Sumber foto : news.okezone.com

Universitas Sambel Tempe untuk Kedaulatan

Posted on

Universitas Sambel Tempe untuk Kedaulatan – Fakultas ekonomi menghasilkan ekonom, fakultas kedokteran menghasilkan dokter, berarti, fakultas pertanian menghasilkan petani. Lantas, untuk apa masuk perguruan tinggi dengan biaya mahal kalau hanya ingin menjadi petani? Edhi Martono, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM dalam tulisannya yang berjudul Apakah Fakultas Pertanian Menghasilkan Petani? berpendapat bahwa memang demikianlah seharusnya. Fakultas pertanian haruslah menghasilkan petani intelektual yang memahami perannya dalam kehidupan bangsa. Juga tidak boleh lupa mencetak akademisi-ahli serta praktisi pertanian sebagai manifestasi keterpisahan dari ‘petani’ dan ‘intelektual’. Tidak hanya ‘birokrat’ petani seperti kecenderungan selama ini.

Kalau demikian, dapat ditebak, barangkali hanya satu dua atau bahkan sudah punah cita-cita dalam benak dan mimpi dalam angan-tidur anak sekolah untuk menjadi petani. Apalagi bila untuk bermimpi saja harus membayar dulu dengan bersekolah. Sedang orang tua mereka, tentu tidak ingin anaknya melanjutkan kehidupan tak menentu nan susah sebagaimana dirinya. Tidak seperti ekonom ataupun dokter yang sudah tentu uang dan hidupnya, maka dari itu anak mereka disekolahkan dengan sawah dan hutang sebagai biayanya.

Hidup sebagai petani di Indonesia memang susah. Meskipun setiap tahun pemerintah seolah terobsesi dengan kedaulatan pangan, soal pangan beserta para pahlawan pangan alias petani senantiasa dinomordua-tiga-empat-lima-enamkan. Belum terhitung ancaman penggusuran demi keberlangsungan industri-industri yang konon dan katanya, penuh janji.

Jadi, maklum saja bila tidak ada atau katakanlah hanya segelintir sarjana pertanian yang mau menanggung kesusahan dan kerja kasar seperti itu. Apalagi di tengah kecenderungan kalangan akademisi yang sedang giat ‘mengasongkan’ ilmunya demi kelimpahan materi, rasanya, asketisme intelektual hanya mampu bersembunyi di pojok nurani atau bumi dan malu menampakkan diri. Maklum, biaya kuliah mahal, jadi harus mengembalikan modal. Syukur-syukur kalau untung.

Padahal, bila melihat peluang, asketisme intelektual bisa menjadi peluang bagi kedaulatan pangan Indonesia. Di mana para sarjana yang menyingsingkan lengan bajunya dengan segenap keilmuan yang dimilikinya dapat menjadi senjata ampuh untuk mengefisienkan, mengindustrikan, mengkomodifikasikan, pendeknya, memodernkan pertanian Indonesia hingga mampu bersaing di kancah global. Bukankah negara-negara maju telah melakukannya? Kok tumben-tumbennya kita tidak meniru mereka? Apabila mau meniru, jangan lupa local wisdom yang kita punya agar tidak “kebablasan” mabuk modern-nya dan tidak dikira negara maju-mundur.

Sejarawan Onghokham pernah mengusulkan seperti itu untuk tempe dalam tulisannya, Tempe: Sumbangan Jawa untuk Dunia. Ia melihat bahwa tempe ialah hasil kreasi kesejarahan yang otentik dari peradaban manusia Jawa-Indonesia dengan sedikit bantuan Cina. Oleh karena itu, menurutnya, sebelum dicaplok hak patennya dan dikomodifikasikan oleh negara lain, alangkah baiknya kalau kita segera “memodernkannya” dan memasarkannya.

Bukan apa-apa, mumpung globalisasi, daripada nanti dikira mengurung diri seperti ayam kedinginan kan repot. Sebab globalisasi adalah di mana sekat-sekat antar negara semakin terbuka terutama dengan peran sarana-sarana komunikasi-informasi sehingga manusia di dunia dapat melipat ruang-waktu, saling bergaul, bersentuhan, dan mempengaruhi satu sama lain. Take and give. Yang lemah terus-terusan take, yang kuat-kuasa terus-terusan give. Kan tidak pernah ada ceritanya sego pecel mendunia layaknya McDonald ataupun KFC di seantero dunia kecuali hanya dalam cerpen fiksi karangan manusia edan.

Jadi, pertanyaan sekaligus tawarannya adalah, masih adakah sarjana pertanian yang mau mengabdikan keilmuannya dengan menjadi petani intelektual dan (meng)hidup(i) asketis(me) (intelektual) demi kedaulatan pangan bangsa-negara (nation-state) ini? Saya yakin belum ada yang mau. Jadi, lebih baik menserius-guyoni usulan Onghokham saja dengan berusaha memaksimalkan tempe. Tapi kalau cuma makan tempe kok rasanya kurang enak. Bagaimana kalau Sambel Tempe? Agar serius, kita harus mendirikan Universitas Sambel Tempe untuk kedaulatan Indonesia. Enak bukan? Sudah berdaulat, bonus intelektual tempe plus makan sambel tempe. Sedap! (sajadah.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *