang begitu apik menjadikan karya ini punya satu nilai tambah lagi.

Baca Juga : (Review Buku) Para Pejuang Badai Kekuasaan

Baca Juga : (Review Buku) Mencari Tanah Kelahiran : Kisah Mengindonesiakan Anak-anak Timor Leste

Pembaca yang mengharapkan konflik-konflik terlalu dramatis dan mengundang air mata mungkin akan kecewa. Masalah-masalah yang mestinya dianggap besar oleh orang kebanyakan, ditanggapi oleh biasa dan gagah saja oleh Ulid. Ulid menghadapi kenyataan bahwa sang ayah mesti pergi ke Malaysia, si ibu juga, dengan sumarah dan tetap tegak. Saat sang pacar, Juwairiyah, menikah dengan oranglain pun dia dapat melewatinya dengan mulus. Meskipun seperti layaknya lelaki patah hati, ia juga tersentak kaget dan sedih sesaat. Si tokoh mengalami tikungan-tikungan takdir yang amat membanting, yang membuatnya tahan banting.



Proses pembentukan karakter kuat si Ulid inilah yang tersebar dalam novel ini. “Kawah Candradimuka”-nya Ulid adalah kehidupan keluarga dan di desanya. Desa membuat Ulid berpikir bahwa dirinya tidak sendirian menanggung kesulitan. Apa yang dialaminya itu biasa-biasa saja, tidak unik. Kawan-kawannya pun ditinggalkan oleh orangtuanya merantau ke Malaisya, jadi tidak ada alasan kuat untuk prihatin berlebih. Saat Juwairiyah harus menikah dengan oranglain pun, Ulid berpikir tentang kisah-kisah cinta yang ia baca dan dengar. Semua kisah cinta tak mesti berakhir bahagia berdua, namun tetap bisa dihadapi dengan tegar dan bahagia.

Ada satu komentar yang agak nylekit bagi buku ini di sebuah laman internet ulasan UTIM. Kata si empunya komentar, buku Ulid ini terlalu serius. Orang sudah lelah didera kesulitan, ya mbok bikin buku yang ringan-ringan dan memberi semangat inspiratif begitu. Saya kira orang itu agak berlebihan perihal persoalan hidupnya. Lha Ulid saja yang ditinggal emak dan bapaknya ke Malaysia bisa bicara, “Biasa sajalah. Tidak perlu dipikirkan berlebihan.” Yakin saja, ini buku apik yang akan memperkaya batin pembaca. Tak perlu banyak pikiran lain. UTIM memang tidak ingin memberikan gambaran yang melodramatik dan heroik tentang anak desa. Karya ini hendak menyatakan kepada kita tentang pergulatan orang-orang desa tanpa perlu diembel-embeli emosi berlebih. Itu saja.

Pun menurut saya, Mahfud Ikhwan adalah salahsatu novelis Indonesia yang konsisten dan serius dalam menulis. Ia konsisten menggarap tema kehidupan masyarakat desa. Keseriusannya terlihat dalam kemampuannya menyajikan detail deskripsi dan konteks untuk setiap ceritanya. Selain cerpen-cerpen di awal kariernya, dia juga telah menyelesaikan novel Gung, Lari Gung! dan tentu saja Kambing dan Hujan yang menyabet juara pertama Sayembara Novel DKJ 2014. Ulid Tak Ingin Ke Malaysia adalah novel keduanya yang digarap dari 2004 sampai 2009.

Mungkin buku ini luput dari pandangan pembaca karena sampul dan ukuran bukunya yang tidak meyakinkan. Namun pepatah lama, jangan menilai buku dari sampulnya amat berlaku untuk karya ini. Buku ini pun telah berumur hampir lima tahun. Namun, layak-bacanya sebuah buku tentu tidak ditentukan berapa lama umur buku tersebut. Mutu sang buku lah yang jadi penentu. Dan saya yakin Ulid Tak Ingin Ke Malaysia sudah melunasi syarat itu. (sajadah.co)

 

Oleh : M. Nafi dalam Majalah Kagama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *