film senyap
Sumber gambar : filmsenyap.com

Yang Hilang dalam Senyap

Posted on

Ada dua yang hilang dalam film Senyap. Pertama, Ramli.Ia diculik lantas dibantai tanpa ampun bersama ribuan—bahkan konon jutaan—tertuduh PKI lainnya. Kedua, potongan-potongan narasi dalam film ini sendiri.

Kehilangan pertama adalah fakta kelam dalam sejarah. Sedangkan kehilangan yang kedua—seperti jamaknya cerita-cerita yang tak utuh—melahirkan prasangka.Tulisan ini akan memfokuskan perhatian pada “dua kehilangan” tersebut.

Pertama, tentang Ramli yang diculik, disiksa, dilemparkan ke suangai, namun ternyata masih hidup dan berhasil melepaskan diri, lalu mengais-ngais tanah, menggedor pintu rumah, sampai ke hadapan ibunya sambil mengaduh memelas minta dibikinkan secangkir kopi. Tapi sebentar saja. Sebab sekelompok jagal—tentu di bawah arahan tentara—kembali menjemputnya dirumah. Ramli dinaikkan ke atas truk, lantas dibantai sampai mati, sebelum sempat mewujudkan permohonan terakhirnya: meneguk secangkir kopi.

Selanjutnya, si ibu harus berjalan melewati peristiwa itu. Iatetap melanjutkan hidup, mengurus suami, melahirkan anak lagi, membesarkan anak lagi. Dan semua ituharus dijalani berdampingan dengan warga kampung yang mebantai anak lanang kesayangannya. Wacana yang diangkat Joshua lewat film ini patut diapresiasi. Ia menyajikan kembali peristiwa-peristiwa mengerikan seputar ’65 yang sudah sekian lama menjadi borok namun terus ditutup-tutupi.

Ramli dan Luka Sejarah Indonesia

Lewat penelusuran para pembantai mendiang Ramli, mata kamera Joshua membawa serta jerit tangis kerabat, keluarga, dan sanak famili jutaan korban ’65. Sebab dalam konteks yang lebih luas, Ramli adalah representasi dari para korban pembantaian yang mewarnai perjalanan sebuah bangsa.

Ketika Ramli dan ratusan ribu—bahkan konon jutaan—korban peristiwa ’65 dihabisi, tampuk kekuasaan mulai melenggang ke pangkuan Orde Baru. Ramli adalah satu dari ratusan ribu, mungkin jutaan, korban yang ditimbun sebagai fondasi kekuasaan Orde Baru. Lantas siapakah pelakunya?

Di sini kita perlu berhenti sejenak. Jangan-jangan, ada kesesatan pikir saat kita menyebut siapa korban siapa pelaku. Dalam peristiwa pelik seperti tragedi ’65, ada begitu banyak lubang yang rawan membuat logika kita terperosok. Baiknya kita mengingat-ingat kembali konteks sejarah luput dalam film ini.



Senyap(The Look of Silence) adalah karya kedua Joshua. Sebelumnya, ia sudah mengeluarkan The Act of Killing (Jagal). Baik Jagal maupun Senyap sama-sama mengangkat tema pembantaian yang terjadi di seputar tahun ’65, pasca pecahnya Gerakan Satu Oktober(Gestok). Maka, pemahaman akan apa yang terjadi di tahun-tahun kelam itu, mau tidak mau, harus menjadi lanskap dalam meresepsi informasi yang disajikan dalam film ini.

Yang menjadi persoalan, pengetahuan seputar tragedi ’65, bagi sebagian orang, terutama generasi kekinian, sangatlah memprihatinkan. Generasi ini pula yang menjadi penonton setia dua film Joshua.

Saya misalnya, generasi yang lahir di tahun 90-an, dihadapkan pada berbagai versi seputar peristiwa tersebut. Tentu hal ini wajar. Sebab, untuk peristiwa yang tidak sensitif sekalipun, sejarah selalu penuh dengan kepentingan—dan hasilnya, menampakkan banyak wajah. Biarpun begitu, beberapa pertanyaan tetap harus dijawab: Mengapa PKI—yang awalnya adalah partai resmi dengan jutaan pengikut, bahkan perwakilannya sempat menduduki posisi penting di parlemen—dan  orang yang tertuduh memiliki hubungan dengan PKI diburu dan dibasmi? Jika alasannya politis, mengapa konflik itu bisa merambat ke tataran akar rumput di pelosok-pelosok desa, jauh dari hiruk pikuk para elite di Jakarta?

Demi mencari secercah titik terang, ada baiknya kita meruntutkan beberapa peristiwa. Akar dari pembantaian di seputar ’65 adalah Gerakan Satu Oktober 1965. Secuplik peristiwa sejarah itu bisa kita telisik dari uraian sejarawan Asvi Warman Adam, dalam Soeharto File: Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Di antara sekian banyak versi sejarah yang dilontarkan para sejarawan terkait peristiwa ‘65, ada satu hipotesis yang paling kuat. Sebagian besar sejarawan menyepakati bahwa peristiwa ’65 dan pembantaian yang mengikutinya adalah bagian dari skenario kudeta merangkak yang digencarkan Soeharto.

[…] Dalam periode pertama, Soeharto yang pada mulanya diragukan oleh banyak orang untuk memimpin bangsa ini berusaha menumbuhkan kekuasaannya secara perlahan-lahan.Begitu mendapat mandat dari Presiden Soekarno untuk memulihkan keamanan 11 maret 1966 ia langsung membubarkan PKI keesokan harinya. Bulan-bulan berikutnya adalah pembantaian terhadap orang-orang yang dicurigai menjadi anggota partai ini, yang jumlah korbannya diperkirakan antara 400 ribu sampai sejuta orang.

Kita bisa saja berdebat tentang siapa dalang Gestok yang melahirkan kebencian massal terhadap PKI. Juga, soal siapa yang paling diuntungkan dari serentetan peristiwa itu. Yang pasti, ribuan orang yang mati dibantai di pelosok-pelosok desa itu mungkin tidak terlalu tahu-menahu soal hiruk-pikuk politik yang membuat mereka diburu dan dibantai.Pun jika tahu, mereka tak harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan elite partai nun jauh di Jakarta sana. Tanpa pernah meminta persetujuan mereka.

Alih-alih, orang-orang yang selama ini berada di sekeliling dan hidup berdampingan dengan mereka sudah berubah menjadi pemburu yang menakutkan. Mereka tiba-tiba menjadi seekor tikus, hama yang harus diburu lantas dibinasakan. Dan, seperti yang terekam dari penjelasan para pelaku, para pemburu manusia itu bekerja atas perintah tentara.



Setelah peristiwa itu berlalu, tentara bertukar pos tugas, elite-elite politik sibuk dengan urusan-urusan baru.Sementara di pelosok-pelosok desa, para pemburu manusia tadi hidup berdampingan dengan keluarga, sanak, dan famili dari orang-orang yang dulu mati di ujung tebasan parang mereka. Begitupun para kerabat korban. Masing-masingpihak memikul beban sejarah yang tak sepenuhnya mereka pahami. Maka, dalam lanskap sejarah, di ruang narasi yang lebih luas, pemahaman tentang siapa korban siapa pelaku tampaknya perlu kita sematkan dengan lebih hati-hati.

Kiranya narasi besar inilah yang hilang dalam Senyap. Scene demi scene gambar yang dihadirkan mengantarkan kita pada cerita-cerita baru yang sama sekali lepas dari konteks. Adegan demi adegan itu, khususnya bagi generasi kekinian yang tak mengenal konteks sejarahnya, tak lain hanya berisi etalase kekejaman. Mungkin dampaknya seperti menonton film horor atau thriller yang diberi label “Based on True Story”.Sekali lagi, mungkin.

Menonton Orang Menenggak Darah

Agaknya sulit untuk menyebut Senyap sebagai sebuah karya dokumenter, mengingat begitu banyak adegan yang terlepas dari keseluruhan cerita dan jelas-jelas diarahkan si sutradara. Seakan mengakomodasi penonton Indonesia, adegan-adegan seperti sinetron pun menjadi sajian dalam film ini. Misal, di salah  satuscene terlihat Adi dan isterinya duduk di atap sebuah bangunan tua, berbicara dengan latar matahari terbenam dan langit kemerahan. Juga beberapa scene yang menggambarkan Adi bermain-main dengan puteri kecilnya. Entah apa kaitannya dengan isi cerita.

Toh, upaya mengungkap sejarah/ peristiwa melalui film dan meracik sebuah film memang dua hal berbeda. Setidaknya, sebagai seorang sutradara, Joshua bisa dibilang sukses besar. Kedua filmnya mengusik banyak pihak. Bahkan, sekelompok orang yang tak jelas rimbanya ikut terusik lantas merasa perlu menggeruduk tempat-tempat pemutaran film. Sebenarnya, sebagai sebuah film, apa yang membuatnya seakan begitu istimewa?

Jika diamati dengan seksama, alur ceritan dalam Senyap sebetulnya sederhana. Lewat tokoh utama, Adi, adik mendiang Ramli, mereka yang dulu terlibat dalam pembantaian di seputar tahun ’65 diajak kembali ke masa lalunya. Ibu Ramli, yang masih sehat ingatannya, diajak mengenang kembali detik-detik pembantaian Ramli. Ayah Adi, yang sudah uzur dan lupa ingatan, juga “dipaksa” mengingat kembali kekejaman yang menimpa anak bujangnya itu. “Ramli? Ramli siapa?” jawab si ayah ketika ditanyai tentang anaknya itu.

Mengulangi cerita dalam The Act of Killing, para pelaku pembantaian PKI pun diajak beromantisme dengan kekejaman di masa muda mereka. Adi yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat kacamata mengunjungi para pelaku pembantaian yang sudah memasuki usia senja. Dari pintu ke pintu Adi mencoba menemukan gambaran peristiwa pembantaian itu. Di sinilah kekejaman, sadar atau tidak, ditonjolkan sebagai daya tarik dalam film ini. Imaji-imaji tentang leher yang ditebas parang, mayat-mayat yang dibuang di sungai, juga para pembantai yang meminum darah korbannya agar tidak gila, direka ulang sedemikian rupa. Dan yang paling mengerikan dari semuanya kesadaran bahwa adegan itu betul-betul pernah dilakukan.

Percakapan-percakapan yang dibangun Adidengan para pembantai kakaknya terasa begitu tenang. Dengan amarah yang dipendam, ia sabar menuntut pengakuan dari para pembantai, sambil menunggu kata maaf keluar dari mulut mereka. Latar suasana perkampungan dibuat sunyi. Salah satu adegan dialog bahkan dilakukan dengan pencahayaan redup, suasana temaram yang terasa mencekam.

Hasilnya, persis seperti apa yang kita temui dalam film besutan Joshua Oppenheimer sebelumnya, The Act of Killing(Jagal). Kisah kekejaman pembantaian di tahun ’65 terkuak kembali dalam bingkai yang sulit dicerna dengan kacamata realis.



Sekilas, ada nuansa yang mirip dengan tayangan-tayangan reka ulang dalam program berita di televisi. Bagi anda yang pernah menonton program Reportase Investigasi, Buser, atau Sidik, Senyap pun seakan menawarkan nuansa kekerasan yang—meminjam ungkapan seorang teman—‘ngeri-ngeri sedap’. Mungkinkah kengerian dan kekejaman ini yang membuat banyak orang—sadar ataupun tidak, diakui ataupun tidak—tertarik menonton film ini?

Dugaan tersebut muncul di benak saya setelah menanyai beberapa teman yang telah menonton film ini. Sebagian besar dari mereka melontarkan komentar yang sama: “Serem!” “Ngeri” atau “Gila” dan semacamnya. Ya, hanya sebatas itu. Komentar yang juga dilontarkan orang-orang usai menyaksikan pertunjukan debus!

Meskipun demikian kita tetap boleh berharap, komentar-komentar itu adalah awal keterusikan para pemirsa, untuk selanjutnya menelusuri sendiri sepotong sejarah kelam bangsanya.  Semoga. (sajadah.co)

 

Oleh: Ibnu Hajjar A dalam Majalah Kagama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *